Google+
Loading...
FLORA & FAUNA
Penulis: Dewasasri M Wardani 12:34 WIB | Selasa, 26 Maret 2019

Angsana, Berpotensi Menghambat Bakteri

Angsana (Pterocarpus indicus, Willd). (Foto: flickr.com)

SATUHARAPAN.COM – Angsana atau sonokembang (Pterocarpus indicus, Willd), menurut Wikipedia, adalah sejenis pohon penghasil kayu berkualitas tinggi dari suku Fabaceae (Leguminosae, polong-polongan). Kayunya keras, kemerah-merahan, dan cukup berat. Dalam perdagangan, dikelompokkan sebagai narra atau rosewood, karena adanya aroma serupa mawar yang ringan pada batang kayunya yang basah, juga karena kambium dari kayu memiliki rona kemerahan samar.

Sebagai salah satu tanaman berkambium dengan karakter batang kayu yang cukup kuat di Eropa, rosewood cukup lazim dijadikan bahan baku beragam mebel dan konstruksi bangunan. Di Filipina, tanaman ini sangat banyak tumbuh hingga menjadi tanaman nasional dari negara tersebut.

Tanaman ini biasanya menghiasi pinggiran jalan raya sebagai pohon peneduh. Tinggi pohon angsana bisa mencapai 40 meter.

Pohon angsana, mengutip dari jurnal-online.um.ac.id, menghasilkan getah yang banyak. Getah angsana berwarna merah kental. Getah yang keluar dari pepagan  atau kulit kayu lapisan terluar batang dan akar angsana mengental dan berwarna merah gelap/merah darah, yang disebut kino atau sangre de drago (darah naga), dan memiliki daya obat (astringensia).  

Secara tradisional, pepagan pohon ini biasa direbus dan airnya digunakan untuk menghentikan diare, sebagai obat kumur untuk menyembuhkan sariawan, dan juga untuk mengobati migrain. Kino dan ekstrak daun angsana juga dilaporkan memiliki khasiat untuk mengendalikan tumor, mengendalikan kanker, ekstrak getah batang angsana dapat pula dijadikan penyembuh dalam kasus keracunan.

Djoko Hargono dan kawan-kawan, dari Pusat Penelitian dan Pengembangan Farmasi Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan Departemen Kesehatan dan Fakultas Farmasi Universitas Pancasila, Jakarta, meneliti uji efek antidiare infuse kulit batang angsana terhadap tikus putih jantan.

Kulit batang angsana banyak digunakan oleh masyarakat Indonesia untuk mengobati diare. Penggunaannya masih didasarkan atas pengalaman.

Penelitian itu dilakukan dalam rangka untuk membuktikan efektivitasnya. Kegiatan-kegiatan yang dilakukan meliputi pemeriksaan simplisia secara organoleptik untuk membuktikan kebenaran simplisia yang diteliti, kemudian dilakukan uji LD 50 dan efek antidiare simplisia kulit batang angsana tersebut.

Enam kelompok perlakuan tikus putih jantan terdiri atas satu kelompok negatif, tiga kelompok diberi infus kulit batang angsana, masing-masing dengan kadar 6 persen, 18 persen, dan 60 persen serta dua kelompok kontrol positif. Uji antidiare dilakukan dengan metode transit instinal.

Hasil penelitian menunjukkan infuse kulit batang angsana mempunyai efek antidiare. Semakin besar dosis diberikan semakin besar efek antidiarenya.

Cut Fatimah, Program Magister Ilmu FarmasiUniversitas Sumatera Utara, dalam penelitian berjudul “Uji Aktivitas Antibakteri Ekstrak Daun Angsana (Pierocarpus indicus Willd secara In Vitro dan Efek Penyembuhan Sediaan Salep terhadap Luka Buatan Kulit Marmut yang Diinfeksi”, Penerbit Jurnal Ilmiah PANNMED, tahun 2006 Hal 1(1), melakukan penelitian uji aktivitas antibakteri ekstrak daun angsana pada bakteri Staphylococcus aureus, Streptococcus pyogenes, Escherichia coli, dan Pseudomonas aeruginosa, dan uji sediaan salep bentuk hidrofil dan hidrofob pada luka buatan kulit marmut yang diinfeksikan dengan Staphylococcus aureus.

Hasil penelitian menunjukkan ekstrak etanol daun angsana (EEDA) mempunyai aktivitas penghambatan pertumbuhan yang baik pada Staphylococcus aureus, dan kurang baik pada Streptococcus pyogenes. Sediaan salep EEDA yang diuji pada penyembuhan luka buatan kulit marmut yang diinfeksikan dengan Staphylococcus aureus memberikan hasil yang lebih baik dibandingkan dengan EEDA yang tidak dalam bentuk sediaan (P<0,05). Salep EEDA hidrofil mempunyai efek penyembuhan luka kulit marmut buatan yang lebih baik dibandingkan dengan salep EEDA hidrofob dan salep gentamisin yang beredar di pasaran (P< 0,05).

Pemerian Botani Angsana

Angsana, mengutip dari biodiversitywarriors.org, merupakan pohon meranggas dan jenis tanaman pohon tinggi. Tingginya dapat mencapai 10-40 m. Diameter batang 2 m, biasanya bentuk pohon jelek, pendek, terputir, beralur dalam, dan berbanir. Kayu mengeluarkan eksudat merah gelap yang disebut kino atau darah naga.

Daun majemuk dengan 5-11 anak daun, berbulu, duduk bergantian. Bentuk daun bulat telur memanjang, ujungnya meruncing, tumpul, mengkilat.

Bunga angsana majemuk tandan, yang terletak di ujung ranting atau muncul dari ketiak daun, sedikit atau tidak bercabang, berambut cokelat, berbunga banyak, baunya sangat harum. Kelopak bunga berbentu lonceng sampai bentuk tabung, bergigi 5. Mahkota bunga berwarna kuning jingga. Daun mahkota berbuku, bendera bunga berbentuk lingkaran atau bulat telur terbalik, berlipat kuat, melengkung kembali, garis tengah lebih kurang 1 cm, lunas bunga lebih pendek daripada sayap, pucat.

Buah berupa polong. Polong tidak merekah terbungkus sayap besar (samara). Berbentuk bulat, cokelat muda.

Penyebaran alami dari pohon ini yakni di Asia Tenggara – Pasifik, mulai Birma Selatan menuju Asia Tenggara sampai Filipina dan kepulauan Pasifik. Dibudidayakan luas di daerah tropis. Sebaran pohon yang luas ditemukan di hutan primer dan beberapa hutan sekunder dataran rendah, umumnya di sepanjang sungai pasang surut dan pantai berbatu.

Angsana merupakan jenis pionir yang tumbuh baik di daerah terbuka. Tumbuh pada berbagai macam tipe tanah, dari yang subur ke tanah berbatu. Sering menjadi tanaman hias di taman dan sepanjang jalan. Namun, populasinya berkurang akibat eksploitasi berlebihan, kadangkala penebangan liar menyebabkan hilangnya habitat pohon angsana.

Angsana, mengutip dari fkik.uin-alauddin.ac.id, adalah tanamana hias yang banyak dimanfaatkan sebagai peneduh. Bunganya berwarna kuning dengan aroma semerbak. Getah  yang dikeluarkan dari batang akibat luka berwarna merah. Potongan batang yang ditanam di tanah dapat  tumbuh dengan baik sebagai tanaman baru.

Menurut Wikipedia nama binomial angsana adalah Pterocarpus indicus, Willd., dengan sinonim Pterocarpus papuanus Mueller. Di beberapa daerah, angsana dikenal dengan nama-nama yang mirip, antara lain asan (Aceh), sena, sona, hasona (Batak),  asana, sana, langsano, lansano (Minangkabau), angsana, babaksana (Betawi), sana kembang (Jawa, Medan).

Angsana juga dikenal dengan nama lokal yang lain, nara (Bima, Seram), nar, na, ai na (Timor), nala (Seram, Haruku), lana (Buru), lala, lalan (Ambon), ligua (Ternate, Tidore, Halmahera), linggua (Maluku), dan lain-lain.

Sebutan di negara-negara lain, di antaranya apalit (Filipina), pradu (Thailand), chan deng (Laos), padauk, sena, ansanah (Burma), Malay padauk, red sandalwood, amboyna (bahasa Inggris), serta santal rouge, amboine (bahasa Prancis).

Tak seperti anggota marga Pterocarpus lain yang menyukai wilayah ugahari, angsana menyukai lingkungan hutan hujan tropika. Secara alami, pohon ini ditemukan mulai dari Burma bagian selatan, melewati Asia Tenggara dan Kepulauan Nusantara hingga ke Pasifik barat, termasuk di China selatan, Kepulauan Ryukyu, dan Kepulauan Solomon.

Di Jawa, pada masa lalu banyak ditemukan tumbuh tersebar di hutan-hutan terutama di Jawa Tengah dan Jawa Timur. Di Kalimantan didapati tumbuh liar di rawa-rawa pantai, di sepanjang aliran sungai pasang surut. Buahnya yang tua dan mengering, disebarkan oleh angin, aliran air, dan arus laut. Kini angsana juga telah menyebar luas hingga ke Afrika, India, Sri Lanka, Taiwan, Okinawa, Hawaii, dan Amerika Tengah.

Kuat dan awet, serta tahan cuaca, kayu angsana dapat digunakan dalam konstruksi ringan maupun berat, dalam bentuk balok, kasau, papan, dan panil kayu yang lain untuk rangka bangunan, penutup dinding, tiang, pilar, jembatan, bantalan rel kereta api, kayu-kayu penyangga, untuk konstruksi perairan bahari dan lain-lain.

Warna dan motif serat kayunya yang indah kemerah-merahan, menjadikan kayu angsana  sebagai kayu pilihan untuk pembuatan mebel, kabinet berkelas tinggi, alat-alat musik, lantai parket, panil kayu dekoratif, gagang peralatan, serta untuk dikupas sebagai venir dekoratif untuk melapisi kayu lapis dan meja berharga mahal. Sifat kembang susutnya yang rendah setelah kering, menjadikan kayu ini cocok untuk pembuatan alat-alat yang membutuhkan ketelitian.

Batang yang terserang penyakit sehingga berkenjal (monggol) menghasilkan kayu yang kuat dan bermotif bagus, yang terkenal sebagai “amboyna”. Istilah ini berasal dari nama tempat Ambon, yang pada masa silam banyak mengeluarkan kayu angsana yang diperdagangkan sebagai linggua, kayu buku, atau kayu akar.

Angsana juga sering ditanam sebagai pagar hidup dan pohon pelindung di sepanjang tepi kebun wanatani. Perakarannya yang baik dan dapat mengikat nitrogen, mampu membantu memperbaiki kesuburan tanah. Karena tajuknya yang rindang, angsana kemudian juga populer sebagai tanaman peneduh dan penghias tepi jalan di perkotaan, khususnya di Asia Tenggara. Mengingat tekanan yang tinggi atas populasinya di alam, sejak 1998 Badan Konservasi Dunia IUCN telah memasukkan Pterocarpus indicus ke dalam kategori Rentan (VU, vulnerable).

Manfaat Herbal Angsana

Angsana, mengutip dari wima.ac.id, adalah salah satu tanaman yang memiliki banyak potensi untuk dikembangkan sebagai obat bahan alam. Angsana yang mengandung zat warna merah, narrin, santalin, angolensin, pterokarpin, pterostillben, homopterokarpin, prunetin(prunusetin), formonoetin, isoliquiritigenin, asam p-hidroksihidratropik, pterofuran, pterokarpol, dan beta eudesmol serta  epicatechin, terbukti memiliki banyak khasiat, yakni sebagai obat bisul, obat kumur untuk sariawan mulut, penyakit murus, dan obat kencing manis atau diabetes mellitus.

Ayu Lestari Nusa, dari Fakultas Kedokteran dan Ilmu Kesehatan Univeritas Islam Negeri Alauddin Makassar, meneliti “Antiinflamasi Ekstrak Daun Angsana (Pterocarpus indicus) terhadap Mencit (Mus musculus)”.

Penelitian itu dilakukan dengan pemberian secara oral suspensi ekstrak daun angsana dalam konsentrasi 4 persen, 6 persen, dan 8 persen, natrium CMC sebagai kontrol negatif dan natrium diklofenak sebagai kontrol positif.

Pengukuran dilakukan tiap-tiap 1 jam selama 6 jam setelah diinduksi dengan karagen. Hasil penelitian setelah dianalisis secara statistik dengan metode Rancangan Acak Lengkap (One Way Anova) menunjukkan bahwa konsentrasi ekstrak tersebut memiliki aktivitas antiinflamasi.

Dwi Wiji Lestari dan Yudi Satria dari Balai Besar Kerajinan dan Batik Yogyakarta, meneliti pemanfaatan kulit kayu angsana sebagai sumber zat warna alam pada pewarnaan kain batik sutra.

Para peneliti ingin mengetahui kualitas pewarnaan alami dari kulit kayu angsana pada kain batik sutra. Berdasar hasil penelitian, kulit kayu angsana terbukti dapat digunakan sebagai sumber zat warna alam untuk batik sutra. Arah warna yang dihasilkan adalah cokelat tua pada suasana pencelupan asam dengan mordan akhir tunjung, cokelat kemerahan pada suasana pencelupan asam mordan akhir tawas, cokelat kemerahan pada suasana pencelupan basa mordan akhir tawas, dan cokelat tanah pada suasana pencelupan basa dengan mordan akhir tunjung. Hasil uji ketahanan luntur warna terhadap pencucian dari sampel pewarnaan menunjukkan skala 4-5 (baik).

Editor : Sotyati

Back to Home