Google+
Loading...
SAINS
Penulis: Dewasasri M Wardani 13:27 WIB | Senin, 03 Desember 2018

Atasi Pemanasan Global, Bank Dunia akan Gandakan Bantuan ke Negara Miskin

Ilustrasi. Konferensi pers KTT Perubahan Iklim di Katowice, Polandia, Minggu (2/12). (Foto: Voaindonesia.com)

WASHINGTON, SATUHARAPAN.COM – Bank Dunia pada hari Senin (3/12) mengumumkan akan melipatgandakan pendanaannya untuk membantu negara-negara miskin beradaptasi dengan pemanasan global menjadi sebesar 200 miliar dolar (Rp2. 846 triliun) dalam lima tahun ke depan.

"Apabila kita tidak mengurangi emisi dan memulai adaptasi sekarang, akan ada 100 juta orang lagi yang hidup dalam kemiskinan tahun 2030," kata kepala urusan perubahan iklim Bank Dunia, John Roome, kepada kantor berita Prancis.

"Dan kita juga tahu bahwa apabila kita kurang proaktif mengatasi isu ini di tiga kawasan saja, Afrika, Asia Selatan, dan Amerika Latin, akan ada 133 juta migran iklim,“ kata Roome.

Membantu negara-negara miskin untuk beradaptasi dengan lingkungan yang lebih hangat,  dan cuaca ekstrem meliputi membangun rumah-rumah yang lebih kokoh, mencari sumber-sumber air segar baru, dan apa yang disebut Bank Dunia sebagai "pertanian ramah iklim".

Pengumuman bank itu muncul sementara perundingan antara 200 negara memulai konferensi perubahan iklim selama dua minggu di Katowice, Polandia.

Ancaman pemanasan global "tidak pernah seburuk ini," kata kepala urusan iklim PBB Patricia Espinosa pada awal pembicaraan iklim di Polandia.

"Tahun ini kemungkinan akan menjadi salah satu dari empat tahun terpanas dalam catatan, dampak perubahan iklim tidak pernah seburuk ini. Realita ini menunjukkan bahwa kita harus melakukan lebih banyak lagi," katanya hari Minggu (2/12).

Para juru runding dari hampir 200 negara berkumpul di Kota Katowice, Polandia untuk pembicaraan dua minggu mengenai penerapan Perjanjian Paris 2015 yang penting. Para penandatangan dalam perjanjian itu berjanji untuk mengurangi emisi gas rumah kaca dan membatasi kenaikan suhu global menjadi kurang dari dua derajat celsius pada tahun 2030. (Voaindonesia.com)

Editor : Sotyati

Back to Home