Google+
Loading...
INSPIRASI
Penulis: Endang Hoyaranda 07:29 WIB | Senin, 20 Agustus 2018

Bebas Berarti Tanggung Jawab

”Jangan tanyakan apa yang negara dapat lakukan untukmu, bertanyalah apa yang dapat Kau lakukan untuk negaramu” (John F. Kennedy, Presiden Amerika Serikat ke-35).
Merdeka (foto: istimewa)

SATUHARAPAN.COM – Ini sebuah perenungan.

Setiap kali memperingati Hari Kemerdekaan 17 Agustus, ada saja pikiran yang mengganggu: setelah sekian lama Indonesia menikmati kemerdekaan yang diperjuangkan dengan susah payah, apa yang sesungguhnya sudah dicapai bangsa ini?

Dalam nada optimis, kita bisa dengan yakin katakan: Indonesia adalah negara dengan penduduk ke-4 terbesar, dengan ekonomi terbesar ke 16 sedunia. Jumlah gedung pencakar langit sudah tak terhitung. Jumlah mal? Indonesia juaranya.

Tanyakan kepada sejumlah orang, termasuk mereka yang bukan warganegara Indonesia, maka akan diakui bahwa Indonesia adalah negara yang memiliki potensi sangat besar, alam yang cantik,  kekayaan sumber daya alam yang luar biasa. Namun, mungkin akan muncul pernyataan tambahan: sayangnya tata kelola negara masih jauh dari memadai, dibandingkan dengan banyak negara lain; kemiskinan masih menjadi masalah besar, korupsi merajalela. Setelah 73 merdeka, Indonesia masih saja masuk dalam kategori negara yang sedang berkembang.

Perkembangan di banyak bidang nyata terjadi, namun perkembangan moral secara gross jelas mundur.  Nilai benar dan salah tercampur aduk. Rasa malu jika berbuat salah sudah langka. Sejumlah besar koruptor ternyata adalah penyelenggara negara. Penerima suap bisa menyatakan bahwa dipikirnya pemberian dari pihak swasta adalah sah-sah saja. Aparat hukum yang menjatuhkan hukuman yang tidak adil atau membela penjahat dengan membabi buta masih saja bermunculan. Koruptor yang tertangkap, menghadap kamera wartawan dengan tersenyum. Kata rekannya, ”Tertangkap itu hanya sial.”

Memang benar kita sudah 73 tahun merdeka, namun acap kemerdekaan dihayati sebagai hak tanpa kewajiban. Kebebasan  tanpa tanggung jawab.  Sementara kebebasan yang sesungguhnya, yaitu kebebasan yang bertanggung jawab, jarang diminati orang karena bagi banyak orang, tanggung jawab itu menakutkan.

Apalagi, ada pula mereka yang menghendaki kebebasan yang semata-mata ingin menjawab pertanyaan: what is in it for me? Apa keuntungannya bagi saya? Jika menguntungkan, akan saya jalankan, namun jika tidak, biarlah itu bagi orang lain saja. Jika perlu, saya melanggar aturan atau berkompromi dengan kebenaran demi memperoleh keuntungan bagi diri sendiri. Bukan bagi kepentingan orang banyak. Bukan pula agar kebenaran dan kebaikan terjaga. Kebebasan tanpa aturan. Padahal—menurut Theodore Roosevelt, Presiden Amerika Serikat ke 26—keteraturan tanpa kebebasan, maupun kebebasan tanpa aturan, keduanya sama merusaknya,.    

Terasa sangat pesimistis.

Berita baiknya adalah harapan untuk upaya perbaikan mulai tampak. Suara lirih yang memperjuangkan kebenaran dan kebaikan terasa semakin kuat. Harapan memang tak pernah boleh dipadamkan. Lalu, saya teringat sebuah cerita yang menguatkan niat untuk terus memperjuangkan kebaikan, moral, etika, integritas, tata kelola yang amanah. Berikut cerita yang saya baca berpuluh tahun lalu:

Seorang anak muda sedang berjalan menyusuri pantai yang sunyi. Di kejauhan ia melihat sosok yang berjalan mendekat. Semakin dekat, ia bisa melihat bahwa sosok itu terus-menerus memungut sesuatu di pasir lalu melemparkannya ke laut yang sedang menyurut.

Ketika sudah sangat dekat, ia menghampiri sosok itu lalu menyapanya: ”Selamat sore, Kek, saya memperhatikan Kakek sejak tadi memungut dan membuang sesuatu ke laut, apa sesungguhnya yang sedang Kakek kerjakan?”

”Saya sedang menyelamatkan bintang-bintang laut ini”.

”Menyelamatkan bintang laut? Sebanyak ini? Kapan Kakek akan selesai dengan pekerjaan penyelamatan itu?”

”Memang tidak akan pernah selesai, Nak, namun setiap bintang laut yang saya lemparkan kembali  adalah kehidupan yang terselamatkan.”

Pekerjaan yang terhampar di depan bagi bangsa kita memang masih luar biasa banyak. Ujungnya pun belum tampak. Namun, itu tidak berarti kita tak lagi punya harapan. Dalam lingkaran kepedulian kita masing-masing, sebesar atau sekecil apa pun, pasti ada yang bisa diperbuat untuk menyelamatkan sebuah atau sejumlah kehidupan.

Mungkin perbuatan besar, tetapi mungkin juga perbuatan sederhana seperti membantu mereka yang terkena bencana, atau sekadar memberi nasihat yang dibutuhkan seorang kawan. Di bidang apa pun. Ketika perbuatan sederhana diulangi terus-menerus, pasti akan  menampakkan  hasil.

Sedikit demi sedikit akan menjadi bukit. Kata ibu Teresa, ”Bukan seberapa banyak yang Kau berikan, melainkan seberapa banyak cinta kasih yang menyertai pemberian itu.”

Itu yang penting.

Email: www.satuharapan.com

Editor : Yoel M Indrasmoro

Back to Home