Loading...
BUDAYA
Penulis: Fransiska Sari Indah 16:50 WIB | Kamis, 29 Agustus 2013

Augustin Sibarani, Pelukis Sisingamangaraja, Memamerkan 40 Karyanya

Augustin Sibarani, Pelukis Sisingamangaraja, Memamerkan 40 Karyanya
Augustin Sibarani, pelukis yang mendapat pujian dari Presiden Soekarno atas karya-karya seni lukisannya. (foto: sumut24.com)
Augustin Sibarani, Pelukis Sisingamangaraja, Memamerkan 40 Karyanya
Lukisan Disillusion. (foto : Fransiska Sari Indah)
Augustin Sibarani, Pelukis Sisingamangaraja, Memamerkan 40 Karyanya
Lukisan Sisingamangaraja XII.

JAKARTA, SATUHARAPAN.COM – Salah satu seniman lukis yang pernah berjaya di era Soekarno dan Soeharto, Augustin Sibarani memamerkan karya lukisan di Bentara Budaya Jakarta. Acara pameran tersebut diadakan dari 22 Agustus sampai 29 Agustus 2013.

Augustin Sibarani (87) merupakan seniman yang berkarya di era kepemimpinan Presiden Soekarno dan Soeharto yang sampai sekarang masih aktif dalam melukis. Ia memamerkan 40 lukisannya di tiga ruangan pameran lukisan, galeri lukisan Bentara Budaya Jakarta.

Pada usia 8 tahun, pria kelahiran Pemantang Siantar tersebut pernah bersekolah di Holandsch – Inlandsch School (HIS).Saat bersekolah,  Augustin Sibarani telah menunjukkan bakat seninya ketika ia melukis para gurunya di HIS hanya berdasarkan melihat pasfoto guru-gurunya tersebut.

Pria yang pernah bersekolah di Meer Uitgebreid Leger Onderwijs (MULO) di Medan tersebut, pada kala itu pemerintah Belanda pernah memberikan beasiswa kepada dirinya untuk belajar di Akademi Seni Rupa di Belanda. Sayang pada era tersebut, perang dunia II bergejolak dan pasukan Jerman menduduki Belanda sehingga pemberian beasiswa ke negeri Belanda pun dibatalkan sehingga menimbulkan masygul seperti era RA Kartini.

Jerman, Moskow (Rusia), Wina (Austria) merupakan tempat bagi dirinya untuk memamerkan karya-karya lukisannya di era tahun 1957 hingga 1963. Ia juga pernah malang melintang sebagai karikaturis dan kemudian kembali menekuni seni lukisnya hingga saat ini. Saat ia menjadi seorang karikaturis, ia kembali jadi bintang emas karena pada saat itu Presiden Soekarno memuji karya-karya seni lukisnya. 

Augustinlah yang telah merumuskan pahlawan nasional dari daerah Batak seperti Sisingamangaraja XII sebagai figur dalam lukisannya dan dalam mata uang rupiah yang pada era tersebut memicu perkara hukum. Bank Indonesia tidak mengakui dia sebagai pelukis raja kaum Batak itu.

Ia mengajukan gugatan. Setelah menghabiskan hartanya dalam perseteruan di pengadilan melawan otoritas keuangan Indonesia, ia kalah.

Menurut Direktur Eksekutif Bentara Budaya, Hariadi Saptono, saat ini ia memamerkan kembali lukisan-lukisannya sebagai bentuk ketegasan dan sebagian kearifannya dalam menjalani kehidupan yang elok dan penuh tantangan serta bahaya.

Sebagian lukisan yang ditampilkannya tersebut menceritakan kehidupan sosial politik di tanah air. Dalam lukisannya tersebut sangat jelas ia menceritakan tentang kesenjangan sosial ekonomi dan keruwetan politik negeri ini.

Lukisan yang dipamerkannya kali ini menggambarkan sosok gelandangan, pengamen, wong cilik, dan orang-orang yang tersingkir serta wajah-wajah jelata yang dia wujudkan dalam sebuah cerita di dalam kanvas.

Di samping itu, lukisan yang ditampilkannya tersebut seakan-akan bercerita tentang kehidupan di era orde lama dan sering pula ia mencerita kejadian kehidupan sehari-hari seperti lukisan permainan catur di pasar.

Beberapa lukisannya tersebut juga menceritakan sisi kehidupannya sebagai seorang suami dan seorang keras hati yang sempat tersentuh oleh keindahan alam. Lukisan yang ia pamerkan kali hasil karyanya pada tahun 1973 hingga 2013.

Sulit dipercaya, seorang karikaturis yang lewat karya-karyanya tersebut yang membuat terkapar para penguasa tengik dan kaum elit munafik di zamannya kini hanya bersandar di kursi tanpa suara. Ben Anderson dari Cornell University mengatakan inilah karikaturis utama yang dikagumi oleh Bung Karno. Bung Karno pernah mengatakan kepada dirinya, "Jadilah David Low Indonesia." Low, karikaturis asal Inggris yang dikagumi oleh Soekarno.

Di tengah karut-marut dunia kontemporer saat ini, dengan suasana sosial politik yang tak beranjak dari masa-masa ketika karikaturnya yang berupaya melucuti berbagai kemunafikan. Karya-karya lukisannya mengingatkan kembali kepada kesejatian kita. Dalam karya-karya yang ditampilkannya menawarkan nilai-nilai yang dipeluk oleh seorang seniman yang diabadikan serta ditindas oleh pemerintahnya, namun tetap mencintai bangsanya dengan sepenuh hati.

Editor : Bayu Probo


BPK Penabur
Gaia Cosmo Hotel
Kampus Maranatha
Back to Home