Google+
Loading...
BUDAYA
Penulis: Moh. Jauhar al-Hakimi 22:35 WIB | Selasa, 08 Agustus 2017

"Belt and Road": Membaca Geliat (Pasar) Seni Grafis

"Belt and Road": Membaca Geliat (Pasar) Seni Grafis
Salah satu karya sketsa yang dibuat perupa Syahrizal Pahlevi saat mengikuti program residensi "Belt and Road" di China Guanlan Original Printmaking Base (CGOPB), Shenzen-China, 23 Mei - 23 Juli 2017. (Foto-foto: Moh. Jauhar al-Hakimi)
"Belt and Road": Membaca Geliat (Pasar) Seni Grafis
Bincang santai dan ekspose karya selama program residensi "Belt and Road" oleh perupa Syahrizal Pahlevi di New Miracle Prints, Jalan Suryodiningratan No. 34 A Yogyakarta Rabu (2/8) sore.
"Belt and Road": Membaca Geliat (Pasar) Seni Grafis
Syahrizal Pahlevi di studionya, New Miracle Prints.

YOGYAKARTA, SATUHARAPAN.COM - Seniman grafis-pelukis Yogyakarta Syahrizal Pahlevi selama 2 bulan (23 Mei-23 Juli 2017) mendapat undangan dari China Guanlan Original Printmaking Base (CGOPB), sebuah studio grafis yang berada di Shenzen, China.

Dalam rangka berbagi cerita dan eskpose karya selama program residensi, Rabu (2/8) sore bertempat di New Miracle Prints, Jalan Suryodiningratan No. 34 A Yogyakarta, Levi panggilan Syahrizal Pahlevi menggelar bincang santai bersama dua belas seniman-perupa Yogyakarta diantaranya Mulyana Gustama, Basori, Anton Sutopo, Mumtaz khan (Afghanistan), Meuz Prast, kolektor benda seni Yan Arista.

Dalam paparan ceritanya, Levi menjelaskan program residensi bertajuk "Belt and Road" yang diikutinya melibatkan 25 seniman grafis dari negara-negara yang dilalui jalur sutra. Karya hasil residensi akan disertakan dalam 2nd Silk Road International Cultural Expo pada September 2017 di Shenzen, Cina. Levi menjadi satu-satunya peserta residensi dari Indonesia.

"Setiap peserta residensi diwajibkan membuat 2 karya seni grafis. Satu karya bercerita tentang China. Bisa landscape, sejarah, kehidupan sosial masyarakat, atau apapun yang berkaitan dengan China. Satu karya lagi bebas." kata Levi saat bincang-bincang. Setiap karya dicetak sebanyak 50 edisi dimana peserta residensi boleh membawa separoh karya yang sudah jadi.

China Guanlan Original Printmaking Base terletak di Yuxin Road, sub distrik (desa) Guanlan, distrik Bao’an, Shenzhen, Provinsi Guangdong, China. Berada di kawasan industri, Guanlan menjadi kawasan seniman grafis beraktivitas secara profesional. Studio tempat residensi menyediakan perlengkapan untuk seni grafis lengkap dengan standar kualitas bahan-alat yang memadai bagi penciptaan karya seni grafis.

"Sejak tahun 2008 saat dibangun pertama kali, mereka berencana membangun museum seni grafis taraf internasional yang lengkap dengan standar-standar tertentu. Medium cetak misalnya disediakan kertas dengan kualitas terbaik." jelas Levi.

Tentang kerja profesional mereka, Levi menjelaskan bagaimana disiplin dan etos kerja mereka meskipun berada di kawasan pedesaan. Teknisi yang bekerja adalah seniman grafis dari China dan sekitarnya yang siap membantu peserta residensi. Di sisi lain, meskipun dengan kontrol dalam banyak hal, keterlibatan pemerintah China tetap memberikan dukungan terutama pendanaan bagi pengembangan dunia seni grafis China.

"Semua terdokumentasi secara rapi. Sebuah karya seni grafis dibuatkan catatan semacam resume tentang siapa senimannya, dengan teknik apa dibuat, berapa jenis warna, dengan jenis tinta apa dipakai, menggunakan media kertas apa, dicetak dalam berapa edisi. Semua didokumentasikan dan diarsipkan dalam beberapa rangkap." kata Levi.

Levi memilih teknik cetak relief reduksi (woodcut) dalam membuat karya seni grafisnya. Pilihan teknik diserahkan pada setiap seniman menyesuaikan bahan-alat yang ada di Guanlan.

"Awalnya saya mencoba untuk menggunakan teknik etsa, tapi tidak jadi karena saya tidak begitu menguasai. Teknik yang saya kuasai adalah moku hanga, namun di sana tidak tersedia alat-bahan. Akhirnya saya memutuskan menggunakan teknik woodblock (woodcut) dengan proses reduksi." kata Levi.

Levi sempat bereksperimen menggunakan teknik moku hanga dengan memodifikasi memanfaatkan sikat serta tinta air yang ada, namun hasilnya tidak maksimal dan tidak memungkinkan membuat karya dalam ukuran besar. Satu karya dengan teknik moku hanga sempat diselesaikan untuk ukuran yang tidak terlalu besar.

"Tidak ada kurasi dalam proses berkarya, namun setiap saat didampingi oleh asisten studio dan teknisi untuk membantu dan memberikan masukan saat pengerjaan karya." kata Levi.

Untuk menjaga mood dalam menghasilkan karya, hampir setiap hari Levi membuat sketsa. Hingga akhir program sekitar 400 sketsa dalam berbagai ukuran dihasilkannya. Sebagian besar dibuat on the spots sebagai lanjutan observasi pada suasana Guanlan dan sekitarnya.

Dua karya wajib diselesaikan berjudul "Orange Troops", menggambarkan pekerja kebersihan di China yang ditemui di awal kedatangan dengan kostum yang mirip dipakai petugas kebersihan di Jakarta. serta satu karya "Past & Now" menggambarkan suasana masa lampau dan saat ini China Guanlan dari bangunan yang ada di sana. Diluar 400 sketsa, secara keseluruhan Levi membuat 13 karya dengan teknik woodblock reduksi, 1 karya etsa, dan 1 karya moku hanga selama dua bulan residensi.

Sensor, pelarangan, dan standar media karya.

Setelah menyelesaikan dua karya wajib, Levi sempat membuat karya tambahan yang dikerjakan di dalam studio. Satu ketika Levi minta ijin membuat street printmaking yang selalu dilakukan dalam banyak program. Mobile printmaking program, begitu Levi menyebut program tersebut. Hingga saat ini Levi telah melakukan lebih 130 kali street printmaking di berbagai tempat.

Begitu mendapat ijin, Levi langsung membuat street printmaking di sebuah sudut Guanlan berinteraksi langsung dengan masyarakat setempat. Sempat menyelesaikan dua karya sebelum akhirnya Levi diminta menghentikan kegiatan street printmaking-nya dengan alasan tidak bagus untuk image seni grafis yang seharusnya dilakukan di dalam studio.

"Saya sempat kaget juga karena respon masyarakat cukup antusias. Dan ini bisa menjadi salah satu edukasi yang bisa mendekatkan seni kepada masyarakat. Di sana masyarakat umum hanya bisa melihat proses seni grafis dari luar studio lewat bilik kaca." jelas Levi.

Dengan pertimbangan kehadirannya sebagai seniman tamu undangan residensi, meskipun dengan perasaan sedikit kecewa Levi menghentikan street printmaking-nya setelah dua karya yang sempat dibuatnya.

"Sebelumnya saat membuat karya wajib, sebenarnya sempat ada screening (filter) pada karya saya yang kedua "Past & Now". Bagaimanapun, saya melihat Mao (Tze Tung) adalah bapak bangsa China. Dan itu tidak terbantahkan. Tapi pihak studio keberatan saat saya memasukkan sketsa Mao dalam karya kedua." jelas Levi.

Dari hasil diskusi bersama, akhirnya disepakati mengganti sketsa Mao dengan gambar lain yang tetap menggambarkan China sebagai kekuatan besar dunia yang ingin selalu melindungi bangsa lain.

"Meskipun mungkin tidak terlalu maksimal, saya cukup puas ketika menggantikannya dengan sketsa kelas pekerja di sana." kata Levi.

Menanggapi sensor serta pelarangan street printmaking, perupa S Mulyana Gustama memberikan pandangan bahwa regulasi yang demikian memang menjadi kewenangan mereka.

"Dua hal menarik yang bisa dipelajari. Pertama tentang medium cetak yang digunakan dengan standar tertentu, ini bisa menjadi pertimbangan kita untuk membuat sebuah karya. Untuk belajar, ok-lah kita bisa menggunakan berbagai medium. Namun untuk membuat sebuah karya, ada baiknya mulai sekarang kita sudah mempertimbangkan standar kualitas bahan dan lain-lain yang kita gunakan. Tidak serta merta medium apapun bisa kita eksekusi untuk menjadi sebuah karya." kata S Mulyana.

Tentang sensor dan pelarangan, S Mulyana menjelaskan adanya saling menghargai aturan yang diberlakukan masing-masing. Ketika aturan-aturan yang berlaku di sana memang demikian, kita pun harus menghargai. Case closed, meskipun sebenarnya ketika seni dianggap sebagai penjaga gawang kebudayaan-peradaban harusnya bisa berdiri secara mandiri dan bisa bebas nilai.

Studio dan museum bertaraf internasional: membaca pasar seni grafis masa depan

Dalam perjalanannya sejak China Guanlan Original Printmaking Base (CGOPB) didirikan tahun 2008, berbagai langkah ditempuh untuk mewujudkan sebuah museum seni grafis bertaraf internasional terbesar-terlengkap, didukung suasana berkesenian yang coba dijaga dengan pendekatan kerja profesional layaknya sebuah industri ada banyak hal yang bisa dipelajari dari China Guanlan Original Prinmaking Base. Regulasi standar pada medium dalam berkarya bisa menjadi branding dan juga positioning bagi China Guanlan dalam percaturan seni grafis dunia.

Dalam perspektif ini ketika China Guanlan OPB menerapkan sebuah standar tertentu dalam karya seni grafis, sesungguhnya dalam banyak hal China Guanlan OMB leading beberapa langkah meskipun sebenarnya banyak studio seni grafis di belahan dunia lainnya dengan sejarah panjang yang telah dilewatinya pun memiliki standar yang tidak kalah bagus.

Namun ketika 25 seniman grafis dari berbagai negara dengan bergam portofolionya berkumpul dalam sebuah project, bisa dibayangkan terkumpul juga karya dalam jumlah yang banyak dari seniman grafis yang telah diakui rekam jejaknya bagi dunia seni grafis. Ini belum ditambah dengan seniman residensi sebelumnya baik secara personal maupun yang terlibat dalam proyek bersama. Dengan sistem kerja yang profesional serta pendekatan industrialisasi, China Guanlan OMB sesungguhnya sedang membaca pasar seni grafis dunia di masa datang.

Perspektif pasar itu sendiri bisa beragam. Bisa jadi China Guanlan OPB sedang membaca potensi seni grafis yang sedang menggeliat di tengah lesunya pasar seni rupa dunia terlebih China, atau mungkin China Guanlan OPB sedang membangun pasar seni grafis dunia ketika mereka telah memiliki banyak hal: banyak karya dari seniman grafis dari berbagai negara, sistem kerja serta etos teknisi-seniman dalam standar tertentu, tradisi yang sedang dibangung ditengah budaya kertas-seni grafis China sendiri yang sudah lama diakui dunia, ditambah dukungan pemerintah menjadi positioning yang patut dipertimbangkan siapapun.

Bagaimana dengan dunia seni grafis di Yogyakarta dan Indonesia? Dengan jumlah seniman grafis terbanyak di Asia Tenggara, Yogyakarta dan juga Indonesia sesungguhnya memiliki kekuatan yang patut diperhitungkan seni grafis dunia. Adanya merchandise booth serta bursa karya seni dalam berbagai pameran/festival seni rupa di Yogyakarta seperti Art Jog, FKY, ataupun pameran-pameran seni di galeri/ruang pamer semisal Sangkring art space ataupun SURVIVE!garage yang akhir-akhir ini tidak sekedar melengkapi pameran, mengingat pasar yang ada sejauh ini relatif mengamini dengan banyaknya merchandise maupun karya yang terjual menjadi kabar yang cukup menggembirakan. Ini bisa jadi menjadi gambaran mulai terbangunnya apresiasi seni di masyarakat. Dan menjadi  lebih menarik lagi sekiranya ada upaya lebih mendekatkan lagi seni grafis maupun seni rupa lainnya kepada masyarakat.

Di tengah keterbatasan yang dimilikinya, seniman grafis Indonesia sering memunculkan karya-karya yang tidak kalah dengan karya seniman grafis manca negara. Dan dengan berbagai keterbatasan yang ada, darimana harus memulainya? Ada baiknya pemerintah segera menangkap seluruh potensi seni grafis dan juga seni rupa lainnya di Indonesia sebagai bagian dari skema ekonomi kreatifnya.

 

Back to Home