Loading...
SAINS
Penulis: Dewasasri M Wardani 09:09 WIB | Kamis, 11 Februari 2016

Banjir dan Longsor Mengancam 166 Kabupaten/Kota

Ilustrasi Tim SAR gabungan bersama warga bersama-sama berusaha mengevakuasi korban tertimbun longsor di Desa Penungkulan, Purworejo, Jateng. (Foto: BNPB.go.id)

JAKARTA, SATUHARAPAN.COM - Kepala Pusat Data Informasi dan Humas Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) Sutopo Purwo Nugroho mengatakan, terdapat 166 kabupaten/kota di Tanah Air terdampak banjir dan tanah longsor selama Januari sampai awal Februari (1 Januari-8 Februari) 2016.

Potensi hujan tinggi, kata Sutopo terjadi di sebagian Sumatera Barat, Bengkulu, Lampung, seluruh Jawa, Bali, Nusa Tenggara Barat (NTB), Sulawesi Selatan, Sulawesi barat, Sulawesi Tenggah, Papua dan Papua Barat. Di wilayah-wilayah tersebut lanjut Sutopo sangat rawan banjir, longsor dan angin puting beliung.

Sutopo mengatakan, "Otomatis curah hujan pada bulan Februari terjadi peningkatan, itulah yang terjadi mengapa minggu pertama Februari terjadi banyak curah hujan, karena adanya perlambatan musim curah hujan dan kita melihat banyak daerah-daerah yang rawan terjadi banjir dan longsor, dan kita perkirakan pada bulan Februari 2016, banjir, longsor akan masih mengancam.”

Ia menjelaskan, adanya pengaruh El Nino menyebabkan jumlah hujan berkurang dan sebarannya tidak merata selama Januari 2016.

"Hujan pada Januari yang lebih kecil menyebabkan kejadian banjir dan longsor pada Januari 2016 menurun dibandingkan Januari 2015, yaitu penurunan kejadian banjir sebesar 43 persen dan longsor 75 persen," katanya.

Mundurnya musim hujan, kata dia, menyebabkan puncak musim hujan terjadi pada Februari 2016 sehingga banjir, longsor, dan puting beliung berpotensi banyak terjadi bencana pada bulan ini.

"Selain itu, korban meninggal akibat banjir dan tanah longsor sebanyak 43 orang, luka berat enam orang, dan luka sedang lima orang," kata Sutopo dalam konferensi pers "Penanganan Banjir dan Longsor" di kantor BNPB, Jakarta, Rabu (10/2).

Selanjutnya, kata dia, korban terdampak banjir dan tanah longsor sebanyak 75.549 jiwa.

"Kerugian akibat banjir dan tanah longsor sebanyak 418 unit rumah rusak berat, 76 unit rumah rusak sedang, dan 488 unit rumah rusak ringan," kata Sutopo.

Lebih lanjut Sutopo menjelaskan, longsor adalah salah satu jenis bencana yang paling menelan banyak korban. Dan ini menurutnya harus segera diantisipasi oleh pemerintah daerah mengingat 41 juta orang tinggal di daerah-daerah rawan longsor dan mereka betul-betul terpapar langsung.

Peta perkiraan wilayah potensi gerakan tanah longsor dan banjir ini dibagikan kepada seluruh pemerintah daerah, dengan maksud agar pemda dapat melakukan antisipasi dan sosialisasi kepada masyarakat.

Sutopo menyatakan, dampak perubahan iklim global sangat signifikan berpengaruh terhadap banjir dan longsor di tambah juga oleh akibat ulah manusia yang merusak lingkungan seperti kawasan hutan dan resapan air

Dia juga meminta pemerintah daerah untuk mengaudit ulang mengenai tata ruang dan implementasinya.

"Karena kalau tidak ini merupakan bom waktu selalu terjadi longsor, korban selalu meninggal dan apabila tidak segera dilakukan maka ya itu akan menjadi bom waktu. Wilayah-wilayah zona merah ini akan makin berkembang akan menjadi kawasan pemukiman semakin padat, yang otomatis akan semakin mengancam," katanya. (Ant/Voaindonesia.com)

 

Editor : Eben E. Siadari


BPK Penabur
Gaia Cosmo Hotel
Kampus Maranatha
Back to Home