Google+
Loading...
FLORA & FAUNA
Penulis: Dewasasri M Wardani 21:06 WIB | Jumat, 09 Februari 2018

Andewi, Sayur Pahit Baik untuk Pencernaan

Andewi atau endive (Cichorium endivia). (Foto: wikimedia.org)

SATUHARAPAN.COM – Sayur andewi atau endive memang tidak familiar di Indonesia. Andewi merupakan jenis sayuran keluarga sawi. Tampilannya pun jelas mendekati sawi bakso atau selada, namun dengan bentuk daun yang keriting.

Andewi biasanya digunakan sebagai salad, melengkapi sayuran lain. Sayuran ini memiliki rasa yang pahit, namun memiliki tekstur lembut dan renyah, karena mengandung serat dan kadar air tinggi. Daun bagian luarnya berdaging gelap dan lebih pahit rasanya dibanding  bagian dalam, dan akan membantu mengurangi rasa pahit bila kita memasaknya.

Tanaman endive atau andewi  termasuk ke dalam genus Cichorium, yang memiliki berbagai spesies sayuran pahit seperti Cichorium endivia, Cichorium pumilum, dan Cichorium intybus. Andewi  mengandung banyak vitamin dan mineral, terutama folate, vitamin A, vitamin K, dan serat. Ada tiga jenis andewi atau endives yakni: curly endive, frisee, dan escarole.

Sayuran andewi berdaun hijau ini juga merupakan sumber mineral yang baik seperti mangan, tembaga, potassium, dan zat besi. Sayuran ini, dikutip dari medlicker.com, mempunyai rasa pahit yang justru dapat merangsang nafsu makan, dan bertindak sebagai pencahar diuretik dan pencahar ringan.

Sayuran ini sangat ideal untuk mereka yang menderita insufisiensi empedu, anoreksia, masalah pencernaan dan lambung. Kandungan serat yang kaya pada andewi juga membantu menghilangkan limbah melalui saluran pencernaan.

Pemerian Botani Tanaman Andewi

Tanaman andewi atau Cichorium endivia dikutip dari umy.ac.id, adalah tumbuh rendah. Tingginya hanya 15 sampai 25,4 cm.  Tanaman ini mempunyai perakaran dengan bulu akar yang menyebar di dalam tanah.

Sebagaian besar andewi, memiliki batang silinder pendek dan tertekan, berbuku-buku yang merupakan tempat kedudukan daun. Ketika berbunga batang ini memanjang menjadi tinggi dan bercabang.

Daun andewi bentuknya bulat panjang mencapai ukurannya 25 cm dan lebarnya 15 cm atau lebih, sering berjumlah banyak, berposisi duduk (sessile), tersusun berbentuk spiral dalam roset padat. Daun tidak berambut, berkeriput (savoy) atau kusut berlipat.

Teknik menanam andewi, menurut Wikipedia  ditemukan secara tidak sengaja pada tahun 1830-an di Josaphat Valley, Schaerbeek, Belgia. Endive ditanam untuk makanan dengan memotong daunnya, kemudian menutupi pokok dan akarnya di tempat gelap.

Ranting baru akan muncul tetapi tanpa sinar matahari akan tumbuh berwarna putih dan tidak pahit. Saat ini Prancis adalah negara penghasil endive terbesar di dunia.

Menurut  Steve Christman PhD, peneliti senior biologi dari University of Florida, dalam tulisannya yang berjudul Cichorium endivia, yang dikutip dari floridata.com, andewi dapat ditanam di dataran rendah sampai dataran tinggi (pegunungan). Tanaman andewi ini cocok ditanam di daerah yang bermusim dingin, namun ada kerugian jika ditanam di daerah dingin, karena tanaman andewi dapat membusuk karena kelembapan yang tinggi di lingkungannya.  

Tanaman andewi, dikutip dari medlicker.com, adalah tanaman herba berdaun yang termasuk dalam keluarga Asteraceae dari genus Cichorium, dan dalam nomenklatur ilmiah dikenal sebagai cichorium endive. Asal-muasalnya berada di wilayah Mediterania dan telah dikenal selama ratusan tahun melalui orang-orang Yunani, Romawi, dan juga orang-orang Mesir.

Tanaman ini diduga berasal dari Asia Barat, akan tetapi sumber genetik (plasma nutfah) berasal dari kawasan Amerika Serikat. Pada perkembangan selanjutnya, budidaya tanaman andewi ini menyebar luas ke negara-negara yang beriklim sedang maupun panas di belahan dunia. Beberapa negara yang menaruh perhatian sangat serius terhadap tanaman andewi ini antara lain adalah: Jepang, Taiwan, Thailand, Amerika Serikat, dan Belanda.

Andewi, di Belgia dinamai witlof dan witloof. Di Indonesia, andewi belum berkembang pesat sebagai sayuran komersial. Daerah yang banyak ditanami masih dipusat-pusat produsen sayuran seperti Cipanas (Cianjur), Lembang, dan Bandung.

Manfaat Herbal Tanaman Andewi

Tanaman andewi menurut Wikipedia, merupakan sayuran daun yang kaya akan vitamin, terutama vitamin A, asam folat, mineral, dan kandungan serat tinggi.

Tanaman andewi dikutip dari researchgate.net, memiliki kandungan nutrisi yang tinggi. Sayuran ini mengandung lebih banyak kalsium, fosfor, besi dibandingkan dengan selada. Selain itu, juga mengandung  betakaroten, vitamin C. 

Daun andewi memiliki zat bioaktif seperti: inulin (jenis karbohidrat yang mengandung serat tergolong sebagai prebiotik), dan juga senyawa fenolik. Karena adanya zat biologis, andewi sangat bermanfaat untuk kesehatan, terutama untuk sistem pencernaan dan kardiovaskular.

Banyak penelitian yang dilakukan secara in vitro dan in vivo (dengan partisipasi hewan laboratorium), menunjukkan pengaruh dari ekstrak tanaman dari genus Cichorium pada pertumbuhan sel tumor, karena adanya senyawa antioksidan termasuk komponen fenol, yang dapat menghambat perkembangan struktur karsinogenik.

Dalam pengobatan naturopathy (pengobatan yang menggunakan sarana alami) dikutip dari umy.ac.id,  daun andewi dimanfaatkan sebagai obat bagi penderita hernia (lepasnya piringan sendi pada tulang duduk). Mekanisme penyembuhannya melalui penguatan tulang dan sendi.

Secara kimiawi andewi memiliki kandungan nutrisi berupa kalsium, fosfor, kalium, dan magnesium. Kalsium, fosfor, dan magnesium tersebut akan memperkuat piringan sendi yang turun atau melengkung, sedangkan kalium sangat efektif untuk mencegah peradangan sehingga mengurangi rasa sakit yang dirasakan penderita hernia. Selain itu, daun andewi juga baik untuk dikonsumsi oleh penderita kelainan tulang punggung (chiropractic) dan radang urat (tendonitis).

Daun andewi juga mempunyai efek diuretik (peluruh kencing) yang sangat baik, sehingga kadar garam dalam tubuh juga ikut terbuang lewat air seni. Bagi penderita hipertensi, efek ini memberikan manfaat yang signifikan. Penurunan retensi (tekanan) air pada ginjal akan meringankan kerja ginjal sehingga secara tidak langsung akan menurunkan tekanan darah.

Tanaman andewi, dikutip dari dailyhealthmagazine.com, adalah  sayuran yang sangat rendah kalori. Dalam setiap 100 gram daun andewi hanya tersedia 17 kalori atau setara dengan 8 persen dari total kalori yang dibutuhkan oleh tubuh orang dewasa dalam sehari.

Selain itu daun ini juga memiliki kandungan serat yang mampu menurunkan kadar glukosa dalam darah serta menurunkan LDL atau kolesterol jahat, sehingga dapat mengurangi risiko penyakit jantung dan stroke. Selain itu serat yang terkandung dalam sayuran andewi juga sangat baik dalam meringankan penyakit sembelit dan membantu menurunkan berat badan.

Tanaman andewi, dikutip dari Herbal-clinic.com, adalah sayuran yang diperkaya dengan vitamin A dan betakaroten, yang memiliki sifat antioksidan. Karoten diubah menjadi vitamin A dalam tubuh dan digunakan untuk menjaga selaput dan kulit mukosa. Ini juga merupakan vitamin penting untuk penglihatan dan membantu mengurangi degenerasi makula terkait usia.

Tim peneliti dari Departemen Dermatologi, Rumah Sakit Universitas Hadassah, Ein Kerem, dan Departemen Kimia Obat-obatan dan Produk Alami, Sekolah Farmasi, Universitas Ibrani Yerusalem, dan Departemen Ilmu Lingkungan, Universitas Ibrani Yerusalem, Israel, meneliti tanaman andewi, menguji ekstrak etanol dari akar, tangkai, dan perbungaan populasi andewi. Hasil penelitian menunjukkan ekstrak andewi mungkin memiliki sifat pelindung sinar matahari yang membuatnya berguna sebagai tabir surya.

Editor : Sotyati

Back to Home