Loading...
DUNIA
Penulis: Sabar Subekti 16:22 WIB | Rabu, 25 November 2015

Apa Buntut Jatuhnya Jet Rusia oleh Turki?

Jet tempur Rusia ditembak jatuh oleh jet tempur Turki, hari Selasa (24/11) di dekat perbatasan Suriah. (Foto: Hurriyet)

MOSKOW, SATUHARAPAN.COM – Presiden Rusia, Vladimir Putin, mengatakan bahwa serangan jet tempur Turki yang menjatuhkan jet tempur Rusia di sekitar perbatasan dengan Suriah akan memiliki ‘’konsekuensi yang serius’ dalam hubungan kedua negara, dan terutama terkait perang di Suriah’

Seperti diberitakan sebelumnya bahwa Turki, yang juga anggota pakta pertahanan Atlantik Utara (NATO), pada hari Selasa (24/11) menembak jatuh sebuah pesawat tempur Rusia di perbatasan Suriah.

Militer Turki mengatakan bahwa pesawat itu ditembak jatuh oleh dua pesawat tempur F-16 setelah melanggar wilayah udara Turki sampai 10 kali dan mendapat peringatan dalam lima menit. Namun pihak Moskow menentang hal itu, dan menyatahan insiden itu terjadi di wilayah Suriah.

Gambar jatuhnya pesawat yang ditayangkan televisi Turki menunjukkan bahwa jet tempur Rusia itu terbakar dan jatuh menabrak sebuah gunung di Suriah. Pesawat itu meledak dan mengepulkan asap hitam.

Sejumlah media di Turki mengatakan bahwa kedua pilot keluar pesawat dan jatuh dengan parasut. Namun seorang pilot telah ditangkap oleh pasukan pemberontak di Suriah. Sumber lain menyebutkan satu pilot ditangkap pemberontak Turkmen di Suriah. Namun, seperti dikutip AFP, sumber oposisi Suriah mengatakan satu pilot sudah mati dan satunya lagi hilang.

Pertemuan Darurat

NATO segera mengadakan pertemuan darurat terkait insiden tersebut. Ini adalah insiden pertama  sejak Rusia melancarkan serangan udara di Suriah pada bulan September dan pihak Barat telah menunjukkan kekhawatiran terjadinya ‘’tabrakan’’ udara.

Kehadiran pesawat militer dari Rusia, Amerika Serikat, Prancis, Turki dan beberapa negara Teluk di langit Suriah telah lama menimbulkan kekhawatiran. Insiden itu bisa meningkat menjadi krisis diplomatik dan krisis militer yang lebih besar.

Krisis diplomatik bisa muncul di antara kedua negara, Rusia dan Turki, yang berada pada pihak yang berseberangan dalam konflik Suriah. Dan pihak Rusia marah dengan kejadian itu, serta bersikeras menyebutkan bahwa jet tempurnya tidak pernah memasuki wilayah udara Turki.

Presiden Rusia, Vladimir Putin. (Foto: Ist)



Penembakan terhadap pesawat itu "penusukan yang dilakukan pendukung kaki-tangan teroris," kata Putin pada pertemuan dengan Raja Abdullah II dari Yordania di Moskow.

Putin mengatakan, pesawat jatuh di wilayah Suriah empat kilometer dari perbatasan dengan Turki dan "tidak dengan cara apapun mengancam Turki".

"Peristiwa tragis hari ini akan memiliki konsekuensi serius bagi hubungan Rusia-Turki," kata dia memperingatkan.

10 Kali Melanggar

Sementara militer Turki mengatakan pesawat jatuh di atas Distrik Yayladagi di Provinsi Hatay, Turki, yang berbatasan dengan Suriah.

"Pesawat itu melanggar wilayah udara Turki 10 kali dalam lima menit meskipun telah diperingatkan," kata militer dalam sebuah pernyataan. Ditambahkan bahwa pesawat itu ditembak jatuh pada pukul 07:24 GMT .

Rusia memanggil atase militer Turki di Moskow, sementara Ankara memanggil kuasa usaha Moskow bertemu di  kementerian luar negeri.

"Semua orang harus tahu bahwa hal itu adalah hak internasional dan tugas nasional untuk mengambil tindakan terhadap siapa pun melanggar udara kami atau perbatasan darat," kata Perdana Menteri Turki, Ahmet Davutoglu.

Nasib Pilot

Sejumlah laporan mengatakan bahwa dua pilot pesawat yang jatuh itu dikeluarkan dari pesawat. Televisi Turki menunjukkan gambar dua parasut putih turun ke tanah. Namun nasib mereka tidak diketahui.

CNN-Turk mengatakan pasukan Turkmen Suriah yang menentang rezim Presiden Bashar Al-Assad yang didukung Rusia telah menangkap seorang pilot. Sementara itu, sumber oposisi Suriah kepada AFP seorang pilot sudah mati, yang kedua hilang.

Kantor berita Turki, Dogan, menyiarkan rekaman tentang helikopter Rusia yang terbang di atas wilayah Suriah dalam upaya mencari para pilot.

Presiden Turki, Recep Tayyip Erdogan. (Foto: Ist)



Insiden itu terjadi ketika jet tempur Rusia dan Suriah mengebom sasaran-sasaran di Suriah utara, sementara koalisi pimpinan Amerika Serikat melancarkan serangan udara sendiri.

Turki pernah menyatakan kemarahannya atas operasi itu. Turki mengecam rezim Suriah yang menyerang dan mengakibatkan ribuan Turkmen Suriah mengungsi. Turkmen adalah etnis minoritas di daerah itu dan sekutu penting bagi Ankara.

Namun pihak Rusia menegaskan bahwa serangan udara ditujukan terhadap jihadis Negara Islam Irak dan Suriah (NIIS), yang juga menjadi target serangan koalisi pimpinan AS.

Pertemuan NATO

Atas permintaan Ankara, NATO akan mengadakan pertemuan "luar biasa" pada pukul 16.00 GMT untuk membahas insiden tersebut, kata seorang pejabat NATO.

"NATO memantau situasi dengan seksama. Kami berada dalam kontak dengan pihak berwenang Turki," kata dia.

Jet tempur Rusia pernah memasuki wilayah udara Turki dalam dua insiden terpisah pada bulan Oktober. Hal itu mendorong Ankara untuk memanggil Duta Besar Rusia dua kali untuk menyampaikan protes.

Sementara Turki dan Rusia memang telah lama berselisih mengenai konflik Suriah. Pihak Ankara berupaya menggulingkan Al-Assad, sedangkan Moskow berupaya dengan segala cara untuk mempertahankan kekuasaan Al-Assad.

Selain itu, militer Turki pada bulan Oktober juga menembak jatuh sebuah pesawat tak berawak buatan Rusia yang telah memasuki wilayah udara negara itu. Namun Moskow membantah bahwa pesawat tak berawak itu sebagai milik pasukannya.

Namun demikian, masih ditunggu apakah Turki bisa memanggil untuk diadakannya pertemuan NATO. Turki pada bulan Juli memanggil pertemuan NATO , meskipun jarang menggunakan artikel empat, yang memungkinkan setiap anggota untuk meminta pertemuan untuk 28 duta besar NATO. Namun ketika itu terkait serangan terhadap pemberontak Kurdi.

Menteri Luar Negeri Rusia, Sergei Lavrov, diberitakan mengunjungi Turki pada hari Rabu ini, sebagai upaya untuk mempertahankan hubungan dan menemukan pendekatan bersama untuk menemukan perdamaian di Suriah.

Sementara itu, berkaitan dengan keterlibatan Arab Saudi, Amerika Serikat, Turki dan Rusia dalam pembicaraan di Wina untuk mempersempit perbedaan pada konflik Suriah menjadi lebih penting setelah terjadinya serangan teroris di Paris.

Dan seorang pejabat kementerian luar negeri Turki mengatakan kepada AFP bahwa  kunjungan Lavrov akan berlangsung seperti yang direncanakan. "Tidak ada perubahan dalam program ini," kata dia.


BPK Penabur
Gaia Cosmo Hotel
Kampus Maranatha
Back to Home