Loading...
DUNIA
Penulis: Dewasasri M Wardani 09:10 WIB | Sabtu, 02 Juni 2018

Angka Kelahiran Anjlok dan Populasi Jepang Menurun

Ilustrasi. Sebuah survei baru menunjukkan populasi Jepang menurun semakin cepat. (Foto: nhk.or.jp)

JEPANG, SATUHARAPAN.COM – Kementerian kesehatan mengatakan, tingkat kesuburan total Jepang tahun lalu adalah 1,43, turun 0,01 dibandingkan setahun sebelumnya. Angka ini menunjukkan rata-rata jumlah anak per satu wanita.

Provinsi Okinawa memiliki tingkat yang paling tinggi, yaitu 1,94. Tokyo memiliki tingkat paling rendah, yaitu 1,21.

Jumlah bayi yang lahir di Jepang tahun lalu adalah sekitar 946.000, turun 30.000 dibandingkan tahun sebelumnya dan merupakan rekor paling rendah. Jumlah kematian adalah 1,34 juta, naik lebih dari 32.000 dan paling tinggi di Jepang pascaperang. Angka ini berarti penurunan populasi tahun lalu lebih dari 394.000, yaitu rekor tertinggi.

Kementerian kesehatan mengaitkan angka kelahiran yang rendah dengan berkurangnya jumlah wanita usia subur dan pernikahan. Para pejabat kementerian mengatakan mereka berencana menggalakkan langkah-langkah untuk menyokong keluarga yang memiliki anak.

Perempuan Lebih Memilih Berkarier

Menurut Sasakawa Peace Foundation USA, sebuah think tank AS yang didedikasikan untuk penelitian, analisis, dan pemahaman publik yang lebih baik tentang hubungan AS-Jepang, Jepang mengalami "fenomena kembar".  Yakni, tingkat kelahiran di Jepang menyusut, dan populasi bertambah tua juga berkurang, Jepang menghadapi krisis yang tepat saat ini.

Sasakawa USA telah melakukan penelitian ekstensif tentang ini. Bahwa hal ini mungkin tampak seperti "masalah Jepang", tetapi akan mempengaruhi sebagian besar negara maju dalam 30–50 tahun mendatang, termasuk Amerika Serikat.

Profesional muda di Jepang telah menghindari keluarga selama 20 tahun terakhir.

Bagi wanita di Jepang, memiliki anak berarti menikah dan tidak bekerja. Tentu, secara teknis mungkin bagi seorang wanita di Jepang untuk membesarkan anak, sekaligus berkarier sebagai profesional, namun kondisi masyarakat di Jepang, sangat tidak mendukung dan tidak akan membuatnya menjadi mudah.

Hal ini menjadi sangat dilematis bagi perempuan di Jepang, dan keputusan biasanya bermuara pada karier versus anak-anak, yang akhirnya perempuan Jepang memilih untuk berkarier. (nhk.or.jp/tofugu.com)

 

Editor : Sotyati


BPK Penabur
Gaia Cosmo Hotel
Kampus Maranatha
Back to Home