Google+
Loading...
BUDAYA
Penulis: Moh. Jauhar al-Hakimi 09:52 WIB | Rabu, 25 Juli 2018

"4 Sehat 5 Sempurna" di Atas Kanvas

"4 Sehat 5 Sempurna" di Atas Kanvas
Lukisan berjudul "Dewi Sri" karya Ledek Sukadi pada pameran "4 Sehat 5 Sempurna" di Bale Banjar Sangkring, 12-25 Juli 2018. (Foto-foto: Moh. Jauhar al-Hakimi)
"4 Sehat 5 Sempurna" di Atas Kanvas
Dari kiri-kanan: "Rupa-rupa #Seri" ( Ampun Sutrisno), "Figure" (Kuart Kuat), "Green Landscape" (Ampun Sutrisno).
"4 Sehat 5 Sempurna" di Atas Kanvas
Imagi Umbul Seri 4 - akrilik di atas kanvas - Lukman van Gogh - 2018.
"4 Sehat 5 Sempurna" di Atas Kanvas
Dari kiri-kanan: "Anteng-Ajeg", "Lima Sekawan Bekerja" - akrilik di atas kanvas - 2018 - Rismanto.

YOGYAKARTA, SATUHARAPAN.COM - Menempati ruang yang berbeda, lima seniman-perupa menggelar pameran bertajuk "Empat Sehat Lima Sempurna" di Bale Banjar Sangkring, Kampung Nitiprayan, Ngestiharjo-Bantul, Yogyakarta. Pameran dibuka pada Kamis (12/7) malam dan berlangsung hingga 25 Juli 2018.

Dengan mengeksplor wilayah Imogiri dan sekitarnya, Ampun Sutrisno membuat karya lukis dalam gaya dekoratif dengan warna soft/pastel. Tema lingkungan dan kehidupan sehari-hari dituangkan Ampun dalam berbagai ukuran karya lukisnya. Enam puluh karya series berjudul "Rupa-rupa #Seri" ukuran 15 cm x 15 cm menjadi pengembaraan Ampun pada obyek-obyek di sekitarnya: rumah joglo desa, perabotan rumah tangga, ayam peliharaan, seolah menegaskan pada tema mooi giri yang menjadi fokus karyanya dalam beberapa waktu terakhir. 

Pada karya lukis berjudul "Green Landscape", Ampun membuat lukisan yang menarik dengan tiga lapis landscape dimana obyek pepohonannya berbeda pada masing-masing lapis dan Ampun menggunakan warna dominan hijau tosca. Bisa jadi demikianlah Ampun mencoba menawarkan narasi tentang indie mooi ala Imogiri: mooi giri.

Garis dan warna yang tegas menjadi permainan Kuart Kuat dalam karya lukisannya. Dengan tulisan tangan di antara obyek lukisannya, Kuat seolah sedang menyusun sebuah cerita lukisan prosa meskipun tanpa tulisan itupun tarikan garis Kuat sudah banyak bercerita: catatan perjalanan diri dalam konteks hari ini. Setidaknya hal itu bisa terekam pada karya berjudul "Fun Unity Harmony", "Identitas", dan "Introspeksi". Pada karya berjudul "Figure" semakin menegaskan bahwa pilihan garis yang kuat tidak semata-mata masalah visual artistik semata, namun ada kedalaman estetis dalam warna yang ditawarkan.

Lukisan alat berat yang detail menjadi gaya seniman-perupa Rismanto. Setelah dua tahun lalu menggelar pameran tunggal dengan obyek kereta api dalam karya ukuran besar, Rismanto melanjutkan dengan obyek-obyek lain: kendaraan berat dalam pertambangan. Menariknya ketika Rismanto memberikan tulisan Ajeg, Anteb, Anteng menggantikan merk dagang kendaraan berat tersebut. Ini seolah menjadi gambaran Rismanto pada pilihan berkarya dalam warna realis yang ajeg, anteb, anteng, dan dalam dimensi yang besar. Meskipun pada satu karya panel berjudul "Tanah Surga" Rismanto mencoba hal lain. Pesona karya-karya Rismanto ada pada teknik melukis yang paling usang yakni melukis pada kanvas dengan kuas, cat, dan menyapukannya. Dan dengan tulisan "Ajeg, Anteb, Anteng" sesungguhnya Rismanto sedang menyampaikan pesan secara tersembunyi.

Penggalian pada akar tradisi: cerita rakyat, legenda, katuranggan, primbon, berbagai macam ungkapan nilai tradisional Jawa, dari klasik hingga modern, menjadi pilihan Ledek Sukadi dalam karya lukisannya. Dewi Sri yang sedang terbang dengan menebarkan kesuburan pada tetumbuhan dalam karya berjudul "Dewi Sri" menjadi laku spiritual Ledek dalam membaca kehidupan dan penghidupan adalah masalah keterhubungan antara usaha dan doa yang ada dalam legenda maupun tradisi masyarakat sejak dulu. Ketika kebaikan yang ditanam, kebaikan pula yang akan dituai. Begitupun sebaliknya.

Karya lukisan panel berjudul "Pitutur" dalam imaji figur yang menutup mata, telinga, dan mulut membawa pesan yang kuat dalam konteks arus informasi yang begitu cepat dan kencang hari ini: lebih berhati-hati dan selektiflah membaca-mendengar-menyebarkan segala hal berkait berita, keadaan, dan apapun karena memiliki konsekuensi dan dampak yang beragam. Lima puluh panel lukisan berjudul "Katuranggan" semakin menguatkan pilihan eksplorasi nilai tradisi Jawa dalam berbagai pengendaraan ekspresi.

Melengkapi tawaran empat sehat dari keempat seniman-perupa, Lukman van Gogh yang kerap bermain dengan garis abstrak dan impresi-ekspresi warna menggunakan inspirasi gambar umbul seolah melengkapi dalam karya lukisan abstraknya. Menariknya Lukman kerap membuat karya lukisan dalam dimensi kecil 20 cm x 20 cm. Dengan dimensi tersebut, pada karyanya berjudul "Imagi Umbul Seri 4" dan "Imagi Umbul #4" kalaupun dirangkai dalam sebuah karya lukis panel atau berdiri sendiri bisa menjadi menjadi lukisan umbul abstrak.

 

Zuri Hotel
Back to Home