Loading...
EKONOMI
Penulis: Reporter Satuharapan 22:02 WIB | Jumat, 30 September 2016

Amnesti Pajak Naikkan Peringkat Investasi Indonesia

Presiden Joko Widodo (kiri) berbincang dengan petugas pajak saat melayani wajib pajak yang ikut serta dalam program Pengampunan Pajak di Kantor Pelayanan Pajak Gabungan di Jalan M.I. Ridwan Rais, Jakarta, Rabu (28/9). Presiden mengapresiasi keikutsertaan masyarakat dalam program Pengampunan Pajak (Tax Amnesty). (Foto: Antara)

JAKARTA, SATUHARAPAN.COM - Tim Ekonom DBS Bank memperkirakan lembaga pemeringkat internasional, Standard and Poor`s akan menaikkan peringkat utang atau investasi Indonesia menjadi layak investasi, jika dana repatriasi dan tebusan amnesti pajak terus meningkat dan sesuai target pemerintah.

"Dana repatriasi juga akan menjaga daya tahan rupiah terhadap terpaan volatilitas global dan kenaikan suku bunga Federal Reserve AS," kata ekonom senior DBS Group Research, Philip Wee, melalui pesan elektronik di Jakarta, hari Jumat (30/9).

Dari tiga lembaga pemeringkat internasional, yakni Standard and Poor`s (S and P), Fitch Ratings dan Moody`s Investor Service, hanya S and P yang belum memeringkat Indonesia sebagai layak investasi (investement grade).

Selain untuk menggenjot penerimaan negara dan membiayai proyek infrastruktur, Philip mengatakan, dana tebusan amnesti pajak juga akan memperbaiki kredibilitas fiskal pemerintah yang tercermin dalam Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) yang sehat.

Dana tebusan amnesti pajak, kata dia, dapat menjadi andalan pemerintah untuk menjaga defisit APBN agar lebih terkendali dan tidak melebar di akhir tahun.

Derasnya dana repatriasi amnesti pajak, di samping kondisi fundamen ekonomi domestik yang membaik, membuat DBS menurunkan proyeksi rentang perdagangan rupiah terhadap dolar antara 5,5 persen hingga 6,1 persen.

Dolar AS pun diperkirakan Philip tidak akan menembus level Rp 14.000 dalam satu tahun ke depan.

"Kendati demikian, rupiah tidak berarti kebal terhadap pergerakan mata uang global. Contohnya ketika Tiongkok mendevaluasi mata uangnya pada Januari tahun ini, rupiah kembali terdepresiasi. Begitu pula ketika rakyat Inggris memutuskan untuk keluar dari Uni Eropa (Brexit) pada Juni lalu," ujarnya.

Philip juga mengatakan rencana kenaikan suku bunga The Fed akan tetap mempengaruhi pergerakan rupiah ke depan. Faktor volatilitas rupiah ke depan, kata dia, berasal dari utang luar negeri yang terus meningkat serta cadangan devisa yang masih rendah.

"Tekanan jual terhadap rupiah dapat balik lagi jika utang luar negeri jangka pendek dan defisit transaksi berjalan memburuk lagi," ujar Philip.

Sejalan dengan itu, kondisi fundamen ekonomi domestik juga, kata Philip, telah meningkatkan kepercayaan investor. Pertumbuhan ekonomi yang kembali ke rentang lima persen, kemudian inflasi dan defisit neraca transaksi berjalan yang terjaga membuat kepercayaan terhadap prospek ekonomi Indonesia meningkat.

"Faktor-faktor ini yang memberikan kontribusi pada ketahanan rupiah selama periode volatilitas global tahun ini," tuturnya. (Ant)

 


BPK Penabur
Gaia Cosmo Hotel
Kampus Maranatha
Back to Home