Google+
Loading...
INSPIRASI
Penulis: Yoel M Indrasmoro 22:26 WIB | Jumat, 13 September 2019

Allah Menyesal

Anugerah Allah merupakan kebutuhan asasi manusia.
Mencari domba yang sesat (foto: istimewa)

SATUHARAPAN – ”Kristus Yesus datang ke dunia untuk menyelamatkan orang berdosa," dan di antara mereka akulah yang paling berdosa” (1 Tim. 1:15). Demikianlah pengakuan Paulus kepada Timotius. Paulus sadar siapa dirinya. Sebelum menjadi rasul, ia adalah seorang yang ganas terhadap siapa pun yang dianggapnya melawan Allah..

Dalam Alkitab, Saulus—yang kemudian berganti menjadi Paulus—pertama kali muncul dalam peristiwa perajaman Stefanus. Lukas mencatat: ”Saulus juga setuju bahwa Stefanus mati dibunuh” (Kis. 7:57-8:1a). Paulus tidak ikut merajam karena bukan seorang saksi. Namun, kehadirannya bukan sambil lalu. Paulus menyetujui aksi tersebut. Bahkan, dia menjaga jubah-jubah algojo yang merajam Stefanus.  

Tak hanya itu, Paulus lalu meminta wewenang kepada imam besar untuk menangkap semua pengikut Kristus dan membawa ke Yerusalem.

Paulus mengaku, hanya karena anugerah Allahlah dia tidak mati. Ia merupakan bukti nyata dari domba yang satu ekor itu dalam perumpamaan Yesus Orang Nazaret (Luk. 15:4-6). Yesus menegaskan bahwa Allah adalah Pribadi yang mencari. Sebagai Gembala, Allah bukan pribadi yang cuek. Ia peduli.

Allah tahu tabiat domba yang lebih suka mencari jalannya sendiri. Ia juga tahu tabiat domba yang tak mau diatur dan menganggap diri selalu benar. Akan tetapi, Allah juga tahu, domba merupakan hewan ringkih, yang akan mati kelaparan atau diterkam serigala jika tidak segera ditemukan. Dan karena itu, Ia mencarinya!

Di kalangan Yahudi, angka 10 melambangkan keutuhan. Dan 100 ekor berarti 10 kali 10—keutuhan sempurna. Jadi, hilangnya seekor domba itu menjadikan kawanan tidak utuh lagi. Allah mencari yang satu itu agar umat-Nya menjadi kembali utuh.

Kisah Israel di padang gurun juga memperlihatkan betapa Allah adalah Pribadi yang mengasihi. Belas kasih-Nya memadamkan murka-Nya. Setelah peristiwa Patung Lembu Emas, penulis Kitab Keluaran mencatat: ”Dan menyesallah TUHAN karena malapetaka yang dirancangkan-Nya atas umat-Nya” (Kel. 32:14).

Kalimat ini telah menjadi barang perdebatan teologis. Masak Allah menyesal? Bukankah Dia berdaulat? Apakah penyesalan-Nya itu tidak bertentangan dengan kesempurnaan-Nya? Namun, apa jadinya jika Allah tetap melaksanakan malapetaka yang dirancang-Nya?

Anugerah Allah merupakan kebutuhan asasi manusia. Sebab manusia, sebagaimana pengakuan Daud, ”jahat sejak dilahirkan, dan kena dosa sejak dari kandungan” (Mzm. 51:7, BIMK).

Editor : Yoel M Indrasmoro

UKRIDA
Zuri Hotel
Back to Home