Loading...
BUDAYA
Penulis: Ignatius Dwiana 16:31 WIB | Minggu, 16 Juni 2013

74 Karya Pengajar Seni Rupa Tampil di Galeri Nasional

74 Karya Pengajar Seni Rupa Tampil di Galeri Nasional
Karya kritik sosial tentang para tahanan KPK yang tampil dalam Pameran Karya Pengajar Seni Rupa 2013. (Foto Ignatius Dwiana)
74 Karya Pengajar Seni Rupa Tampil di Galeri Nasional
74 Karya Pengajar Seni Rupa Tampil di Galeri Nasional

JAKARTA, SATUHARAPAN.COM - 74 karya pengajar seni rupa dari 31 Perguruan Tinggi tampil dalam Pameran Karya Pengajar Seni Rupa 2013 bertema “Melihat/Dilihat” di Ruang Pameran Temporer Gedung A Galeri Nasional Jakarta. Pameran ini berlangsung dari Jum’at, 14 Juni – Selasa, 25 Juni 2013.

Karya realis maupun surealis dalam rupa instalasi, pahat, dan lukis ditampilkan dalam pameran ini. Ada karya berupa kritik sosial, bertema rohani, atau absurditas.

Kritikus Seni dan Pengajar dari Intistut Seni Indonesia (ISI) Yogyakarta, Suwarno Wisetrotomo, menilai tajuk “Melihat/Dilihat” mengisyaratkan posisi seorang dosen dalam memainkan perannya. Baik sebagai dosen yang seniman atau seniman yang dosen. Dari perspektif mana pun dan apa pun untuk memaknai pameran ini, yang pasti hasrat utamanya adalah ingin memeriksa dengan seksama bagaimana para dosen seni rupa ini memainkan perannya. Terutama memainkan perannya sebagai senimpan, perupa. “Melihat atau dilihat seperti peristiwa yang dalam mal. Ketika seseorang mendatangi mal atau pusat perbelanjaan moderen di kota-kota besar, dalam dirinya terdapat setidaknya dua hasrat, yakni untuk melihat dan dilihat. Ia adalah subyek sekaligus obyek.”

“Sejarah telah mencatat bahwa perkembangan seni rupa modern tidak dapat dipisahkan dari peran Perguruan Tinggi, terutama setelah era kemerdekaan pada tahun 1950-an. Pelbagai mazhab seni rupa kemudian bermunculan mengatasnamakan sekelompok seniman jebolan pendidikan tinggi seni, khususya dari tiga kota yaitu: Yogyakarta, Bandung, dan Jakarta. Pameran ini bukan sekedar melakukan mapping terhadap potensi dan kekuatan karya para pengajar di seluruh Indonesia, namun lenih jauh lagi merupakan kontruksi sejarah, yaitu membangun peradaban baru dalam meluhat pergeseran paradigma pendidikan seni rupa yang tersirat dari karya-karya yang dipamerkan. Kita berharap di masa mendatang karya-karya yang kita saksikan sekarang akan disimak, dibaca, dan dimaknai kembali oleh jejak-jejak anak bangsa di masa mendatang.” Kata Dekan Fakultas Seni Rupa Intistut Kesenian Jakarta (IKJ) Citra Smara Dewi.

Sementara Kurator seni rupa dan mantan wartawan Majalah Mingguan Tempo, Asikin Hasan, menilai kehadiran seorang pengajar di perguruan tinggi tidak dapat dibandingkan dengan proses bertungkus lumus seorang seniman atau perupa dengan dirinya. “Seorang pengajar menempuh jalan lurus yang dibangun bersama-sama. Jalan yang aman, terang, dan selesai. Tetapi seorang seniman menempuh gelap belantara penuh bahaya, dan tidak jelas di mana arah mata angin. Mungkin ia bisa keluar melalui jalan setapak yang tidak pernah selesai dibangunnya atau hilang ditelan kegelapan belantara.”

 

Editor : Yan Chrisna


BPK Penabur
Gaia Cosmo Hotel
Kampus Maranatha
Back to Home