Google+
Loading...
SAINS
Penulis: Dewasasri M Wardani 17:09 WIB | Senin, 02 Oktober 2017

Ahli Biologi Laut Indonesia Paparkan Disertasi di Belgia

Ilustrasi. Ahli biologi laut Indonesia, Maya Puspita, mewakili Indonesia dalam kompetisi internasional My Thesis in 180 Seconds (MT180) pada 28 September 2017, di Liege, Belgia.(Foto: ens-lyon.fr)

JAKARTA, SATUHARAPAN.COM – Ahli biologi laut Indonesia, Maya Puspita, mewakili Indonesia dalam kompetisi internasional My Thesis in 180 Seconds (MT180) pada 28 September 2017, di Liege, Belgia. Kompetisi ini sangat unik karena semua kontestan wajib memaparkan karya ilmiahnya kepada panel juri dalam waktu persis 180 detik dalam bahasa Prancis.

Didukung Institut Prancis di Indonesia (IFI) dan Kedutaan Besar Prancis di Jakarta, doktor lulusan program double degree Universitas Diponegoro dan Universitas Bretagne Sud itu memaparkan disertasinya, mengenai ekstraksi chlorotanin dalam pemanfaatan alga Sargassum sp yang dibudidayakan di Indonesia dan Prancis.

Dalam siaran pers yang diterima di Jakarta, hari Senin (2/10), Puspita mengatakan, kompetisi MT180 dapat menjadi sarana pembelajaran bagi dia untuk menyederhanakan bahasa ilmiah dalam penelitian eksakta, dengan menghubungkannya ke hal-hal dalam keseharian yang sedang menjadi tren, sehingga akan mudah dipahami orang awam.

"Sebagai contoh, penelitian saya terkait dengan ekstraksi senyawa bioaktif dari rumput laut. Saya mendapat ide, mari kita bayangkan rumput laut saya itu seperti kotak harta karun yang berisi barang berharga. Mari kita buka kotak itu dan manfaatkan isinya untuk industri komestik yang aman dan sehat," katanya.

Peneliti Asosiasi Rumput Laut Indonesia itu juga memanfaatkan MT180 sebagai ajang menambah relasi, pengalaman, dan wawasan karena para kandidat tidak hanya fokus pada kompetisi, tetapi juga belajar bertukar pikiran melalui serangkaian kegiatan seperti lokakarya doktoral dan sidang umum doktoral.

Sebelumnya, Puspita meraih Juara II Kompetisi MT180 Tingkat Nasional pada 4 Mei 2017, di kampus Universitas Gadjah Mada.

Saat itu Juara I diraih oleh doktor lulusan Universitas Bretagne Occidentale, Prancis, Awaluddin Kaimuddin, sementara Juara III diraih Latifah Nurahmi, doktor lulusan Ecole Centrale Nantes, Prancis.

Ketiganya, terpilih dari sembilan doktor dan kandidat doktor yang mempresentasikan hasil riset S3 mereka dalam waktu tiga menit dalam bahasa Prancis di hadapan panel juri yang terdiri dari perwakilan Indonesia dan Prancis.

"Kedutaan Besar Prancis di Jakarta memiliki komitmen untuk mendukung dan menaikkan nilai kerja sama Prancis-Indonesia di berbagai bidang," kata Atase Kerja Sama Ilmiah dan Teknologi Kedubes Prancis, Nicolas Gascoin.

Dalam bidang penelitian, kata dia, kerja sama ini telah berlangsung sangat lama, namun penelitian-penelitian yang dilakukan oleh para doktor Indonesia yang frankofon atau pernah berkuliah di Prancis, relatif belum banyak diketahui.

Kompetisi itu diharapkan, dapat memperkenalkan hasil-hasil penelitian para peneliti muda Indonesia serta memasyarakatkan riset dengan cara yang menyenangkan dan inovatif.

Kompetisi MT180, ditujukan untuk mahasiswa doktoral dan doktor muda yang harus mampu mempresentasikan tesis mereka dalam bahasa Prancis, dengan menggunakan istilah-istilah yang mudah dimengerti publik awam.

Dalam waktu 180 detik, mereka harus dapat membuat pemaparan yang jernih, efisien, dan meyakinkan tentang proyek penelitian mereka.

Setiap peserta hanya diperbolehkan mempergunakan satu buah slide presentasi. Presentasi mereka dinilai berdasarkan kualitas dan orisinalitas subyek penelitian mereka, pembawaan mereka di atas panggung dan kemampuan menonjolkan daya tarik penelitian mereka.

Untuk 2017, sebanyak 20 doktor dan mahasiswa doktoral dari 15 negara yakni Indonesia, Belgia, Benin, Kamerun, Kanada, Pantai Gading, Prancis, Libanon, Maroko, Kongo, Rumania, Senegal, Swiss, Tunisia dan Amerika Serikat.

Mereka tampil selama tiga menit memaparkan penelitian atau hasil riset S3 mereka, di hadapan Dewan Juri Internasional yang diketuai oleh Profesor Alain Vanderplasschen dari Universitas Liege, Belgia yang meraih Penghargaan Prix GSK Vaccines 2016. (Antara)

 

 

Editor : Melki Pangaribuan

Back to Home