Loading...
MEDIA
Penulis: Sabar Subekti 10:49 WIB | Sabtu, 20 Februari 2021

Aljazair Bebaskan Jurnalis dan Aktivis Pro Demokrasi

Wartawan Aljazair, Khaled Drareni, disambut oleh para pendukungnya setibanya di rumahnya di Aljir, ibu kota Aljazair, setelah dibebaskan dari penjara Kolea, pada hari Jumat (19/2/2021). (Foto: AFP)

ALJIR, SATUHARAPAN.COM-Otoritas Aljazair membebaskan seorang jurnalis yang dipenjara dan lebih dari 30 aktivis pro demokrasi lainnya pada hari Jumat (19/2), sebagai isyarat perdamaian menjelang ulang tahun kedua gerakan protes “Hirak” mereka.

Dengan meneriakkan "Aljazair yang Bebas dan Demokratis," lusinan orang berkumpul di penjara tempat jurnalis Khaled Drareni, dan aktivis pro demokrasi lainnya ditahan di Kolea, sebelah barat ibu kota Aljir. Mereka berdiri di belakang barisan polisi, mereka bersorak untuk pembebasannya.

“Saya berterima kasih kepada semua yang telah menunjukkan solidaritas dengan kami di Aljazair dan luar negeri, karena perjuangan kami sebagai jurnalis yang bebas dan independen dan perjuangan semua jurnalis yang dipenjara dan semua tahanan opini. Kita semua akan bebas ketika semua narapidana bebas," kata Drareni setelah dibebaskan.

Drareni dipenjara karena dakwaan "menghasut pertemuan tak bersenjata" dan "membahayakan persatuan nasional." Tuduhan itu terkait dengan liputannya tentang gerakan protes. Penangkapannya menuai kritik di luar Aljazair sebagai ancaman terhadap kebebasan pers.

Drareni mendirikan situs berita “Casbah Tribune” dan bekerja untuk saluran televisi Prancis “TV5 Monde,”  dan pengawas media internasional Reporters Without Borders.

“Aku meneteskan air mata, Khaled baru saja dibebaskan!” kata Mahrez Rabia, seorang teman dan jurnalis radio.

Gerakan “Hirak” membantu mendorong mantan presiden Aljazair yang telah lama menjabat pada tahun 2019 dan menginspirasi upaya baru untuk memerangi korupsi. Tetapi pengunjuk rasa menuntut perubahan lebih dalam pada struktur kekuasaan rahasia Aljazair, dan demonstrasi baru diperkirakan akan menandai dua tahun sejak lahirnya gerakan mereka pada hari Senin.

Presiden Abdelmadjid Tebboune pekan ini mengumumkan bahwa dia mengampuni 33 aktivis, merombak pemerintahan dan membubarkan parlemen untuk mengadakan pemilihan awal, sebagian untuk menanggapi tuntutan pengunjuk rasa.

Menteri Kehakiman mengatakan di televisi “Ennahar” bahwa Drareni dibebaskan sebagai bagian dari upaya presiden. Kementerian Kehakiman mengatakan semua aktivis diampuni atas "aktivitas mereka di jejaring sosial atau pertemuan publik." Tebboune mengatakan hingga 56 atau 57 aktivis akan dibebaskan secara keseluruhan. (AP)

Editor : Sabar Subekti

BPK Penabur-Start Up
Zuri Hotel
Back to Home