Loading...
BUDAYA
Penulis: Moh. Jauhar al-Hakimi 23:42 WIB | Jumat, 12 Mei 2017

ART|JOG|10 – 2017 Siap Digelar

ART|JOG|10 – 2017 Siap Digelar
Acara jumpa pers pameran seni rupa ART|JOG 10 - 2017 dihadiri CEO ART|JOG Heri Pemad (keempat dari kiri), kurator pameran Bambang Toko (kedua dari kiri), commission work Wedhar Riyadi (paling kiri) di Karaton Ballroom Royal Ambarrukmo Hotel Yogyakarta, Jumat (12/5). (Foto: Moh. Jauhar al-Hakimi)
ART|JOG|10 – 2017 Siap Digelar
Wedhar Riyadi menyelesaikan karya commission work bertema Floating Eyes. (Foto-foto: Art Jog)
ART|JOG|10 – 2017 Siap Digelar
Karya fotografi Angki Purbandono bersama Nicholas Saputra: Lodge Stone.

YOGYAKARTA, SATUHARAPAN.COM - Bertempat di Karaton Ballroom Royal Ambarrukmo Hotel Yogyakarta, Jumat (12/5) diadakan jumpa pers pameran seni rupa ART|JOG 10 2017 menghadirkan kurator pameran Bambang Toko, seniman commission work Wedhar Riyadi, dan CEO ART|JOG Heri Pemad.

Lima puluh sembilan karya seni rupa dari 59 seniman/perupa aplikasi maupun undangan baik dari dalam dan luar negeri akan dipamerkan di Jogja National Museum (JNM) Yogyakarta. Seniman terlibat diantaranya Edwin "Dolly" Roseno Kurniawan, Angki Purbandono, Gueng Xue (China), Wedhar Riyadi, Sinta Tantra (London), Usami Masahiro (Jepang), Mark Justiniani (Filipina), Linda Sormin (Canada), Nyoman Masriadi.

"Pada penyelenggaraan ART|JOG kali ini kita mencoba menawarkan hal baru. Jika dalam sembilan penyelenggaraan sebelumnya lebih fokus pada pameran seni rupa, kali ini kita lengkapi dengan program pendamping dari seni lainnya mulai performance art, film, musik, dan booth merchandise lebih ditingkatkan. Pameran seni rupa tetap menjadi program utama," kata Heri Pemad.

ART|JOG|10 "Changing Perspective”

"Perkembangan teknologi (dan ilmu pengetahuan) telah mengubah banyak perspektif. Sejalan dengan perkembangan tersebut, bagaimana seniman/perupa meresponnya? Inilah yang menjadi titik tolak kita," papar kurator ART|JOG 10 Bambang Toko.

Perspektif atau sudut pandang berhubungan erat dengan paradigma. Paradigma adalah cara masing-masing orang memandang dunia, yang belum tentu cocok dengan kenyataan. Paradigma adalah petanya, bukan wilayahnya. Paradigma adalah lensa kita, lewat mana kita melihat segalanya, yang terbentuk oleh cara kita dibesarkan, pengalaman, serta pilihan-pilihan kita selama ini.

"15 karya aplikasi terpilih dari sekitar 1.000-an aplikasi yang masuk. Selebihnya undangan dari perupa yang memiliki karya yang kuat. Sebagian besar dipilih tim kurator atas dasar kualitas karya dan tidak semata-mata nama perupa," jelas kurator ART|JOG Bambang Toko.

Dengan Changing Perspective, ART|JOG 10-2017 banyak diikuti oleh perupa yang relatif masih baru dan belum begitu dikenal masyarakat luas. Ini menjadi salah satu cara mengubah sudut pandang dalam penyelenggaraan ART|JOG dengan tawaran-tawaran seniman/perupa muda, jelas Bambang Toko.

Sudut pandang yang berbeda turut pula mendorong panitia membuat hal baru dalam hal penyajian karya di ruang pamer. Jika selama ini ART|JOG lebih banyak "mengubah" area ruang pamer semisal fasad bangunan, pada ART|JOG 10-2017 terjadi perubahan besar dengan "mengganti" area ruang pamer mulai dari bahan hingga tata letaknya semisal menghilangkan dinding pada area parkir, hingga menambah patung R.J. Katamsi karya pematung Wahyu Santoso di JNM untuk mengembalikan nuansa JNM sebagai situs kampus Akademi Seni Rupa Indonesia (ASRI) di masa lalu.

Wedhar Riyadi dengan karya Floating Eyes yang terpilih sebagai commision work mengubah halaman muka gedung pameran dengan ide-ide juxtaposisi dalam bentuk kolam dilengkapi dengan karya isntalasi bola-bola mata. Air pada permukaan kolam dibuat bergelombang dan berpercik yang digerakkan oleh efek (frekuensi) suara dari dasar kolam. Permainan visual oleh Wedhar dari refleksi (pantulan) cahaya serta gerakan permukaan air memungkinkan pengunjung untuk melihat pantulan lingkungan sekitar, dilihat, dan dimaknai sendiri oleh pengunjung.

Mem-branding Kota Yogyakarta dengan event

Selain melibatkan seniman/perupa dari dalam dan luar negeri, ART|JOG 10 - 2017 juga melibatkan galeri seni dari Jepang, China, Filipina. Heri Pemad selaku CEO ART|JOG mengatakan bahwa tidak ada target tertentu dari penyelenggaraan ART|JOG. Namun diakui Heri melalui ART|JOG berusaha untuk membangun pasar dan wacana dalam langkah yang beriringan.

"(Karya-karya) Bisa laku 10 % saja saya sudah bahagia," kata Heri. Dalam perjalanan satu dekade, ART|JOG telah menjadi salah satu representasi perkembangan seni rupa di Yogyakarta dan juga Indonesia. Diluar itu dari sisi ekonomi dengan jumlah pengunjung, karya terjual, geliat ekonomi yang menyertainya selama penyelenggaraan ART|JOG mampu mendorong ekonomi lokal-regional bahkan nasional. Tercatat pada penyelenggaraan tahun lalu 25 karya seni rupa terjual dari 72 karya yang dipamerkan.

"(Selama ini) Jumlah pengunjung ART|JOG tidak sebanding dengan tempat penyelenggaraan pameran. Saya berharap (pemerintah) Kota Yogyakarta memiliki (area) ruang pamer seperti ART|JOG, yang representatif dan terkelola secara optimal sehingga ikon pameran seni rupa yang hanya ada di Yogyakarta seperti ini, yang bisa menjadi potensi destinasi wisata, turut pula masyarakat Yogyakarta memilikinya," kata Heri Pemad kepada satuharapan.com. Dengan demikian Heri berharap suatu saat wisatawan berkunjung ke Yogyakarta menjadikan seni rupa dan seni-seni lainnya menjadi salah satu tujuan wisatanya.

Pameran seni rupa ART|JOG 10 - 2017 akan dibuka pada Jumat (19/5) oleh Gubernur Pemda DI Yogyakarta Sri Sultan Hamengku Buwana X di Jogja National Museum, Yogyakarta dan berlangsung hingga 19 Juni 2017.

Editor : Yan Chrisna Dwi Atmaja


BPK Penabur
Gaia Cosmo Hotel
Kampus Maranatha
Back to Home