Google+
Loading...
INDONESIA
Penulis: Ignatius Dwiana 09:16 WIB | Senin, 03 Februari 2014

Barisan Pengingat Selenggarakan Run to Remember

Barisan Pengingat Selenggarakan Run to Remember
Barisan Pengingat. (Foto: Koleksi Ignatius Dwiana)
Barisan Pengingat Selenggarakan Run to Remember
Penggagas Barisan Pengingat Okky Madasari. (Foto: Koleksi Ignatius Dwiana)

JAKARTA, SATUHARAPAN.COM – Barisan Pengingat menyelenggarakan kegiatan lari pertama di Indonesia yang menempatkan isu HAM dan keadilan sebagai dasar dan tujuan kegiatan. Kegiatan bertajuk‘Run to Remember’ ini berlangsung di Jakarta pada Minggu (2/2).

Dengan berlari bersama sejauh 5 kilometer, peserta diajak untuk mengingat, peduli, dan mempertanyakan kasus-kasus HAM dan ketidakadilan yang terjadi dalam masyarakat. Kegiatan ini mulai pukul 07.00 WIB dengan rute start mulai dari Halte Busway Gelora Bung Karno hingga finish di jalan Imam Bonjol.

Penggagas Barisan Pengingat Okky Madasari kepada satuharapan.com mengatakan, “Barisan Pengingat ingin menggunakan cara-cara khas anak muda melalui pendekatan budaya. Makanya salah satunya digagas acara lari ini ‘Run to Remember’. Karena kegiatan seperti inilah yang dekat dengan anak muda.”

Lanjutnya, “Dengan menggunakan cara-cara yang digandrungi anak muda diharapkan ide-idenya, pesannya, lebih tepat sasaran, lebih bisa mengena ke anak muda.”

Barisan Pengingat merupakan gerakan budaya yang tidak terkait dengan kepentingan politik apapun dan bebas dari kepentingan bisnis. Barisan Pengingat dirancang sebagai gerakan tempat bertemunya aneka pemikiran dan kreativitas dengan satu tujuan untuk memperjuangkan keadilan dan kemanusiaan.

Selain kegiatan lari, novelis peraih Khatulistiwa Literary Award 2012 untuk novel Maryam  menyebutkan bahwa Barisan Pengingat juga membuat dinding berpuisi di sudut-sudut tembok Jakarta. Penyair Wiji Thukul yang juga aktifis Jaringan Kerja Kesenian Rakyat (JAKER) yang hilang diculik pada masa Orde Baru diangkat sebagai ikon gerakan Barisan Pengingat. Tujuannya untuk mendekatkan,”sastra dalam hal ini Widji Thukul dan penyair-penyair lainnya kepada khalayak. Selain itu juga ingin menyampaikan muatan-muatan itu ke dalam masyarakat. Jadi tahun ini Barisan Pengingat memilih Widji Thukul sebagai ikon gerakan.”

Dinding berpuisi merupakan pesan-pesan yang disampaian dengan mural dan graffiti. Ini adalah,”upaya untuk mengkritik bagaimana kota kita ini dipenuhi iklan politik, iklan caleg, iklan perusahaan.” Ruang-ruang kota yang penuh dengan pesan komersil itu, “Sekarang kita rebut kembali dengan sastra.” 

Editor : Yan Chrisna Dwi Atmaja

Back to Home