Google+
Loading...
BUDAYA
Penulis: Trisno S Sutanto 18:04 WIB | Jumat, 15 November 2013

Ayu Utami: Seks Tuhan dan Irasionalitas

Ayu Utami: Seks Tuhan dan Irasionalitas
Ayu Utami bersama Pdt. Stephen Suleeman sebagai moderator (Foto-foto: Trisno S. Sutanto)
Ayu Utami: Seks Tuhan dan Irasionalitas
Banyak anak muda mendengarkan paparan Ayu Utami
Ayu Utami: Seks Tuhan dan Irasionalitas
Sebagian karya Ayu Utami yang dipasarkan

JAKARTA, SATUHARAPAN.COM - Menulis itu seperti menelanjangi diri sendiri. Dengan menuliskan, sesuatu diangkat dan disadari.

Dan bagi Ayu Utami, perempuan novelis paling terkemuka sekarang, hal itu kerap mengejutkan dirinya. "Banyak hal yang tidak saya sadari sebelumnya, dan baru saya sadari setelah menuliskannya," kata Ayu ketika berdiskusi di STT Jakarta mengenai buku-bukunya hari ini (15/11). Acara yang digelar di aula STT dan dipandu Pdt. Stephen Suleeman itu tampak memancing minat banyak anak muda, baik dari STT maupun dari luar.

Salah satunya Ayu baru sadar, setelah menulis “Saman”, novel yang mendapat pujian banyak orang, ada tiga hal yang terus menerus muncul dalam karya-karyanya tanpa ia sadari sebelumnya. Pertama, soal seks. "Seks dalam novel saya bukanlah bumbu, tapi menu utama," ujar Ayu yang disambut tepuk tangan. "Saya tertarik pada soal itu karena seks menjadi masalah bagi manusia, khususnya bagi kaum perempuan."

"Sebab bagi kaum perempuan, fungsi reproduktif seks tidak sama dengan fungsi rekreatif," lanjutnya. "Artinya, seorang perempuan bisa hamil tanpa menikmati hubungan seksnya. Nah problem biologis ini tambah berat karena ditambahi oleh aneka nilai-nilai yang memperkuat pandangan itu."

Dua motif lain yang selalu muncul adalah soal Tuhan atau masalah keagamaan, dan persoalan irasionalitas. "Persoalan Tuhan atau agama selalu muncul dalam tokoh lelaki. Sementara soal seks, baik lewat tokoh lelaki maupun perempuan," kata Ayu. "Yang mengejutkan, masalah irasionalitas dalam novel saya selalu tampil dalam tokoh perempuan. Padahal saya seorang feminis."

Karena itu, Ayu jadi sadar bagimana nilai-nilai yang memojokkan posisi perempuan sangat kuat tertanam dalam dirinya juga. Mungkin itu sebabnya ia selalu tertarik pada kitab Kejadian, khususnya soal penciptaan manusia. "Itu kitab yang susah sekali dipahami, tapi sekaligus sangat luar biasa bagi saya," aku Ayu. "Terutama bagaimana relasi lelaki dengan perempuan di situ, bagaimana setelah manusia jatuh dalam dosa karena makan pohon pengetahuan birahi muncul, dstnya."

"Dalam seks, selalu ada dominasi lelaki terhadap perempuan, ada relasi subyek-obyek di mana sang lelaki mengobyekkan perempuan," lanjut Ayu. "Memang ada sih hubungan seksual yang setara, tapi sebagian besar ya lebih dominan lelakinya. Termasuk dalam hubungan suami-istri."

 

Back to Home