Google+
Loading...
HAM
Penulis: Saut Martua Amperamen 16:43 WIB | Minggu, 09 Juli 2017

3 Orang Kristen Ditangkap karena Memasak di Bulan Puasa

Ilustrasi: Umat Kristen Tanzania sedang berkumpul untuk beribadah (Foto: barnabasfund.org)

ZANZIBAR, TANZANIA, SATUHARAPAN.COM - Tiga orang Kristen Tanzania ditangkap polisi karena memasak di dapur rumah mereka sendiri pada bulan puasa lalu.

Hal ini terungkap baru-baru ini oleh sebuah badan amal Kristen, Christian Solidarity Worldwide (CSW), sebagaimana dipublikasikan oleh premier.org.uk, sebuah radio misi berbasis di London, (08/07).

CSW mengatakan Emmanuel Yohana, beserta istrinya, Katherine Emmanuel, dan seorang wanita yang diidentifikasi sebagai Khadijah ditangkap pada tanggal 16 Juni di rumah pasangan tersebut di Zanzibar saat para wanita itu menggoreng ikan di dapur.

Menurut CSW, orang-orang Kristen diberitahu bahwa mereka telah diduga melanggar hukum dengan memasak makanan selama bulan Ramadan. Petugas polisi tersebut dilaporkan secara lisan melecehkan mereka dan diduga mengatakan, "Hari ini Anda akan tahu bagaimana rasanya berpuasa".

Mereka dibebaskan tiga hari kemudian setelah intervensi oleh pemimpin gereja setempat.

Chief Executive CSW, Mervyn Thomas mengatakan, "Penangkapan ini tidak adil dan tidak beralasan. Bukan hanya karena orang-orang Kristen ini menyiapkan makanan di rumah pribadi mereka sendiri, tapi karena mereka juga adalah non-Muslim yang tidak berkewajiban untuk menjalankan puasa di bulan Ramadan."

"Selain itu, penangkapan mereka melanggar ketentuan dalam konstitusi Tanzania yang mengakui hak kebebasan beragama atau berkeyakinan dan melarang diskriminasi atas dasar agama."

CSW mengatakan orang-orang Kristen di Tanzania juga didiskriminasi karena dicegah membangun gereja karena pejabat setempat memberlakukan proses ekstra-legal.

Misalnya, mereka sering diminta untuk mendapatkan izin dari masyarakat sekitar lokasi yang diusulkan untuk sebuah gereja sebelum konstruksi dapat dimulai. Karena secara demografis Muslim mayoritas di Zanzibar, masyarakat setempat umumnya menolak permintaan tersebut.

Thomas menambahkan, "Kami juga mendesak Pemerintah Zanzibar untuk meninjau kembali keputusan perencanaan daerah dan untuk mengakhiri praktik diskriminatif, yang tidak memiliki dasar hukum dan mencegah orang Kristen membangun rumah ibadah."

Ia menambahkan, "Mengingat keragaman agama Tanzania, kami mendesak Pemerintah Tanzania untuk memprioritaskan penghormatan, promosi dan perlindungan hak atas kebebasan beragama atau kepercayaan di seluruh negara untuk semua warganya, terlepas dari kepercayaan mereka."

Editor : Eben E. Siadari

Back to Home