Google+
Loading...
FLORA & FAUNA
Penulis: Dewasasri M Wardani 19:46 WIB | Senin, 03 Desember 2018

Bangle, Efektif sebagai Obat Cacingan

Bangle (Zingiber cassumunar, Roxb.). (Foto: alchetron.com/Dreamstine)

SATUHARAPAN.COM – Bangle, salah satu tanaman temu-temuan, sering disalahartikan sebagai jahe. Mengutip dari daftartanamanobat.web.id, secara fisik bangle memang sangat mirip dengan jahe, dari bentuk rimpang, bunga, hingga daunnya. Namun, keduanya merupakan tanaman yang sangat berbeda, baik dari segi rasa maupun khasiatnya.

Bangle kalah populer dengan jahe. Banyak orang bahkan mungkin baru mendengarnya. Di negara lain, khususnya Thailand, bangle dikenal dengan sebutan plai dan sering digunakan sebagai obat pijat dan bahan makanan.

Plai juga sering digunakan untuk aromaterapi yang berkhasiat mengatasi inflamasi. Dari segi rasa, jahe memiliki cita rasa khas enak, sedangkan bangle memiliki rasa sedikit pedas dan pahit. Dari sisi ukuran, bangle berukuran lebih besar daripada jahe. Kulit rimpang jahe lebih hitam dan sedikit berkerut.

Bangle, dikutip dari biofarmaka.ipb.ac.id, merupakan salah satu tanaman berakar rimpang, yang dapat digunakan dalam pengobatan tradisional. Selain memiliki rasa agak pahit, agak pedas, ciri yang sangat khas dari tanaman obat ini adalah bau atau aromanya yang menyengat. Rimpangnya berbau khas aromatik.

Rimpang bangle, dikutip dari maranatha.edu, mengandung beberapa bahan kimia, yaitu damar, pati, tannin, dan minyak atsiri, seperti sineol serta pinen. Bangle juga memiliki efek farmakologis, sebagai penurun panas (antipiretik), peluruh kentut (karminatif), peluruh dahak (expectorant), pembersih darah, pencahar (laksan), obat cacing (vermifuge).

Tim peneliti dari Akademi Farmasi IKIFA Jakarta, meneliti uji efektivitas anthelmintik ekstrak rimpang bangle terhadap cacing Ascaridia galli secara in vitro. Penelitian ini dilakukan untuk mengamati khasiat anthelmintik pada ekstrak rimpang bangle terhadap Ascaridia galli secara in vitro.

Hasil penelitian menunjukkan rimpang ekstrak bangle memiliki khasiat sebagai anthelmintik, obat yang dapat mematikan atau melumpuhkan cacing dalam usus manusia atau hewan sehingga cacing dapat dikeluarkan bersama-sama dengan kotoran, melawan Ascaridia galli. Hasil penelitian juga menunjukkan jika dikonsumsi rimpang bangle praktis tidak toksis.

Pemerian Botani Bangle

Bangle menurut Wikipedia, tumbuh di daerah Asia tropika, dari India sampai Indonesia. Di Jawa, bangle dibudidayakan atau ditanam di pekarangan di tempat-tempat yang cukup mendapat sinar matahari.

Batang bangle, dikutip dari e-journal.uajy.ac.id, tumbuh tegak dan memiliki rumpun yang rapat. Tinggi tanaman bangle dapat mencapai 1,2-1,8 m. Batang semu bangle tersusun atas kumpulan dari pelepah daun.

Meskipun daun bangle berpelepah, daun bangle tidak memiliki tangkai, atau disebut daun duduk. Letak daun bangle tersusun secara menyirip berseling. Bentuk daun bangle lanset ramping, meruncing ke ujung, dan mengecil ke pangkal. Permukaan daun bangle lemas, tipis, dan licin tidak berbulu, tetapi punggung daun bangle berbulu halus .

Pemetikan daun bangle sebelum waktu panen justru menyebabkan kematian tanaman. Hal ini dikarenakan jumlah daun mempengaruhi pertumbuhan tanaman.

Bunga bangle muncul dari permukaan tanah, berasal dari rimpang samping, dan bukan dari tengah-tengah rumpun. Bunga bangle berbentuk gelendong, dan tangkai bunga merupakan tangkai semu yang tersusun dari tumpukan daun penumpu bunga. Daun penumpu bunga tersusun seperti sisik ikan, bentuknya kaku, tebal, dan berwarna merah atau hijau kecokelatan. Benang sari bunga bangle berwarna putih kekuningan dan ujungnya berbentuk keriting.

Buah bangle berbentuk bulat, kecil. Kulit buah bangle tipis, berbiji banyak, berwarna ungu, dan ukuran bijinya kecil. Bentuk rimpang bangle agak bulat pendek dan tidak banyak bercabang dengan kulit luar berwarna cokelat muda dan daging rimpang berwana oranye tua atau kecokelatan.

Panen bangle dapat berlangsung setelah tanaman berumur 1 tahun lebih. Rimpang sebagai bahan obat dipanen setelah tua, yaitu umur 9-12 bulan setelah tanam.

Bangle, menurut Wikipedia, adalah salah satu tanaman rempah-rempah anggota suku temu-temuan (Zingiberaceae). Rimpangnya dimanfaatkan sebagai bumbu dapur dan bahan pengobatan.

Bangle menurut Wikipedia memiliki nama botani Zingiber cassumunar, dengan sinonim Zingiber purpureum, Roxb.

Dikutip dari biofarmaka.ipb.ac.id, tanaman ini memiliki banyak sebutan. Di Jawa Barat, tanaman ini dikenal sebagai pangle. Di Jawa Tengah dan Jawa Timur dikenal dengan nama bengle.

Nama lokal lain, banggele (Bali), kunyit bolai, bungle, mungle, bengle, banglai, atau kunit bolai (Sumatera), mungle (Aceh), bungle (Tapanuli), kunik bolai (Rana Minang), banglee'iy (Rejang), panglai (Pasundan/Sunda), pandhiyang (Madura), bale (Makassar), panini (Bugis), unin makei (Ambon).

Bangle ditemukan di kawasan India selatan yang beriklim tropis dan kawasan Asia Tenggara seperti Vietnam, Thailand, Malaysia, Indonesia, Myanmar, Laos, dan Kamboja.

Selain memiliki khasiat sebagai obat tradisional, tanaman bangle juga dapat digunakan sebagai aromaterapi, bumbu dapur, insektisida alami, dan juga bahan campuran untuk parfum mawar.

Manfaat Herbal Bangle

Bangle, dikutip dari itb.ac.id, selain dimanfaatkan sebagai rempah, rimpangnya juga dimanfaatkan oleh masyarakat untuk pengobatan. Penyakit yang dipercaya dapat diobati di antaranya demam, sakit kepala, batuk, perut nyeri, masuk angin, sembelit, sakit kuning, cacingan, reumatik.

Bangle juga ditambahkan dalam ramuan jamu, digunakan untuk mengatasi masalah kegemukan dan mengecilkan perut setelah melahirkan.

Rimpang bangle, dikutip dari e-journal.uajy.ac.id, mengandung minyak atsiri dan bahan lain seperti amilum, resin, dan tannin. Bangle biasa digunakan untuk jamu atau obat tradisional.

Rimpang bangle mengandung senyawa aktif seperti kasumunin A-C , dan kasumunarin A - C, kompleks kurkuminoid, phenylbutanoids yang memiliki aktivitas antiinflamasi dan antioksidan, phenylbutenoids yang berpotensi sebagai antikanker, dan antiinflamasi dan immunostimulant. Selain itu,  juga minyak atsiri yang memiliki aktivitas antimikroba, fungisida/antifungi.

Tim peneliti dari Departemen Kimia FMIPA IPB, Bogor, dan  Pusat Studi Biofarmaka LPPM IPB, Bogor, meneliti pengaruh ekstrak bangle (Zingiber cassumunar, Roxb.) terhadap aktvitas enzim kolesterol oksidase secara in vitro. 

Ekstrak kasar bangle yang mengandung flavonoid, steroid, dan tannin yang mampu meningkatkan aktivitas lipase mungkin dapat juga meningkatkan aktivitas kolesterol oksidase, seperti halnya dwifungsi daun jati belanda, sebagai pelangsing dan penurun kolesterol.

Penelitian itu bertujuan untuk mempelajari pengaruh beberapa ekstrak kasar bangle (Zingiber cassumunar) dan gabungannya terhadap aktivitas enzim kolesterol oksidase yang diukur secara in vitro. Hasil uji fitokimia menunjukkan ekstrak air seduhan dan ekstrak etanol mengandung alkaloid, flavonoid, saponin, triterpenoid, dan steroid.

Ekstrak kasar flavonoid hanya mengandung flavonoid, ekstrak kasar tanin hanya mengandung tannin, dan ekstrak kasar steroid mengandung flavonoid dan steroid.

Hasil uji menunjukkan ekstrak air, ekstrak kasar metanol, tanin dan steroid dapat meningkatkan aktivitas enzim kolesterol oksidase dan dapat menghambat aktivitas enzim kolestrol oksidase secara in vitro.

Lia Marliani dari Prodi S1 Farmasi, Sekolah Tinggi Farmasi Bandung, meneliti aktivitas antibakteri dan telaah senyawa komponen minyak atsiri rimpang bangle (Zingiber cassumunar, Roxb). Minyak atsiri merupakan salah satu komponen rimpang bangle yang memiliki aktivitas farmakologi.

Penelitian itu dilakukan untuk mengetahui aktivitas antibakteri minyak atsiri rimpang bangle. Minyak atsiri diperoleh dengan cara destilasi air dari rimpang segar. Hasil pengujian aktivitas antibakteri menunjukkan nilai konsentrasi hambat minimum (KHM) minyak atsiri rimpang bangle untuk bakteri Staphylococcus aureus dan Escherichia coli. Senyawa 4-terpeniol diduga merupakan zat aktif antibakteri dalam minyak atsiri rimpang bangle.

Rimpang bangle mengandung senyawa aktif seperti cassumunin A-C dan cassumunarin A-C yang memiliki aktivitas antioksidan, phenylbutanoids, yang berpotensi sebagai antikanker, antiinflamasi, dan immunostimulant.

Tim peneliti Sekolah Farmasi Bandung meneliti efek ekstrak rimpang bangle terhadap penyembuhan tukak lambung ekstrak pada tikus yang diinduksi aspirin. Dalam sistem gastrointestinal, tukak lambung adalah salah satu penyakit serius yang umum terjadi. Tukak lambung adalah ketidakseimbangan antara faktor pertahanan agresif dan mukosa. Ketidakseimbangan antara faktor pertahanan agresif dan mukosa memiliki kontribusi terhadap perkembangan penyakit tukak lambung.

Penelitian itu dilakukan untuk mengevaluasi efek penyembuhan tukak lambung dari ekstrak rimpang bangle pada model tikus yang diinduksi aspirin. Dari penelitian dapat disimpulkan,  ekstrak rimpang bangle memiliki aktivitas antiulkus, potensial pada model tikus yang diinduksi aspirin.

Tim peneliti dari Universitas Mahidol Amnat Chareon Campus, Thailand meneliti aktivitas antibakteri sinergistik in vitro dari minyak atsiri dari bangle terhadap strain Acinetobacter baumannii yang resistan terhadap obat.

Dalam penelitian itu, tim peneliti menentukan aktivitas antibakteri dan sinergi dari minyak esensial bangle terhadap strain XDR Acinetobacter baumannii yang secara ekstensif resistan terhadap obat. Sifat antibakteri dan sinergi dari minyak esensial bangle diperiksa dengan tes difusi cakram agar.

Tim peneliti menemukan minyak esensial dari bangle memiliki aktivitas antibakteri terhadap Acinobacter baumannii. Minyak esensial sepenuhnya dapat menghambat Acinobacter baumannii pada 1 jam, dan bakteri berbentuk coccoid ditemukan setelah perawatan.

Selain itu, minyak esensial memiliki efek sinergis ketika dikombinasikan dengan antibiotik, misalnya, aminoglikosida, fluoroquinolon, tetrasiklin, dan inhibitor jalur folat. Dengan demikian, minyak esensial dari bangle memiliki aktivitas antibakteri dan sinergis yang kuat terhadap XDR Acinobacter baumannii, yang dapat memberikan dasar bagi pengembangan terapi baru terhadap bakteri yang resistan terhadap obat.

Tim peneliti Balai Penelitian Veteriner Bogor, dan Jurusan Farmasi, Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam, Institut Sains dan Teknologi Nasional, Jakarta, meneliti efek antelmintik infuse dan ekstrak rimpang bangle terhadap cacing Haemonchus contortus secara in vitro.

Penelitian dilakukan untuk mengetahui efek antelmintik dari rimpang bangle terhadap cacing Haemonchus contortus secara in vitro. Hasil penelitian menunjukkan sediaan infus dan ekstrak rimpang bangle mempunyai efek antelmintik terhadap cacing Haemonchus contortus. Sediaan ekstrak lebih efektif dibanding sediaan infus. Makin tinggi konsentrasi pada kedua sediaan tersebut maka efektivitasnya makin baik.

Editor : Sotyati

Back to Home