Google+
Loading...
FLORA & FAUNA
Penulis: Dewasasri M Wardani 22:10 WIB | Kamis, 06 Juni 2019

Bekantan, Monyet Berhidung Panjang Terancam Punah

Bekantan (Nasalis larvatus). (Foto: iucnredlist.or)

SATUHARAPAN.COM – Bekantan sering dikenal sebagai maskot wahana hiburan Dunia Fantasi (Dufan), Taman Impian Jaya Ancol, Jakarta. Namun, tidak banyak yang tahu monyet hidung panjang ini maskot fauna Provinsi Kalimantan Selatan.

Bekantan (Nasalis larvatus) atau Proboscis monkey, mengutip dari ipb.ac.id, adalah spesies endemik yang mendiami hutan bakau (mangrove) di Pulau Kalimantan, baik di wilayah Indonesia, Malaysia, ataupun Brunei Darussalam.

Bekantan tersebar luas di hutan-hutan sekitar muara atau pinggiran sungai di Kalimantan. Di Kalimantan Selatan, bekantan dapat ditemui di daerah hutan rawa, muara, atau pinggiran sungai Pulau Kaget dan Pulau Laut.

Di Kalimantan Barat, satwa ini menempati daerah hutan bakau di dalam kawasan Taman Nasional Gunung Palung. Di Kalimantan Tengah, bekantan mudah dijumpai di Taman Nasional Tanjung Puting, atau di sekitar Sungai Mahakam. Selain itu, bekantan juga ditemukan di Taman Nasional Kutai serta hutan rawa gambut dan hutan bakau di pantai Kalimantan Timur.

Bekantan, mengutip dari Lembaga Penelitian dan Pengabdian Masyarakat Universitas Lambung Mangkurat, Banjarmasin, merupakan salah satu primata endemik Kalimantan yang terdaftar sebagai satwa yang dilindungi peraturan perundang-undangan Indonesia, maupun dunia.

Di Indonesia, bekantan dilindungi oleh beberapa peraturan. Salah satunya, PP No 07 Tahun 1999. Dunia internasional melindungi bekantan dengan memasukkannya ke dalam kategori genting (endangered) melalui IUCN (International Union for Concervation of Nature and Natural Resources), dan tergolong Apendix I oleh CITES (Convention on International in Endangered Species of Wild Fauna and Flora).

Tri Atmoko, dalam tesisnya, “Pemanfaatan Ruang oleh Bekantan (Nasalis larvatus, Wurmb) pada Habitat Terisolasi di Kuala Samboja, Kalimantan Timur” (Program Pascasarjana, Institut Pertanian Bogor, 2012), menyebutkan bekantan mengalami penurunan populasi 50-80 persen dalam kurun waktu 36-40 tahun terakhir. Kegiatan alih fungsi habitat, kebakaran hutan, dan perburuan satwa liar yang tidak terkendali menjadi penyebab utama hal tersebut.

Jatna Supriatna  dan Edy Hendras Wahyono, dalam buku berjudul Panduan Lapangan Primata Indonesia (Penerbit Yayasan Obor Indonesia, 2000), berpendapat setidaknya 47 persen habitat bekantan menghilang. Usaha perlindungan terhadap satwa maskot dari Provinsi Kalsel ini terkesan sulit direalisasikan, mengingat kebanyakan habitatnya berada di luar kawasan konservasi.

Guru besar Kehutanan IPB, Prof Hadi S Alikodra, mengatakan secara tak sadar, hidup manusia bergantung pada bekantan. Sebab, keutuhan habitatnya turut menunjang kehidupan manusia yang ada di sekitarnya maupun di seluruh dunia. “Masyarakat dunia bisa turut menikmati keutuhan habitat bekantan. Sebab, hutan mangrove yang menjadi habitat bekantan adalah penyerap karbon yang cukup tinggi,” katanya, yang dikutip wwf.or.id, pada 5 Desember 2017.

Erik Meijaard dan Vincent Nijman, dalam laporan penelitian  berjudul “Distribution and conservation of the proboscis monkey (Nasalis larvatus) in Kalimantan Indonesia” (Penerbit Biological Conservation 92:15-24, 2000), menyatakan di Kalimantan terdapat 153 titik sebaran habitat bekantan, dan diperkirakan masih banyak lagi habitat bekantan yang tidak teramati bahkan hilang sebelum diamati.

Morfologi Bekantan

Bekantan, mengutip dari ipb.ac.id, memiliki ciri bentuk hidung yang unik, sehingga mudah dikenal di antara primata lainnya. Hidungnya panjang, dengan bagian muka tidak ditumbuhi rambut.

Panjang ekor bekantan hampir sama dengan panjang tubuhnya, sekitar 559-762 mm. Warna rambut pada tubuhnya bervariasi. Bagian punggung berwarna cokelat kemerahan, sedangkan bagian ventral dan anggota tubuhnya berwarna putih keabuan. Ukuran hidung pada jantan dewasa lebih besar daripada betina, demikian pula ukuran tubuhnya. Berat tubuh bekantan jantan sekitar 16-22 kg, sementara betina beratnya sekitar 7-12 kg.

Bekantan merupakan satwa arboreal (hidup di pohon), namun terkadang turun ke lantai hutan untuk alasan tertentu. Pergerakan dari dahan ke dahan dilakukan dengan berbagai cara, misalnya dengan melompat, bergantung, atau bergerak dengan keempat anggota tubuhnya.

Bekantan juga perenang ulung, karena di bagian telapak kaki dan tangannya memiliki selaput kulit (web) seperti pada katak, sehingga memudahkan untuk menyeberang sungai.

Bekantan termasuk primata diurnal, yang melakukan aktivitas mulai pagi hingga sore hari. Menjelang sore hari, bekantan umumnya akan mencari pohon untuk tidur di sekitar tepi sungai. Anggota kelompok akan bergabung dalam satu pohon atau pohon lain yang berdekatan. Bekantan tidak membuat sarang untuk tidurnya.

Bekantan mengkonsumsi hampir semua bagian tumbuhan dengan komposisi yaitu lebih dari 50 persen daun muda, sekitar 40 persen buah, dan sisanya bunga dan biji. Selain mengkonsumsi sumber pakan asal tumbuhan, bekantan kerap kali mengkonsumsi beberapa jenis serangga. Saat musim surut, bekantan sering turun ke tanah mencari serangga tanah.

Bekantan, menurut Wikipedia, memiliki nama ilmiah Nasalis larvatus, merupakan satu dari dua spesies dalam genus tunggal monyet Nasalis. Di Kalimantan, bekantan dikenal juga dengan nama kera belanda, pika, bahara bentangan, raseng, dan kahau.

Berdasarkan filogenetiknya, bekantan termasuk ke dalam famili Cercopithecidae, dan genus Nasalis. Saat ini, terdapat dua subspesies Nasalis larvatus, yaitu: Nasalis larvatus larvatus dan Nasalis larvatus orientalis.

Ciri-ciri utama yang membedakan bekantan dari monyet lain adalah hidung panjang dan besar yang hanya ditemukan di spesies jantan. Fungsi dari hidung besar pada bekantan jantan masih tidak jelas, namun ini mungkin disebabkan oleh seleksi alam. Monyet betina lebih memilih jantan dengan hidung besar sebagai pasangannya. Karena hidungnya inilah, bekantan dikenal juga sebagai monyet belanda. Dan, dalam bahasa Brunei disebut bangkatan.

Upaya Konservasi

Mengutip Wikipedia, berdasarkan dari hilangnya habitat hutan dan penangkapan liar yang terus berlanjut, serta terbatasnya daerah dan populasi habitatnya, bekantan dievaluasikan sebagai Terancam Punah di dalam IUCN Red List. Spesies ini didaftarkan dalam CITES Appendix I.

Masa depan bekantan berada dalam keadaan sangat kritis. Kerusakan dan konversi habitat, kebakaran hutan dan pembalakan liar, menjadi penyebab utama penurunan populasi bekantan. Sampai tahun 1995, tercatat habitat bekantan tersisa sekitar 39 persen dan yang berada pada kawasan konservasi hanya 15 persen.

Degradasi hutan riparian (wilayah yang memiliki karakter yang khas, perpaduan lingkungan perairan dan daratan) habitat bekantan, berlangsung cepat. Pada umumnya kawasan tersebut mempunyai nilai ekonomi tinggi bagi masyarakat yang tinggal di sekitar bantaran sungai.

Dalam kehidupan sehari-hari, sungai merupakan jalur transportasi utama bagi masyarakat, sedangkan hutan riparian dimanfaatkan oleh masyarakat sebagai permukiman dan ladang. Bismark dan S Iskandar, dalam laporan penelitian berjudul “Kajian total populasi dan struktur sosial bekantan (Nasalis larvatus) di Taman Nasional Kutai, Kalimantan Timur”, (Penerbit Buletin Penelitian Hutan, 631, pp.17–29, 2002), menyebutkan hal tersebut menyebabkan populasi bekantan terus menurun dan sebaran sub populasi menjadi lebih terkotak-kotak (jarak antarsubpopulasi semakin jauh) .

Selain itu, menurut MA Soendjoto dalam bukunya, Adaptasi Bekantan (Nasalis larvatus Wurmb) terhadap Hutan Karet: Studi Kasus di Kabupaten Tabalong, Kalimantan Selatan, (Penerbit Institut Pertanian Bogor, 2005), anggapan masyarakat bahwa bekantan merupakan hama pengganggu ladang, dapat menjadi ancaman kelestarian populasi bekantan di alam.

Sebenarnya, bekantan, dikutip dari mongabay.co.id, edisi 5 Desember 2017, memiliki peran ekologi penting pada ekosistem lahan basah dan kawasan mangrove, serta sebagai pengatur silvikultur hutan. Namun, keberadaannya kian terancam akibat kehilangan habitat, terutama disebabkan  pembalakan liar, koversi hutan, juga oleh aktivitas perburuan.

JA McNeely dan kawan-kawan, dalam laporan penelitian “Conserving the World’s Biological Diversity” (1990), menyebutkan habitat bekantan berkurang seluas 40 persen dari 29.500 km2, sedangkan yang berstatus kawasan konservasi hanya 4,1 persen. Pada tahun 2000, laju deforestasi habitat bekantan mencapai 3,49 persen per tahun.

Dari enam tipe ekosistem habitat bekantan, pada tahun 1995 terjadi penurunan luas habitat antara 20-88 persen dan laju penurunan habitat ini, baik di dalam maupun di luar kawasan adalah dua persen per tahun. Akibatnya, populasi bekantan cenderung menurun, karena primata ini kurang toleran terhadap kerusakan habitat.  

Selain itu, terjadi proses adaptasi bekantan yang terdesak ke arah perkebunan, namun tidak terlepas dari kebutuhannya terhadap sumber air, danau, dan sungai, dengan berbagai tumbuhan sebagai sempadan sungai atau danau kecil .

Karakter bekantan sangat sensitif dan sulit beradaptasi. Mereka menyukai habitat alam yang tidak diganggu manusia. Mereka biasa ditemukan di tipologi habitat luas, yakni hutan mangrove, rawa gelam, hutan karet, dan hutan Dipterocarpaceae.

Ancaman hidup yang lain adalah perburuan. Para ahli bekantan menyatakan jumlah populasinya di seluruh kawasan konservasi pada tahun 1990, diperkirakan 5.000  individu. Sekarang populasi di kawasan-kawasan tersebut tinggal 50 persen.

Pada kondisi lingkungan yang tidak mendukung di habitatnya, bekantan berusaha beradaptasi dari berbagai ancaman yang dihadapinya. Namun, bila tekanan yang dihadapi melebihi kemampuan beradaptasinya, bukan tidak mungkin monyet endemik Kalimantan ini akan mengalami kepunahan lokal.

Beberapa solusi untuk konservasi, seperti dikutip dari wwf.or.id, adalah adanya penunjukan areal perlindungan khusus bekantan. Upaya konservasi yang juga mungkin dilakukan adalah menetapkan beberapa areal habitat bekantan yang relatif masih aman sebagai areal perlindungan bekantan. Di samping itu, mulai dilakukan kegiatan wisata terbatas untuk menyusuri areal mangrove sambil melakukan pengamatan bekantan. Bisa dilakukan wisata riset khusus untuk mahasiswa lokal, nasional dan internasional.

Editor : Sotyati

TOA
Bank Central Asia
Zuri Hotel
Back to Home