Google+
Loading...
HAM
Penulis: Eben E. Siadari 20:31 WIB | Rabu, 27 April 2016

Aktivis Papua Pilih Sosialisme dan Tinggalkan Gereja?

Pdt Benny Giay (Foto: bbc.com))

 JAYAPURA, SATUHARAPAN.COM - Belakangan ini di kalangan anak-anak muda aktivis di Papua muncul gagasan untuk memperbincangkan Sosialisme sebagai sebuah ideologi perjuangan. Ini terutama terjadi pada anak-anak muda yang kritis terhadap hasil pembangunan dan menuntut dialog dengan Jakarta.

Adanya kegandrungan ini diakui oleh Ketua Sinode Gereja Kemah Injil (Kingmi) di Tanah Papua, Pendeta Benny Giay, ketika menjawab pertanyaan satuharapan.com, akhir pekan lalu.

"Generasi Papua dewasa ini, terutama beberapa tahun belakangan ini, ada satu atau dua mahasiswa yang memberanikan diri menggunakan bahasa-bahasa baru untuk menjelaskan posisi dan masalah yg menyekitari dirinya. Bahasa-bahasa  seperti: proletariat, kapitalis, buruh, sosialis, atau bahkan menggunakan Lenin untuk nama akun Facebook," kata Benny, dalam percakapan lewat pesan pendek selular.

Menurut Benny, untuk menjawab fenomena ini, perlu ditelisik siapa mereka dan apa agendanya. "Saya kira  kita harus lihat posisi sosial mereka yang mewacanakan istilah-istilah itu. Mereka yang mulai gunakan kata-kata itu adalah anak-anak muda; yang lahir dan besar di masyarakat Papua yang sudah jadi korban dari kebijakan Daerah Operasi Militer (DOM) tahun 1980-an," kata Benny.

Ia melanjutkan, anak-anak muda ini belakangan menemukan dirinya masih  ditawan oleh sistem yang dalam hemat mereka, telah memenjarakan generasi Papua sebelumnya. Menurut Benny, mereka ini sebetulnya punya harapan akan adanya perubahan pada akhir 1990-an. Mereka berpikir  bahwa semua akan berakhir dengan era reformasi dan dengan lahirnya PDP (Presidium Dewan Papua). Sayangnya, kata Benny, yang terjadi selanjutnya,  setelah kongres kedua rakyat Papua, PDP tamat riwayatnya.

"Sehingga  Papua memasuki tahun 2000 dan selanjutnya  berhadapan kembali dengan 'tembok Berlin militerisme' yang sama. Dalam konteks itu, kelompok pemuda ini keluar dengan  wacana dan bahasa seperti begitu," kata Benny.

Hanya saja, Benny menggarisbawahi bahwa anak-anak muda ini ternyata tidak sendirian dengan kecenderungan mencari ideologi baru itu. Dan ia meminta hal ini harus dicermati karena ada kelompok lain..

"Ada kelompok kedua:  kelompok Sion Kids," kata Benny.

Kelompok ini, menurut dia, dipimpin oleh seorang yang terkena umpan intel militer dan terpengaruh oleh "sebuah diktat". Melalui diktat ini, kelompok ini mengatakan ingin membongkar 'pembohongan' yang dilakukan oleh gereja sepanjang sejarah.

Gereja di mata kelompok ini,  kata Benny Giay, membohongi umatnya dengan mengembangkan ajaran yang keluar dari 'akar keyahudian'nya. Oleh karena itu, demikian menurut kelompok ini, Sion Kids  terpanggil untuk menyiasati kebohongan gereja tadi.

"Mereka ini pegang ajaran 'siapa berkati Israel akan diberkati.' Dan supaya dibimbing Tuhan ke tanah pembebasan, harus kembali ke akar keyahudian agama Kristen," kata dia.

Dalam praktik, tutur Benny, mereka antara lain menggunakan salam Yahudi. Lalu, simbol Bintang Kejora pun diganti menjadi Bintang Daud.

Di mata Benny Giay, kelompok ini sama saja dengan kelompok yang mengaku sosialis tadi. Mereka memiliki dasar pengetahuan yang dangkal. Kelompok sosialis tak memiliki akar intelektual Marxis yang teguh, kalangan Sion Kids juga demikian, tak memiliki pengetahuan yang kuat tentang Alkitab.

"Apa yang disuarakan mereka hanya pengetahuan awam atau anak SMA (untuk gagasan tentang sosialis atau Marxis dan Alkitab)," lanjut Benny.

Di mata Benny,  sepak terjang kedua kelompok ini sebenarnya hanya melanjutkan dinamika  generasi sebelumnya untuk menyiasati tembok kekerasan tahun 1970-an dan 1980-an. Yaitu dengan cara menghidupkan kembali aspek-aspek tertentu dari pandangan agama asli Melanesia. Hal ini teristimewa mengenai "zaman bahagia" pada agama-agama asli Pasifik; agama yang sudah ada  sebelum kontak dengan dunia luar dan berinteraksi dengan agama Kristen.

Fenomena ini, kata Benny, sudah didahului oleh gerakan mesianis atau 'gerakan zaman bahagia' di awal tahun 1990-an. Mereka mengusung agenda kesejahteraan dan politik pembebasan Papua. Ini antara lain tampak pada fenomena di Abepura  di awal  tahun 1990-an dengan hadirnya kelompok  baru dengan semangat untuk merebut PT Freeport dan akan membagi semua hasilnya kepada masyarakat secara free.

Berdasarkan latar belakang ini, Benny Giay melihat kegandrungan anak-anak muda Papua terhadap sosialisme tidak lebih dari bunga-bunga politik yang sudah terjadi sejak 1970-an.

"Apakah benar kelompok anak muda tadi berbau sosialis? Apakah mereka meninggalkan gereja? Jawabnya: tidak. Mereka tidak kemana-mana. Mereka masih di Papua. Ideologi mreka untuk Papua Baru tetap didasari pada  freedom dreams (impian pembebasan)," kata Benny.

Mengutip pendapat Robbin Kelly, sejarawan kulit hitam AS, Benny Giay mengatakan freedom dreams di kalangan anak-anak muda Papua itu berakar dalam agama dalam mitologi Papua dan Pasifik.

Editor : Eben E. Siadari


Baca Juga:

Back to Home