Loading...
BUDAYA
Penulis: Prasasta Widiadi 19:48 WIB | Senin, 15 September 2014

Akar Budaya Jakarta Tidak Boleh Terlepas

Rachmat HS, Ketua Panitia Lebaran Betawi 2014 saat memberi kata sambutan, Minggu (14/9). (Foto: Prasasta Widiadi).

JAKARTA, SATUHARAPAN.COM – Ketua Panitia Lebaran Betawi 2014, Rachmat HS menegaskan bahwa Jakarta yang kian gemerlap sebagai kota Metropolitan harus mampu mempertahankan jati diri budaya, dan jangan sampai akar budaya hilang.

Hal ini diungkapkan Rachmat kepada warga Jakarta yang hadir di panggung utama Lebaran Betawi pada Minggu (14/9) di Silang Timur Monumen Nasional (Monas), Jakarta Pusat.

“Lebaran betawi adalah bentuk apresiasi silaturahmi kita apapun bentuk kehidupan kota ini, karena kota Jakarta telah menjadi kota metropolitan kota megapolitan bahkan sama dengan Berlin, Paris, dan Brussel masyarakat jakarta tidak boleh tercabut dari akar budayanya yaitu budaya betawi,” kata Rachmat.

Rachmat mengemukakan walau ada kekurangan dalam penyelenggaraan Lebaran Betawi ini, terutama masalah parkir akan tetapi pihaknya berjanji akan melangsungkan perhelatan serupa tahun-tahun mendatang dengan lebih baik, dan tentu dengan kerja sama yang lebih intens dengan Pemerintah Provinsi (Pemprov) DKI Jakarta dan Badan Musyawarah (Bamus) Betawi yang tetap dijaga.

Alhamdulillah hingga lebaran betawi ketujuh ini Pemprov DKI jakarta selalu memberi dorongan sehingga acara yang luar biasa ini dapat terlaksana dengan baik,” tambah Rachmat.

Rachmat berpesan kepada generasi muda Jakarta yang kebetulan hadir menonton Lebaran Betawi di Monas agar tetap melestarikan tradisi tersebut, apabila menjadi seorang pemimpin daerah kelak.

“Budaya adalah jati diri bangsa oleh karena itu siapa pun yang jadi Gubernur DKI Jakarta nantinya, dari mana pun asalnya, dia harus mendukung nilai nilai lokal yang ada di tanah betawi karena terus terang saja apa yang kita lakukan hari ini adalah bentuk kearifan lokal yang diamanatkan undang undang,” tambah Rachmat.

Rachmat memberi contoh tentang nilai-nilai lokal yang memiliki kesamaan antara Lebaran dalam arti Idul Fitri, dan Lebaran Betawi.

“Lebaran betawi ini sudah kita mulai sejak tanggal 13 (september) kemarin dengan prosesi hantaran yang dilakukan oleh seluruh anggota pendukung bamus betawi dimana mereka memberikan hantaran kepada pimpinan bamus betawi, adapun hantaran adalah prosesi yang menjunjung nilai-nilai adat dan menandakan terjadinya tradisi sejak dahulu,” kata Rachmat.

“Semua pengunjung dapat menyaksikan hantaran ini dilakukan seperti tempo dulu, dimana hantaran dari para kepala daerah di tingkat Wali Kota hingga kecamatan ke para petinggi Bamus Betawi yang berisi makanan khas betawi ada gabus pucung, ada semur jengkol, nasi uduk yang semuanya adalah kekayaan khazanah kuliner betawi,” Rachmat menambahkan.

Rachmat memungkasi kata sambutannya dengan mengimbau semua orang yang bertempat tinggal di Jakarta agar menjadi “orang Betawi”, Rachmat menjelaskan bahwa tidak perlu mengubah asal usul suku dan budaya asli, akan tetapi cukup dengan mencintai dan merawat kota Jakarta sudah cukup disebut sebagai orang Betawi.  

“Kami yakin lebaran betawi akan kita lakukan lebih baik dari hari ini, sekali lagi kami ucapkan mohon maaf atas segala kekurangan yang tidak disengaja,” Rachmat mengakhiri kata sambutannya.

Editor : Bayu Probo


BPK Penabur
Gaia Cosmo Hotel
Kampus Maranatha
Back to Home