Google+
Loading...
ANALISIS
Penulis: Moh. Jauhar al-Hakimi 11:06 WIB | Rabu, 28 November 2018

3rd JIMB 2018, Jalan Terjal Seni Grafis Indonesia

Karya grafis berukurran 10 cm x 10 cm berjudul “Entropia” dengan teknik cetak mezzotint yang dibuat pegrafis Cleo Wilkinson (Australia) yang menjadi peserta pada 3rd JIMB 2018 dan dipamerkan dalam pameran “Dialogue in Print” di Miracle art print, 21 November – 14 Desember 2018. (Foto: Moh. Jauhar al-Hakimi)

YOGYAKARTA, SATUHARAPAN.COM – “Saya senang sekali dengan seni grafis. Karena kalau tidak ada seni grafis, tidak mungkin ada kemajuan dunia seperti sekarang ini. Ilmu pengetahuan tidak akan berkembang. Ingat 2500 tahun lalu di Mesir, kalau kita ke Paris kita lihat Place de la Concorde di situ kita lihat obelisk (patung menjulang ke atas) itu adalah hieroglific pertama. Kemudian dikaitkan dengan teks sakral seperti Injil, Talmut, al-Quran, dan agama-agama lain yang zoroaster. Kitab suci itu disalin oleh scripter terpilih dengan tulisan yang sangat indah dalam buku yang dibuat dari kulit, kertas, papyrus, dan lain-lain dan dihias dengan sangat indahnya. Sehingga seni grafis bisa (berkembang dengan) mengkombinasikan antara teks yang sakral dengan ilustrasi yang sangat indah, ilustrasi neraka (inferno). Itu semua asalnya dari seni grafis. Sampai ditemukannya alat cetak oleh Gutenberg pada abad ke-15, dan sejak itu agama Kristen berkembang luas dengan dicetaknya Injil (kitab suci) dan disebarluaskan ke seluruh dunia.” Kalimat tersebut disampaikan pemilik Natan art space, Nasir Tamara mengawali pembukaan 3rd Jogja International Miniprint Biennale 2018, Selasa (20/11) sore di Museum dan Tanah Liat (MDTL).

Nasir memberikan ilustrasi singkat perjalanan dunia seni grafis yang telah mengubah perjalanan peradaban dan ilmu pengetahuan dunia. Berkat ditemukan teknik cetak, ilmu pengetahuan dan teknologi berkembang pesat ditandainya dengan cepatnya menyebar informasi dan ilmu pengetahuan pada masa Revolusi Prancis.

Berkat adanya mesin cetak itu pula, poster-poster pada jaman revolusi memegang peranan (propaganda) luar biasa dalam perjuangan yang dicetak dengan huruf-huruf/ilustrasi besar dari revolusi Prancis, Amerika, hingga revolusi Indonesia. Bisa dikatakan penemuan alat-mesin cetak adalah penemuan terbesar yang paling berpengaruh terhadap peradaban dunia.

Seni grafis Indonesia mulai berkembang pasca Indonesia merdeka meskipun seniman semisal Baharuddin Mara Sutan, Mochtar Apin, Widayat, Suromo, sudah membuat karya yang dipublikasi di banyak medium sebelum Indonesia merdeka, sementara teknologi pencetakan saat itu masih menggunakan mesin handpress. Membuat ilustrasi cerita wayang (kulit) dalam cetakan berwarna pada sebuah buku/majalah pada masa itu adalah sebuah kemewahan mengingat pertimbangan biaya serta teknologi pencetakan berwarna secara massal sangatlah jarang. Bahkan majalah terbitan Belanda De Orient saat itu masih dicetak hitam putih. Tentunya teknologi pencetakan yang digunakan saat itu masih sederhana meskipun sudah jauh melewati jamannya.

Kehidupan seni grafis di Indonesia, lebih kurang hampir seumur dengan kehadiran institusi pendidikan tinggi seni rupa di Indonesia. Akademi Seni Rupa Indonesia (ASRI) Yogyakarta, diresmikan pada 15 Januari 1950. ASRI yang kemudian menjadi Sekolah Tinggi Seni Rupa Indonesia (STSRI) “ASRI” Yogyakarta (1968), dan sejak 1984 menjadi Fakultas Seni Rupa, salah satu fakultas di Institut Seni Indonesia (ISI) Yogyakarta.  Tahun 1940-an, sejumlah perupa seperti Baharudin Marasutan, Mochtar Apin, sudah aktif berkarya grafis. Tak banyak lulusan seni grafis ISI Yogyakarta, juga dari institusi pendidikan tinggi lainnya (IKJ, FSRD ITB, atau ISI Denpasar) yang menekuni dan mengembangkan seni grafis sebagai medium utama dalam kapasitasnya sebagai perupa.

Tercatat seniman grafis yang masih berkarya seni grafis secara teguh, antara lain Edi Sunaryo, Yamyuli Dwi Iman, Agus Yulianto, Irwanto Lentho, Ariswan Adhitama, Theresia Agustina Sitompul, Syahrizal Pahlevi, Anggara Tua Sitompul (FSR ISI Yogyakarta), Tisna Sanjaya, Agung Prabowo (FSRD ITB Bandung).

Seni grafis Indonesia memiliki sejarah yang panjang. Pada HUT RI tahun 1946, negara membuat cetakan seni grafis dari beberapa seniman untuk hadiah kepada negara-negara sahabat yang telah memberikan pengakuan kedaulatan Indonesia dengan karya seni grafis Indonesia.

Pada pameran tunggal seni grafis bertajuk "Re-Public, reminding of existence" dari seniman grafis Bonaventura Gunawan di Bentara Budaya Yogyakarta (BBY), Sabtu (12/8) tahun lalu, pengajar Seni Rupa ISI Yogyakarta Suwarno Wisetrotomo bercerita sedikit tentang perkembangan dunia seni grafis yang sesungguhnya memiliki sejarah cukup panjang justru akhir-akhir ini seolah terpinggir dari dunia seni rupa di Indonesia.

 “Sedikitnya seniman grafis yang militan memilih jalan seni grafis sebagai "jalan sunyi" dengan berbicara dalam banyak hal melalui proses dan medium karyanya di tengah pragmatisme atas pasar menjadi salah satu kendala berkembangnya seni grafis di Indonesia,” kata Suwarno dalam sambutan pameran "Re-Public, reminding of existence".

Ada kritik menarik dari budayawan Sindhunata bahwa sudah cukup lama banyak seniman dan dunia seni lebih "sibuk" berhitung tentang pasar yang begitu mendikte dunia seni sehingga memengaruhi karyanya, dimana semangat dan daya kritis seni itu sendiri justru bermula dari suka cita dan ekspresi. Kritik tersebut kerap disampaikan Sindhunata pada berbagai pameran seni terutama seni grafis yang digelar di Bentara Budaya Yogyakarta yang sering ‘sepi’ dari apresiasi.

Kondisi tersebut diamini oleh pengajar jurusan Seni Grafis ISI Yogyakarta Edi Sunaryo terlebih ketika terkait dengan semangat berkreativitas di seni grafis.

“Kita selalu mendorong dari segi pendidikan, dik walaupun Anda pernah menjadi juara di dalam kompetisi grafis, kamu harus ikut (pada kompetisi grafis lainnya) dan jangan sampai takut tidak juara. Ini yang sering terjadi, bahwa setelah juara pada satu kompetisi dan kalah di kompetisi lainnya ditakutkan akan habis namanya. Ini keliru. Makanya, saya kadang menyesal memberikan penghargaan kepada mahasiswa seni grafis, karena nanti kalau ada kompetisi lagi dia pasti bakalan tidak ikut,” ungkap Edi Sunaryo saat pembukaan 3rd JIMB 2018.

Tidak seperti seni lukis maupun seni patung dan seni kriya, perkembangan seni grafis sejak tahun 1980-an ibaratnya hampir-hampir seperti kepulan asap yang apinya tidak kelihatan dan sesekali sirna tertiup angin. Itu pula yang mendorong Edi Sunaryo bersama alumni Akademi Seni Rupa Indonesia angkatan tahun 1983 yang tergabung dalam Wadyabala 83 menggelar pameran seni rupa bertajuk "Semangat Seni Grafis" di Jogja Gallery, 2-18 Ferbruari lalu.

Pameran "Semangat Seni Grafis" yang digelar Wadyabala 83 menjadi kritik halus bagi pegrafis Indonesia khususnya Yogyakarta melalui pameran karya grafis agar apinya kembali menyala, mengepulkan asap untuk bisa dilihat, beruntung jika mampu membakar api semangat di tengah kelesuan dunia seni grafis Indonesia dan dunia.

“Saat saya mendengar sedihnya (Syahrizal) Pahlevi tentang penghargaan-partisipasi seniman (grafis) Indonesia (dalam JIMB 2018), saya melihatnya seniman kita (terkesan) a-historis,” jelas Nasir tentang keprihatinannya pada perkembangan dunia seni grafis yang hari-hari ini mengalami stagnansi.

Seni Grafis (Konvensional) dalam Bayangan Perkembangan Teknologi

Sebagaimana disampaikan Edi Sunaryo bahwa seni grafis adalah hal yang terkait langsung dengan teknik dan teknik-teknik tersebut terus diajarkan di bangku sekolah berikut pengembangannya, namun upaya tersebut dirasa belum mampu membakar semangat seniman grafis terus berkreativitas dan mengembangkan-menghasilkan karya-karyanya.

Hingga akhir tahun 2000-an, seni grafis masih “dianggap” sebagai seni kelas dua, seni pinggiran, dimana problematika tersebut lahir dari berbagai aspek yang saling mengakumulasi. Ketika seni grafis adalah hal yang berkaitan dengan proses yang bersifat teknis, keterbatasan dan kelangkaan alat dan mesin cetak dikambinghitamkan oleh para seniman grafis yang dengan terpaksa mesti ‘melacur’ ke cabang seni lainnya, atau bahkan menggeluti bidang yang amat jauh dari kajian seni grafis, meskipun tidak jarang pula justru memunculkan kreativitas dari seniman grafis dengan keterbatasan tersebut. Dalam hal keterbatasan alat-bahan cetak, ruang-ruang kolektif di Yogyakarta sering berbagi di antara mereka. Dalam hal ini, ruang-ruang kolektif memposisikan seni grafis dengan karakteristiknya yang melulu berhubungan dengan teknis sebagai alat/tools untuk menghasilkan karya. Di bawah permukaan, seni grafis Yogyakarta menggeliat di ruang-ruang kolektif semisal SURVIVE!garage, Taring Padi, Ruang Mess 56, HONFablab, Redbase foundation, Sesama, Sewon art space.

Dianggap” sebagai seni kelas dua, seni pinggiran, kerap berawal dari karya seni grafis jumlahnya yang banyak, dan tidak tunggal, sehingga eksistensi karya grafis di pasar tidaklah sesignifikan karya lukisan atau patung yang sifatnya tunggal yang kemudian membawa nilai eksklusifitas di dalamnya., terlebih ketika material dan medium cetak menggunakan kertas seadanya yang dianggap tidak se-eksklusif dan seawet kanvas ataupun medium lain. Sialnya, stigma tersebut bahkan tidak jarang diamini oleh seniman grafis sendiri.  “Pasar” dengan alasan eksklusifitas telah turut membentuk dan memposisikan seni grafis dalam wilayah yang abu-abu dan marjinal.

Perkembangan teknologi yang tidak terhindarkan turut pula “melemahkan” semangat seniman grafis untuk bersikukuh mengembangkan teknik grafis konvensional. Sebagaimana disampaikan Nasir Tamara pada sambutan pembukaan 3rd JIMB 2018 perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi telah mendorong perubahan cara pandang dan cara baca masyarakat dari analog menuju dunia teknologi digital yang paperless, terlebih ketika dunia sudah terhubung dalam jaringan internet yang telah memangkas bahkan menghilangkan batas-batas fisik dan jarak hubungan antar manusia.

“Yang sedang terjadi saat ini di dunia seni grafis adalah mundurnya media massa cetak (koran-tabloid-majalah) ketika berbagai media (massa konvensional) mengurangi oplahnya bahkan menutup (dan menggantikan dengan media dalam jaringan) sehingga karya grafis pun terdampak berkurang sejalan dengan perubahan cara baca masyarakat dari media cetak ke dunia digital,” jelas Nasir.

Bahkan perkembangan teknologi cetak yang seharusnya menjadi sparing partner seolah menjadi kompetitor bagi seni grafis konvensional (print making) dengan lahirnya teknologi digital printing yang perkembangannya bahkan sudah melewati seni grafis konvensional dalam hal efisiensi, akurasi, keterbatasan dalam hal-hal yang terkait dengan segala hal yang berbau teknis. Dengan teknologi, karya grafis digital seolah menjadi begitu mudah dihasilkan. Jika ukurannya adalah efektivitas dan efisiensi, seni grafis konvensional harus berlari lebih kencang lagi mengejar perkembangan seni cetak digital (digital printing).

Beruntung masih ada pihak-pihak seperti Bentara Budaya yang selalu memberikan ruang apresiasi-presentasi karya grafis bagi seniman grafis. Bagaimanapun, Bentara maupun Kompas adalah institusi yang dibesarkan dari perkembangan seni grafis-cetak paling sederhana hingga perkembangan teknologi digital yang hari-hari ini telah memakan anaknya sendiri: seni grafis konvensional.

 “Bienal miniprint (3rd JIMB 2018) ini mendapat sokongan berbagai pihak. Ada sebagian bantuan pendanaan dari Dinas Kebudayaan Yogyakarta sebagai wujud fasilitasi program Pameran Kelompok, sebagian dari administrasi peserta, donasi seniman yang dikumpulkan lewat pameran fundrising “Heading JIMB”, donatur perorangan, sponsor, pemasang iklan. Kami akui masih sulit untuk mendapat sponsor sampai detik-detik menjelang pelaksanaan acara. Mungkin karena keterbatasan sumber daya kami, mungkin juga para sponsor masih wait and see dalam melihat acara ini sebagai sarana investasi. Yang jelas untuk event dengan kapasitas bienal internasional yang melibatkan seniman grafis dari puluhan negara, dalam hal pendanaan masih sangat jauh dari kebutuhan event internasional,” jelas Direktur JIMB Syahrizal Pahlevi kepada satuharapan.com, Kamis (15/11).

Sebagai catatan, dalam penyelenggaraan 3rd JIMB 2018 diikuti 178 seniman terdiri dari 149 seniman yang mendaftar sebagai peserta seleksi dan 29 seniman yang berpartisipasi sebagai seniman tamu dimana karya mereka tidak mengikuti seleksi dan kompetisi. Dibanding peserta dari Indonesia, antusiasme peserta luar negeri begitu luar biasa. Tercatat 136 seniman internasional dari 32  negara  yang berpartisipasi, meningkat  hampir 200 persen dari bienal 2016 yang diikuti 77 seniman internasional. Sementara seniman Indonesia diwakili hanya oleh 42 seniman atau menurun 60 persen dari angka 99 peserta di bienal 2016 lalu.

Animo seniman grafis Indonesia pada kompetisi seni grafis yang ada sedikit banyak menjadi gambaran bagaimana mereka kehilangan semangat berseni grafis. Indikator paling gampang adalah pengiriman karya yang sengaja mendekati tengat waktu menjadi gambaran bagaimana sebuah karya disiapkan hanya untuk sebuah kompetisi dalam waktu yang singkat, dan bukan dari sebuah proses kontemplasi/perenungan/permikiran untuk lahirnya sebuah karya seni grafis. Dalam titik ini, karya seni grafis seolah kehilangan roh-nya.

Menanti Uluran Tangan (Peran) Pemerintah

Dengan sejarah panjang seni grafis menyertai perjalanan bangsa Indonesia sejak masa kemerdekaan sebagai salah satu bentuk diplomasi antar negara hingga “meredup” bersamaan dengan berkembangnya teknologi cetak grafis, patut kiranya pemerintah Indonesia belajar dari langkah-langkah pemerintah Republik Rakyat China (RRC) dalam mengembangkan seni grafis dalam skema ekonomi kreatifnya.

Hal tersebut pernah disampaikan seniman grafis-pelukis Yogyakarta Syahrizal Pahlevi yang selama 2 bulan (23 Mei-23 Juli 2017) mendapat undangan dari China Guanlan Original Printmaking Base (CGOPB), sebuah studio grafis yang berada di Shenzen, China bersama 24 seniman grafis dari negara-negara yang dilalui jalur sutra (silk road).

China Guanlan Original Printmaking Base terletak di Yuxin Road, sub distrik (desa) Guanlan, distrik Bao’an, Shenzhen, Provinsi Guangdong, China. Berada di kawasan industri, Guanlan menjadi kawasan seniman grafis beraktivitas secara profesional. Studio tempat residensi menyediakan perlengkapan untuk seni grafis lengkap dengan standar kualitas bahan-alat yang memadai bagi penciptaan karya seni grafis.

"Sejak tahun 2008 saat dibangun pertama kali, mereka berencana membangun museum seni grafis taraf internasional yang lengkap dengan standar-standar tertentu. Medium cetak misalnya disediakan kertas dengan kualitas terbaik," jelas Levi dalam bincang santai dengan satuharapan.com, Rabu (2/8) tahun lalu.

Tentang kerja profesional mereka, Levi menjelaskan bagaimana disiplin dan etos kerja mereka meskipun berada di kawasan pedesaan. Teknisi yang bekerja adalah seniman grafis dari China dan sekitarnya yang siap membantu peserta residensi. Di sisi lain, meskipun dengan kontrol dalam banyak hal, keterlibatan pemerintah China tetap memberikan dukungan terutama pendanaan bagi pengembangan dunia seni grafis China.

"Semua terdokumentasi secara rapi. Sebuah karya seni grafis dibuatkan catatan semacam resume tentang siapa senimannya, dengan teknik apa dibuat, berapa jenis warna, dengan jenis tinta apa dipakai, menggunakan media kertas apa, dicetak dalam berapa edisi. Semua didokumentasikan dan diarsipkan dalam beberapa rangkap," kata Levi.

Hal menarik yang bisa dipelajari adalah tentang material-medium cetak yang digunakan dengan standar tertentu, ini bisa menjadi pertimbangan seniman dalam membuat sebuah karya. Untuk membuat sebuah karya, ada baiknya mulai sekarang kita sudah mempertimbangkan standar kualitas bahan dan lain-lain yang digunakan. Tidak serta merta medium apapun bisa dieksekusi untuk menjadi sebuah karya, meskipun tidak selamanya sebuah karya bagus terlahir dari medium-material dengan kualitas yang bagus.

Dalam perjalanannya sejak China Guanlan Original Printmaking Base (CGOPB) didirikan tahun 2008, berbagai langkah ditempuh untuk mewujudkan sebuah museum seni grafis bertaraf internasional terbesar-terlengkap, didukung suasana berkesenian yang coba dijaga dengan pendekatan kerja profesional layaknya sebuah industri ada banyak hal yang bisa dipelajari dari China Guanlan Original Printmaking Base. Regulasi standar pada medium dalam berkarya bisa menjadi branding dan juga positioning bagi China Guanlan dalam percaturan seni grafis dunia.

Dalam perspektif ini ketika China Guanlan OPB menerapkan sebuah standar tertentu dalam karya seni grafis, sesungguhnya dalam banyak hal China Guanlan OMB leading beberapa langkah meskipun sebenarnya banyak studio seni grafis di belahan dunia lainnya dengan sejarah panjang yang telah dilewatinya pun memiliki standar yang tidak kalah bagus.

Ketika 25 seniman grafis dari berbagai negara dengan beragam portofolionya berkumpul dalam sebuah project, bisa dibayangkan terkumpul juga karya dalam jumlah yang banyak dari seniman grafis yang telah diakui rekam jejaknya bagi dunia seni grafis. Ini belum ditambah dengan seniman residensi sebelumnya baik secara personal maupun yang terlibat dalam proyek bersama. Dengan sistem kerja yang profesional serta pendekatan industrialisasi, China Guanlan OMB sesungguhnya sedang membaca pasar seni grafis dunia di masa datang.

Perspektif pasar itu sendiri bisa beragam. Bisa jadi China Guanlan OPB sedang membaca potensi seni grafis yang sedang menggeliat di tengah lesunya pasar seni rupa dunia terlebih China, atau mungkin China Guanlan OPB sedang membangun pasar seni grafis dunia ketika mereka telah memiliki banyak hal: banyak karya dari seniman grafis dari berbagai negara, sistem kerja serta etos teknisi-seniman dalam standar tertentu, tradisi yang sedang dibangun ditengah budaya kertas-seni grafis China sendiri yang sudah lama diakui dunia, ditambah dukungan pemerintah menjadi positioning yang patut dipertimbangkan siapapun.

Bagaimana dengan dunia seni grafis di Yogyakarta dan Indonesia? Dengan jumlah seniman grafis terbanyak di Asia Tenggara, Yogyakarta dan juga Indonesia sesungguhnya memiliki kekuatan yang patut diperhitungkan seni grafis dunia. Dan menjadi  lebih menarik lagi sekiranya ada upaya lebih mendekatkan lagi seni grafis maupun seni rupa lainnya kepada masyarakat. Bagaimana peluangnya kedepan? Di tengah kelesuan dunia seni grafis di Indonesia, masih ada optimisme dari seniman grafis maupun pengamat seni. Pilihan seni grafis masih cukup terbuka lebar ketika bidang lain telah penuh sesak dengan kontestasi dan kompetisi yang padat. Dunia seni grafis adalah celah kosong itu.

“Pada waktu semua menjadi digital ada masanya orang akan rindu dengan karya seni grafis (konvensional), orang-orang yang menguasai teknik grafis di situlah harga-harga-nya akan menjadi mahal,” harapan Nasir Tamara dalam sambutan pembukaan 3rd JIMB 2018.

Di tengah keterbatasan yang dimilikinya, sesungguhnya seniman grafis Indonesia sering memunculkan karya-karya yang tidak kalah dengan karya seniman grafis manca negara. Dan dengan berbagai keterbatasan yang ada, darimana harus memulainya? Ada baiknya pemerintah segera menangkap seluruh potensi seni grafis dan juga seni rupa lainnya di Indonesia sebagai bagian dari skema ekonomi kreatifnya.

 

Back to Home