Google+
Loading...
FLORA & FAUNA
Penulis: Dewasasri M Wardani 17:18 WIB | Senin, 24 Desember 2018

Bawang Dayak, Umbinya Berkhasiat Antibakteri

Bawang sabrang atau bawang dayak dengan nama ilmiah Eleutherine palmifolia (L) Merr. (Foto: herbaceousborneo.blogspot.com)

SATUHARAPAN .COM – Sesuai namanya, bawang dayak  atau atau bawang sabrang ini, banyak dibudidayakan oleh suku Dayak di Kalimantan.

Sepintas, rupanya mirip bawang merah. Bentuknya berlapis dengan kulit dan daging umbi berwarna merah. Namun, dilihat lebih dalam lagi, bawang dayak memiliki warna merah lebih pekat, cenderung sedikit ungu merah. Selain itu, lapisan daging buahnya juga lebih tebal dan terkesan lebih kokoh dari bawang merah biasa.

Bawang dayak memiliki ciri khas permukaan yang licin dan bau yang tidak menyengat. Ketika diiris, tidak akan menyebabkan mata perih layaknya bawang merah pada umumnya. Ciri khas lain, apabila di pegang maka warna merah pada bawang dayak ini akan menempel di tangan.

Yang menarik, bawang dayak ini rupanya lebih dikenal sebagai bahan obat tradisional ketimbang sebagai bahan bumbu masak. Rasanya yang lebih getir, membuatnya tidak cocok untuk dimanfaatkan sebagai bumbu masak.

Bawang dayak diketahui memiliki kandungan fitokimia seperti alkaloid, flavanoid, steroid, glikosida, fenolik dan zat tanin yang semuanya berperan besar terhadap kesehatan.

Dr Sukrasno MS, farmakolog dari Sekolah Farmasi Institut Teknologi Bandung, menyebutkan bawang dayak mengandung zat antibakteri dan antioksidan yang sangat tinggi, sehingga dapat mengobati beragam penyakit baik ringan maupun berat.

Bawang dayak, dikutip dari kalbar.litbang.pertanian.go.id, sudah secara empiris dipergunakan masyarakat Dayak sebagai tanaman obat. Wikipedia menyebutkan, biasanya umbinya digunakan untuk mengobati kanker, jantung, antiradang, antipendarahan, serta untuk meningkatkan imunitas atau sistem kekebalan tubuh.  

Umbi bawang dayak juga dapat mengobati sembelik, disentri, bisul, luka, kanker payudara, diabetes, hipertensi, muntah, penyakit kuning dan hiperkolesterol.

RY Galingging, dalam bukunya, Bawang Dayak (Eleutherine palmifolia) sebagai Tanaman Obat Multifungsi (Penerbit Warta Penelitian dan Pengembangan 15(3): 2-4, tahun 2009), menyebutkan kandungan kimia umbi bawang dayak dapat bersifat antikanker, antiinflamasi, antibakteri, dan antioksidan. Kandungan yang telah dilaporkan tersebut adalah tanin, polifenol, flavonoid, kuinon, glikosida, asam stearat, asam galat, eleutherinone, eleutherol, eleutherine, dan isoeleutherin.

Pemerian Botani Bawang Dayak

Bawang dayak menurut Wikipedia, banyak tumbuh di daerah pegunungan dengan tinggi antara 600–1,500 m dpl. Bawang dayak menyukai tempat-tempat terbuka dengan tanah yang banyak humus dan lembab.  

Bagian tumbuhan yang ditanam adalah umbinya. Bawang dayak tumbuh liar di hutan, dengan bunga berkelopak lima, berwarna putih dan hanya tumbuh saat gelap. Ciri spesifik tanaman ini, dikutip dari kalbar.litbang.pertanian.go.id, umbi tanaman ini berwarna merah menyala dengan permukaan yang sangat licin.

Letak daun berpasangan dengan komposisi daun bersirip ganda. Daun bawang dayak, berbentuk pita dengan panjang antara 15–20 cm dan lebar 3–5 cm, mirip tanaman palem. Tipe pertulangan daun sejajar dengan tepi daun licin, dan bentuk daun berbentuk pita berbentuk garis.

Selain digunakan sebagai tanaman obat, tanaman ini juga dapat digunakan sebagai tanaman hias karena bunganya indah. Bawang dayak memiliki adaptasi yang baik, dapat tumbuh dalam berbagai tipe iklim dan jenis tanah. Tanaman ini juga dapat diperbanyak dan dipanen dalam waktu singkat, sehingga tanaman ini dapat dengan mudah dikembangkan untuk kepentingan industri.

Bawang dayak, dikutip dari kalbar.litbang.pertanian.go.id, adalah tanaman yang memiliki nama latin Eleutherine palmifolia, (L) Merr. Bawang dayak memiliki nama lokal yang beragam, seperti bawang twai, bawang sabrang, bawang berlian, bawang lubak, teki sebrang, atau bawang hantu.

Manfaat Herbal Bawang Dayak

Bawang dayak, dikutip dari umm.ac.id, merupakan tanaman khas Kalimantan, dan tumbuhan ini termasuk ke dalam suku Iridaceae. Bawang ini sudah secara turun-temurun digunakan masyarakat Dayak sebagai tanaman obat. Secara empiris, tanaman ini biasa digunakan oleh masyarakat pedalaman sebagai obat ramuan tradisional, merupakan obat alami untuk mengatasi berbagai penyakit degeneratif, kronis, dan akut.

Bawang dayak dapat digunakan dalam bentuk segar, simplisia, manisan, dan dalam bentuk bubuk.

Hasil penelitian dikutip dari repository.ipb.ac.id, menunjukkan umbi bawang dayak mengandung senyawa naphtoquinonens dan turunannya seperti elecanacine, eleutherine, eleutherol, eleuthernone.

Naphtoquinones dikenal sebagai antimikroba, antifungal, antivirial, dan antiparasitik. Selain itu, naphtoquinones memiliki bioaktivitas sebagai antikanker dan antioksidan yang biasanya terdapat di dalam sel vakuola dalam bentuk glikosida .

Sedangkan H Winarsi, dalam bukunya berjudul Antioksidan Alami dan Radikal Bebas (Penerbit : Kanisius Yogyakarta, tahun 2007), menyebutkan bahwa senyawa alkaloid, glikosida, fenolik, steroid, flavonoid, tannin, dapat berperan sebagai antioksidan yang mampu menghambat pembentukan dan aktivitas radikal bebas sehingga dapat mencegah kerusakan sel yang lebih berat .

Ni Luh Indrawati SFarm Apt dan Razimin SSi Apt, dalam buku Bawang Dayak Si Umbi Ajaib Penakluk Aneka Penyakit (Penerbit  AgroMedia Pustaka), membahas bawang dayak sebagai mutiara Borneo yang memiliki segudang khasiat, juga pembahasan ilmiah bawang dayak, manfaat untuk menumpas aneka penyakit, teknik peracikan untuk pengobatan, hingga ramuan secara spesifik untuk 23 jenis penyakit ringan dan berat, seperti kanker, diabetes, jantung, hipertensi, hepatitis, TBC, bronkhitis, sinusitis, radang, asam urat, rematik, infeksi, gondok, pencernaan, ambeien, nyeri haid, bisul, kewanitaan, hingga peningkat gairah seksual.

Tim peneliti dari Fakultas Farmasi, Universitas Muhammadiyah Purwokerto, meneliti bawang dayak dan ubi ungu (Ipomoea batatas L.) berpotensi sebagai bahan tanaman obat untuk menurunkan kolesterol. Penelitian itu bertujuan untuk mengukur pengaruh pemberian ekstrakbawang dayak dan ekstrak ubi ungu dalam menurunkan kadar kolesterol dan trigliserida darah pada tikus jantan yang diberi diet kuning telur puyuh 10 ml/KgBB.

Hasil analisis menunjukkan dosis perlakuan untuk masing-masing ekstrak yang menunjukkan efek penurunan kolesterol dan trigliserida darah.

Erika Nuur Anisa Putri  dari Fakultas Farmasi Universitas Muhammadiyah Surakarta, meneliti Uji aktivitas antikanker kombinasi ekstrak eatanol umbi bawang dayak dan biji sirsak dengan metotreksat .

Kanker payudara merupakan salah satu penyebab kematian di dunia paling banyak setelah kanker paru-paru, kanker perut, dan kanker hati. Penelitian ini dilakukan untuk mengetahui aktivitas antikanker kombinasi ekstrak etanol umbi bawang dayak dan biji sirsak dengan metotreksat terhadap sel T47D. Pengujian sitotoksik dilakukan dengan metode MTT.

Uji kombinasi antara ekstrak etanol biji sirsak dengan metotreksat menunjukkan hasil yang sinergis pada konsentrasi 35 mikrogram/mL biji sirsak dan 2, 4 mikrogram/mL metotreksat menunjukkan hasil yang sinergis dengan nilai IK (Indeks Kombinasi) adalah 0,71 dan 0,39. Sedangkan hasil uji kombinasi antara bawang dayak dengan metotreksat menunjukkan aktivitas yang antagonis.

Ririn Puspadewi dkk, dari Fakultas Farmasi, Universitas Jenderal Achmad Yani  Bandung , meneliti  khasiat umbi bawang dayak sebagai herbal antimikroba kulit. Secara empiris umbi bawang dayak sudah digunakan masyarakat lokal untuk mengobati luka dan obat bisul. Berkaitan dengan hal tersebut, telah dilakukan  penelitian untuk melihat  aktivitas antimikrobanya terhadap  mikroba kulit yaitu Staphylococcus aureus dan Trichophyton  rubrum

Infeksi Staphylococcus aureus diasosiasikan dengan beberapa kondisi patologi, di antaranya bisul, jerawat, pneumonia, meningitis, dan arthritits. Hasil penelitian menunjukkan ekstrak etanol dapat menghambat pertumbuhan Staphylococcus aureus dan menghambat pertumbuhan Trichophyton rubrum .

Tim peneliti dari program studi pendidikan dokter Fakultas Kedokteran Universitas Tanjungpura, meneliti uji aktivitas antibakteri kombinasi infusa umbi bawang dayak dan daun mangga bacang terhadap Staphylococcus aureus secara in vitro,

Staphylococcus aureus adalah bakteri yang sering menyebabkan infeksi oportunistik. Beberapa strain bakteri ini diketahui resistensi terhadap banyak antibiotik seperti antibiotik penicillin dan betalactam yang dikenal sebagai Methicillinresistent S aureus (MRSA).

Penelitian kali ini berusaha mencari agen antibakteri alternatif lain untuk melawan Staphylococcus aureus dari berbagai tanaman obat tradisional.

Penggunaan tanaman tradisional dalam pengobatan seperti umbi bawang dayak dan daun mangga bacang telah menjadi kebiasaan pada masyarakat Kalimantan Barat. Pola penggunaan tanaman obat sering dilakukan dengan teknik perebusan dan dikombinasikan, sehingga hal ini menjadi dasar pemilihan teknik kombinasi infusa tanaman dalam penelitian ini.

Dari penelitian ini ingin diketahui kandungan metabolit sekunder dan aktivitas antibakteri kombinasi infusa umbi bawang dayak dan daun mangga bacang dengan menilai diameter zona hambat yang terbentuk. Hasilnya menunjukkan aktivitas antibakteri kombinasi infusa umbi bawang dayak dan daun mangga bacang terhadap Staphylococcus aureus.

Editor : Sotyati

Back to Home