Google+
Loading...
DUNIA
Penulis: Reporter Satuharapan 11:14 WIB | Kamis, 18 Mei 2017

Aroma Pemakzulan Donald Trump Mulai Tercium

Presiden Amerika Serikat Donald Trump mengadakan konferensi pers bersama dengan Perdana Menteri Italia Paolo Gentiloni di Gedung Putih di Washington, DC, pada 20 April 2017. (Foto: AFP)

WASHINGTON, SATUHARAPAN.COM - Presiden Amerika Serikat Donald Trump kian tertekan setelah Rabu waktu setempat atau Kamis (18/5) WIB para wakil rakyat mengintensifkan tuntutan penyelidikan oleh mantan direktur FBI atas kasus dugaan persekongkolan antara tim kampanye sang presiden pada Pemilu 2016 dengan Rusia.

Kini semakin banyak politisi Republik yang menyerukan diadakannya investigasi independen atas kasus itu yang bahkan salah seorang wakil rakyat Partai Republik menyinggung pemakzulan.

Gonjang ganjing di Gedung Putih bermula dari pemecatan Direktur FBI James Comey, disusul pembocoran rahasia negara oleh Trump kepada Rusia dan berpuncak kepada memo yang menyatakan mantan direktur FBI James Comey ditekan Trump untuk menghentikan penyelidikan intervensi Rusia dalam Pemilu AS.

Gonjang ganjing ini bahkan menghantam pasar modal di mana Wall Street mengalami tekanan jual yang hebat yang paling buruk sejak September 2016.

Gonjang ganjing itu menyangkut investigasi FBI atas kaitan orang dekat Trump yang juga mantan penasehat keamanan nasional, Michael Flynn, dengan Rusia. Trump diduga telah mengintervensi penyelidikan oleh FBI yang seharusnya bekerja secara independen.

Kendati Ketua DPR Paul Ryan menegaskan Partai Republik yang menguasai kedua kamar Kongres (Senat dan DPR) tidak melihat ada yang salah dalam eksekutif, namun anggota Komisi Hukum Senat dari Partai Republik, Senator Lindsey Graham, menyatakan komisi ini akan mengundang Comey untuk dengar pendapat di Senat.

James Comey menulis memo bahwa Februari lalu Trump pernah berkata kepada dia, "Saya harap Anda menghentikan kasus ini," merujuk kasus Flynn. 

Komisi Pengawasan dan Reformasi Pemerintahan DPR juga akan mengundang Comey untuk dengar pendapat Rabu pekan depan.

Selasa waktu AS, Ketua Partai Republik pada Komisi Pengawasan DPR, Jason Chaffetz, menyatakan 24 Mei adalah tenggat waktu bagi FBI untuk menyerahkan semua matei yang relevan berkaitan dengan komunikasi antara Comey dan Trump. Ryan mendukung permintaan Chaffetz itu.

Sementara itu pada wakil rakyat dari Partai Demokrat meminta Departemen Keadilan untuk menunjuk seorang jaksa khusus untuk menyelidiki kasus Rusia ini. Sekitar 10 anggota DPR dari Partai Republik dan empat Senator Republik menyerukan pembentukan investigasi independen.

Mengintervensi penyelidikan federal bisa dianggap melanggar hukum yang pada akhirnya bisa berujung kepada pemakzulan Trump.

Mengenai landasan pemakzulan, saat ditanya wartawan, anggota DPR dari Republik  Justin Amash berkata, "Jika tuduhan itu benar, ya (bisa dimakzulkan). Tetapi semua orang di negara ini akan menjalani proses hukum yang adil, termasuk presiden atau siapa pun yang lainnya."

Amash adalah anggota faksi garis keras Republik dalam Kaukus Kebebasan di DPR yang sebelunnya pernah menyerukan penyelidikan independen terhadap kasus ini. 

Ketika ditanya apakah dia lebih percaya Comey atau Trump, Amash menjawab, "Saya kira tentu saja saya percaya kepada Direktur Comey."

Jika kian banyak politisi Republik yang tak mengesampingkan pemakzulan, maka DPR yang didominasiPartai Republik bisa saja memakzulkan Trump dan setelah itu peradilan serupa terjadi di Senat akan mengantarkan pemecatan sang presiden. Sejumlah kecil politisi Demokrat juga sudah menyebut-nyebut pemakzulan.

Sebagian besar politisi Republik sudah cukup puas atas penyelidikan intervensi Rusia oleh FBI,  namun beberapa politisi Republik lainnya sudah merasakan gejala pemerintahan Trump goyah.

"Kontroversi demi kontroversi atau saling potong tidak baik untuk pemerintahan mana pun," kata Senator Richard Shelby dari Partai Republik. (antaranews.com/Reuters)

Editor : Yan Chrisna Dwi Atmaja

Back to Home