Google+
Loading...
INSPIRASI
Penulis: Yoel M Indrasmoro 01:00 WIB | Sabtu, 18 Februari 2017

Akulah TUHAN, Allahmu

Ada hak orang miskin dalam harta milik kita.
Laku berbagi sejak usia dini (foto: istimewa)

SATUHARAPAN.COM – ”Akulah TUHAN, Allahmu.” Demikianlah refrein yang terdengar ketika Musa menyampaikan hukum antarmanusia kepada umat Israel (Im. 19:1-18). Kata ”TUHAN” merupakan terjemahan untuk nama diri ”Yahwe”.

Orang Israel sangat menghormati nama diri Yahwe. Sewaktu membaca Kitab Suci mereka mendapatkan nama tersebut, maka mereka tidak akan mengucapkan ”Yahwe”, melainkan ”Adonai”, yang berarti Tuan! Jika para masyoret—penyalin kitab suci—menemukan nama Yahwe, mereka akan membersihkan tangannya terlebih dahulu sebelum menulis nama tersebut!

Kata ”Allahmu” menyiratkan ada hubungan kepemilikan antara Allah dan umat-Nya. Yahwe seakan mengingatkan—karena sering diulang—bahwa Dia adalah Allah dan umat Israel makhluk-Nya. Yahwe sepertinya hendak mengingatkan umat bahwa Dialah yang menciptakan mereka!

Sejatinya hubungan antarmanusia berkait erat dengan hubungan antara manusia dan Allah. Rusaknya hubungan antara manusia dan Allah mengakibatkan rusaknya hubungan antarmanusia. Dalam kisah jatuhnya manusia ke dalam dosa, kita menyaksikan bahwa putusnya hubungan antara manusia dan Allah membuat Adam menyalahkan Hawa, lalu Hawa menyalahkan ular. Manusia cenderung mencari kambing hitam. Dan ujung-ujungnya Iblis menjadi kambing hitam. Uniknya, Iblis tidak menyalahkan siapa-siapa!

Oleh karena itu, pulihnya hubungan antarmanusia hanya mungkin terjadi tatkala hubungan antara Allah dan manusia pulih. Tak heran setelah prolog ”Kuduslah kamu, sebab, Aku, TUHAN, Allahmu kudus” (Im. 19:1) mengalirlah semua ketetapan dalam hubungan antarmanusia.

 

Hubungan Antarmanusia

”Kalau kamu panen, janganlah memotong gandum yang tumbuh di pinggir-pinggir ladangmu, dan jangan kembali untuk mengumpulkan gandum yang tersisa sesudah panen.... Biarkan itu untuk orang miskin dan orang asing. Akulah TUHAN Allahmu.” (Im. 19:9-10).

Allah ingin umat-Nya berbagi. Meski semua tanaman itu milik sendiri, Allah mengingatkan adanya hak orang miskin. Mereka tidak perlu mengambil semua miliknya karena Allah memberikan tanggung jawab terhadap orang-orang miskin.

”Jangan memeras sesamamu atau merampas barangnya. Upah seseorang yang bekerja padamu jangan kamu tahan, biar untuk satu malam saja.” (Im. 19:13). Allah juga mengingatkan Israel pada hak pekerja. Pekerja wajib mendapat upahnya pada waktunya. Tak ada alasan untuk menahan-nahannya.

”Jangan mengutuk orang tuli dan jangan menaruh batu sandungan di depan orang buta. Hendaklah kamu hormat dan takut kepada-Ku, sebab Aku TUHAN Allahmu.” (Im. 19:14). Bayangkanlah, Israel tidak boleh bertindak sewenang-wenang, bahkan ketika orang itu tidak melihat atau tidak mendengar apa yang kita perbuat.

Semua tindakan tadi mengingatkan Israel bahwa mereka harus berlaku kudus. Dan itu jugalah yang ditegaskan Paulus: ”Sebab bait Allah adalah kudus dan bait Allah itu ialah kamu.” (1Kor. 3: 17).

 

Email: inspirasi@satuharapan.com

Editor : Yoel M Indrasmoro

Back to Home