Google+
Loading...
BUDAYA
Penulis: Reporter Satuharapan 22:13 WIB | Minggu, 17 Februari 2019

Arsitek Popo Danes Dorong Generasi Muda Mengembangkan Sikap Profesional

Popo Danes (kanan) dalam Kelas Kreatif Bentara, pada Sabtu (16/2). (Foto: Bentara Budaya Bali)

GIANYAR, SATUHARAPAN.COM - Rangkaian "Bali Architecture Week 2019: Popo Danes and Friends" di Bentara Budaya Bali (BBB) diisi pula program Kelas Kreatif Bentara, berlangsung Sabtu (16/2). Tampil sebagai narasumber yakni arsitek Popo Danes yang berbagi pengalaman dan proses kreatifnya selama ini. 

Dipandu oleh Vanesa Martida, pada kesempatan itu Popo Danes memaparkan pula kemungkinan-kemungkinan dan pencapaian yang bisa didapatkan dalam bekerja di berbagai bidang dengan sekian banyak pilihan. 

Popo Danes yang merupakan alumnus Universitas Udayana ini terkenal supel dan terbuka, ia telah menciptakan karya arsitekturnya yang pertama sedini usia 17 tahun. Karya-karyanya tidak hanya bisa disaksikan di tanah air, akan tetapi juga terdapat di berbagai kota penting di penjuru dunia.

Popo Danes bukan saja bergaul lintas profesi dan bidang, namun juga tak segan bekerja sama dalam berbagai peristiwa, semisal kolaborasi karya dengan pelukis Tedja Suminar, perupa Wayan Sujana “Suklu”, juga terlibat sejumlah program yang menunjukkan perhatiannya yang luas pada pertumbuhan kesenian dan kebudayaan Bali. 

Studionya, Danes Art Veranda, di Jalan Hayam Wuruk, Denpasar, juga adalah sebuah ruang publik yang secara berkala menghadirkan berbagai peristiwa kesenian dan kebudayaan; dari pertunjukan teater, pameran aneka rupa, hingga susastra berskala nasional maupun internasional. Perhatiannya kepada arsitek-arsitek muda tergambarkan melalui program Architects Under Big 3 yang berlangsung hingga kini di studionya tersebut.

Pada Kelas Kreatif Bentara bertajuk “Professional Development For Young Generation”, Popo Danes mengisahkan awal perjalanannya sebagai arsitek dan jatuh bangun selama berwirausaha. Tidak ketinggalan, Popo Danes juga memberikan catatan-catatan penting bagi peserta, khususnya generasi muda, dalam mengembangkan diri dan meniti karir profesional. 

Di antaranya yakni membangun kecintaan pada suatu bidang, berperilaku positif, mengelola waktu, kemampuan berkomunikasi, mengelola keuangan, berdedikasi pada profesi, memahami prioritas, memiliki pemahaman pada budaya, kebanggaan, hingga menjadi manusia yang bernilai. 

Menurut Popo Danes, seringkali nilai-nilai dasar di atas terabaikan atau tidak lagi dimiliki generasi milenial saat ini. Misalnya saja, banyak anak-anak muda yang kurang mampu menerapkan disiplin dan ketepatan waktu, atau bagaimana memahami dan mengatur skala prioritas mereka di tengah bebagai tuntutan profesional maupun domestik. Sehingga kesempatan-kesempatan berharga atau bernilai justru lewat karena tidak kuasa mengelola waktu dan komunikasi dengan baik. 

Terlebih Popo menyadari bahwa di era kini generasi milenial memperoleh berbagai kemudahan dengan adanya teknologi informasi dan gawai, namun di sisi lain hal tersebut juga menjadikan mereka mudah teralihkan serta sulit fokus pada satu bidang. 

“Saya melihat anak-anak muda sekarang sangat senang mencoba berbagai bidang dan melakukan bermacam hal sekaligus. Namun sangat sedikit sekali yang benar-benar menjadi ahli atau unggul di satu bidang yang ditekuninya, karena mereka dengan mudah berpindah dari satu hal ke hal yang lain. Sementara menurut saya, kemampuan atau keahlian itu tidak harus diterapkan secara horizontal, tetapi vertikal. Meskipun kita hanya memiliki keahlian di satu bidang, namun jadilah yang terbaik di sana, bukan menguasai banyak bidang tetapi kita tidak maksimal dalam semuanya,” ujar Popo Danes. 

Di samping itu, Popo juga menekankan pentingnya nilai-nilai lain seperti be genuine atau menjadi diri sendiri yang orisinil, melakukan segala hal dengan sebaik mungkin, membina hubungan antara manusia, memahami tujuan dari setiap pekerjaan yang dilakukan, saling menghargai, membuat keputusan yang tepat, memiliki sikap sebagai pemenang, peduli terhadap lingkungan, serta memahami bahwa segala hal yang datang kepada kita sebagai satu kesatuan. 

“Kita harus bisa menyesuaikan diri dalam budaya di mana kita berada. Budaya bukan saja yang bersifat modern tapi juga budaya tradisional, dan tidak hanya budaya yang nyata atau kasat mata, tapi budaya yang melekat dalam diri masing-masing orang. Dengan memahami itu, kita membangun sensitivitas kultural ke mana pun kita pergi,” ungkap Popo Danes, peraih berbagai penghargaan dari dalam dan luar negeri. 

Kepeduliannya terhadap lingkungan diterapkan Popo dalam sikap profesionalnya dan rancangan arsitektur yang dibuatnya. Hall tersebut juga membuahkan berbagai penghargaan untuk Popo, antara lain Nominasi The Aga Khan Award for Architecture 2004, Pemenang Pertama ASEAN Energy Award untuk Kategori Bangunan Tropis pada 2004 dan 2008, Pemenang Indonesia’s Construction Design  pada 2003 dan 2009, serta tahun 2018 meraih IAI Awards Kategori Pelestarian. (PR)

 

Back to Home