Google+
Loading...
BUDAYA
Penulis: Sotyati 12:24 WIB | Selasa, 10 September 2019

Aida Swenson Simanjuntak: Paduan Suara, Potensial Dikembangkan

Aida Swenson Simanjuntak. (Foto: Sotyati)

JAKARTA, SATUHARAPAN.COM – Indonesia memiliki lebih dari 10.000 kelompok paduan suara. Prestasi demi prestasi berhasil diraih berbagai kelompok paduan suara belakangan ini, bukan hanya di tingkat nasional, namun juga di ajang kompetisi paduan suara bergengsi. Mereka mengharumkan nama Indonesia.

“Kita punya kelompok paduan suara Indonesia yang bagus-bagus, bukan hanya di Pulau Jawa, namun juga yang berada nun jauh di pedalaman Papua,” Aida Swenson Simanjuntak, pendiri Paduan Suara Anak Indonesia (PSAI), memberikan gambaran terkait potensi kelompok paduan suara di negeri ini, kepada satuharapan.com, Sabtu (7/9) lalu, di tengah-tengah kesibukannya sebagai artistic director PENABUR International Choir Festival (PICF) 2019.

Aida adalah lulusan Westminster Choir College, Princeton, Amerika Serikat, yang telah membaktikan diri di dunia paduan suara Indonesia. Keberadaannya sebagai sosok yang tidak bisa dilepaskan dari perkembangan musik paduan suara di Indonesia, terlihat dari keterlibatannya dalam berbagai organisasi musik paduan suara. Ia tercatat sebagai anggota Dewan World Choir Games for Indonesia, anggota Penasihat Interkultur’s World Choir Games, tokoh di Lembaga Pengembangan Pesta Paduan Suara Gerejawi (LPPN), anggota Dewan Penasihat di Yayasan Musik Gereja, sebagai contoh.

Berbagai kegiatan itu mengantarnya berkeliling seantero Indonesia, mengetahui perkembangan paduan suara di daerah, di sela-sela memberikan berbagai masterclass dan pelatihan memimpin paduan suara. Ia bahkan turut serta membidani pendirian paduan suara di daerah.

Ia menyambut gembira penyelenggaraan PENABUR International Choir Festival (PICF) 2019. “Dengan lebih dari 10.000 kelompok paduan suara di Indonesia, mengapa kita tidak menyelenggarakan sendiri ajang kompetisi, mengingat mahal sekali kalau harus mengirim satu kelompok paduan suara untuk mengikuti suatu kompetisi di luar negeri,” kata Aida, yang memiliki pengalaman membawa rombongan PSAI untuk tampil di berbagai ajang di luar negeri.

Juga tidak memungkiri, yang sanggup mengirim satu rombongan besar ke luar negeri lebih banyak kelompok paduan suara dari Pulau Jawa. Penyelenggaraan festival paduan suara, di luar Pesparawi, akan memberikan kesempatan bagi kelompok paduan suara di seluruh pelosok negeri ini unjuk kemampuan. Aida mencontohkan kelompok paduan suara di wilayah Timur Indonesia, termasuk pedalaman Papua, yang tidak kalah bagusnya dengan kelompok paduan suara dari Pulau Jawa.   

PICF 2019, contohnya, selain dari Jawa, diikuti pula oleh kelompok paduan suara dari Sumatera Utara, Kepulauan Riau, Lampung, serta Nusa Tenggara Timur, Kalimantan Timur, Sulawesi Utara, Sulawesi Barat, Sulawesi selatan, dan Papua.

Belajar Menghagai Musik Lokal

Aida menilai musik paduan suara adalah seni musik yang potensial dikembangkan dengan melihat suara adalah satu-satunya instumen paling murah, yang selalu dibawa oleh tubuh ke mana pun pergi. “Tidak semua anak memiliki instrumen musik, seperti piano, organ, gitar, untuk bisa bermusik, tetapi semua anak memiliki instrumen ‘suara’, yang sudah diberikan Tuhan,” katanya, menguburkan pandangan selama ini bahwa bermusik hanya milik orang berada.

Musik, bagi Aida, juga adalah alat komunikasi yang efektif untuk mendekati anak-anak. Dengan bernyanyi bersama, timbul kedekatan satu sama lain. Bernyanyi mengajarkan seseorang untuk percaya diri, menghargai satu sama lain, menghormati orang tua, dan hormat kepada Tuhan.

Dalam rentang pengalamannya, Aida yang mendirikan PSAI pada 1992 bagi anak usia 6 sampai 19 tahun, menganggap bernyanyi saja tidak cukup. Selain memberikan bimbingan teknik vokal bagi anggota paduan suara, ia juga memberikan teori dan apresiasi musik, khususnya di bidang pendidikan musik, yang bertujuan mengembangkan minat dan bakat anak.

Pada tahun 1997, ketika melihat anak-anak mulai menggandrungi musik Barat, Aida tertantang memperkenalkan musik daerah dengan cara yang lain. Ia memperkenalkan murid-muridnya alat musik tradisional, perkusi seperti tifa, taganing, jembe, serta alat musik tiup.

Bukan hanya menyanyikan lagu-lagu daerah dengan benar, dengan bimbingan ahlinya dalam pelafalan, mereka juga menarikannya, juga dengan bimbingan ahli tari, dan memainkan alat musiknya. “Sejak tahun 1997 itu, kami mulai menyanyikannya sambil menarikannya,” kata Aida.

Berbagai prestasi berhasil ditorehkan PSAI di berbagai perlombaan internasional dan memenuhi undangan dari beberapa negara.

PSAI melatih murid-muridnya untuk memiliki sikap dan kemampuan dan berpaduan suara serta menghargai seni budaya nasional maupun internasional. Pada tahun 1999, mengutip dari situs web resmi PSAI, Aida mendirikan Paduan Suara Cordana (PSC - Cordana Vocal Group).

PSC tidak saja menyanyikan lagu-lagu klasik, tetapi juga lagu-lagu rakyat dan lagu-lagu Broadway, yang dapat dipadukan dalam tarian. Melalui Cordana, diharapkan semakin banyak orang menghargai pertunjukan mereka semakin banyak orang dapat belajar mengenai musik karena hal tersebut mendorong orang untuk dapat menghargai baik musik lokal maupun internasional.

Editor : Sotyati

UKRIDA
Zuri Hotel
Back to Home