Google+
Loading...
OPINI
Penulis: Alexander Urbinas 00:01 WIB | Jumat, 17 Agustus 2018

Agama, Politik, dan Olahraga

Alexander Urbinas.

SATUHARAPAN.COM – Bisa dikatakan bahwa olahraga yang paling populer di Indonesia adalah sepakbola. Secara prestasi, sepakbola Indonesia memang belum mendunia. Namun, untuk urusan militansi, suporter Indonesia tidaklah dapat dipandang sebelah mata. Contohnya beberapa hari lalu, di pergelaran Piala AFF U-16 2018 yang diselenggerakan di Sidoarjo. Animo penonton Indonesia begitu tinggi setiap kali Timnas bertanding.

Indonesia pada akhirnya berhasil meraih predikat juara dengan mengalahkan musuh bebuyutannya, yakni Thailand. Para suporter di stadion terharu. Bahkan seluruh pecinta sepakbola di Tanah Air terharu dan bangga.

Semua bergandengan tangan dan bersatu, mendoakan keberhasilan Timnas U-16 selama pergelaran berlangsung agar dapat menggondol gelar juara. Sekaligus semuanya pun bersyukur dan bangga, ketika doa tersebut terjawab. Semua anak bangsa sesama suporter bersatu, tanpa melihat dan memperbandingkan suku, agama, dan etnis di antara mereka. Bagi para suporter, yang lebih penting adalah Indonesia menjadi juara!

Politik Identitas

Sungguh indah, kalau persatuan para suporter Timnas Indonesia ini, dapat terejawantahkan juga dalam praktik politik di Indonesia, dengan lebih mementingkan persatuan ketimbang perbedaan identitas. Karena bukankah pengkotak-kotakan dalam bentuk politik identitas dalam beberapa tahun belakangan ini terus terjadi, bahkan dalam tensi dan suhu yang tinggi?

Di Indonesia, agama telah dipakai untuk kepentingan politik. Dalam konstestasi politik di Indonesia, seorang calon kepala daerah dalam kampanyenya bisa saja sudah tidak lagi memprioritaskan dirinya untuk mensosialisasikan program serta visi dan misinya di tengah masayarakat yang akan dipimpinnya. Namun, ia lebih sibuk berjualan ayat dan agamanya agar mengeruk suara.

Bahkan bisa saja para pelaku politik ini, mendadak menjadi kaum agamawan atau rohaniawan agar menarik simpatik. Lalu, karena cara ini dianggap ampuh dan menuai keberhasilan, oleh beberapa pihak, praktik politik identitas ini seolah ingin terus dipelihara bahkan diduplikasi di beberapa tempat.

Bagi kita yang sadar sebagai warga Indonesia dan memiliki semangat Pancasila, UUD 1945, NKRI, dan Bhinneka Tunggal Ika dalam darahnya, tentu kita tidak bisa tinggal diam. Kita perlu terus menaburkan nilai-nilai persatuan dan kesatuan di dalam keseharian, baik lewat perkataan dan perbuatan, baik lisan maupun tulisan. Kita perlu melawan politik identitas!

Memasuki tahun politik 2018 dan 2019, sebagai warna negara kita perlu membangun optimisme dan kerinduan partisipatif secara politik. Kita yakin, Indonesia masih diisi oleh begitu banyak orang yang ingin hidup dalam persatuan dan kesatuan, ketimbang dalam pertikaian dan perceraian.

Saat menonton pertandingan sepakbola Liga 1 antara Persija vs Persipura di Stadion Patriot Chandrabaga Bekasi, ketika sedang asyik melihat kedua tim melakukan pemanasan sebelum pertandingan dimulai, saya dikagetkan pertanyaan seorang anak berusia sekitar 10 tahun yang duduk tepat di belakang saya kepada ibunya: “Bu, Bambang Pamungkas, Kristen atau Islam, ya? Jangan-jangan agamanya beda sama kita, Bu?”

Tanpa menarik perhatian, saya menoleh, penasaran mendengarkan jawaban si ibu, yang mengenakan hijab. Ibunya menjawab demikian: “Nak, olahraga kok dikaitkan sama agama. Dukung saja tanpa perlu lihat apa agamanya!”

Benar! Agama adalah ranah privat. Tidaklah tepat untuk dipolitisasi di ruang publik untuk sebuah kepentingan. Mari miliki semangat persatuan dan kesatuan, dan junjung sportivitas.

Salam Kebangsaan! Salam Olahraga! Selamat menyambut Asian Games 2018!

 

Editor : Sotyati

BERITA TERKAIT
Back to Home