Google+
Loading...
FLORA & FAUNA
Penulis: Dewasasri M Wardani 20:05 WIB | Kamis, 12 September 2019

Belut Listrik Terkuat di Dunia Ditemukan di Amazon

Electrophorus voltai adalah satu dari dua spesies belut listrik yang ditemukan di Amazon. (Foto: bbc.com)

BRASIL, SATUHARAPAN.COM – Agar bisa menangkap dan mencari spesimen belut listrik Amazon yang disebut Poraque, ilmuwan Brasil Carlos David de Santana, harus sangat berhati-hati saat memasuki kali dan sungai di sana. Meski ia selalu mengenakan sarung tangan karet, beberapa setruman listrik sulit dihindari.

Namun, itu semua sepadan. Penelitiannya selama lima tahun membuahkan hasil berupa penemuan dua spesies baru belut listrik. Salah satunya mampu melepaskan tegangan listrik hingga 860 volt, tegangan terbesar yang pernah dicatatkan hewan, rekor sebelumnya yaitu 650 volt.

Pertahanan dan Perburuan

Seorang peneliti di Museum Nasional Sejarah Alam dari Smithsonian Institute di Washington, DC, Amerika Serikat, baru saja menerbitkan penemuan tersebut dalam sebuah artikal pada jurnal Nature Communications.

Poraque, si ikan listrik, hidup di Amerika Selatan, dan mampu tumbuh hingga sepanjang 2,5 meter. Ada sekitar 250 jenis ikan listrik yang dapat menghasilkan muatan listrik yang lemah, yang digunakan sebagai alat navigasi dan komunikasi.

Poraque adalah satu-satunya yang menghasilkan tegangan listrik kuat, yang digunakannya untuk berburu dan sebagai alat pertahanan. Listrik itu diproduksi oleh tiga organ pada tubuhnya.

Sebelumnya diyakini bahwa hanya ada satu jenis Poraque, yaitu Electrophorus electricus, yang digambarkan pada tahun 1766 oleh seorang peneliti Swedia, Carl Linnaeus.

Namun, dua spesies baru lantas ditemukan. Keduanya dibedakan oleh tegangan listrik yang dihasilkan dan proses penyusunan DNA-nya.

"Fakta bahwa kedua spesies ditemukan 250 tahun setelah kelompok pertama itu, digambarkan sebagai sebuah contoh betapa besar keanekaragaman hayati yang ada di Amazon," kata  Santana.

"Dan bukan hanya dari Amazon. Kita hanya tahu sebagian kecil keanekaragaman hayati di planet ini. Dan kita bahkan tahu lebih sedikit tentang biologi dari spesies-spesies ini baik hewan maupun tumbuhan," katanya.

"Kita tidak bisa membiarkannya dirusak. Dalam jangka panjang kerugiannya sangatlah besar."

"Penelitian terhadap keanekaragaman hayati sangatlah penting. Banyak komponen obat komersial yang kita gunakan sekarang berasal dari tanaman dan binatang yang ditemukan melalui penelitian terhadap spesies-spesies ini. Masing-masing merupakan gudang genetik yang sangat besar."

Kedutan

Meskipun satu dari dua spesies yang ditemukan, Electrophorus voltai mampu menghasilkan tegangan listrik sebesar 860 volt, hampir empat kali lipat tegangan listrik dari sakelar rumah tangga sebesar 220 volt, hewan ini tidak mematikan bagi manusia karena arus listriknya rendah, kata Santana, yang dilansir bbc.com, pada Kamis (12/9).

"Tidak cukup untuk membunuh seseorang. 'Sakelar'nya menghasilkan arus yang konstan."

"E. voltai menghasilkan pelepasan arus secara bergantian. Ketika ia melepaskan pertama kali, sengatannya bertahan selama satu hingga dua detik, dan ia memerlukan waktu untuk mengisi daya listriknya," kata Santana yang sudah beberapa kali disetrum belut listrik.

"Tentu saja sakit, otot Anda mengalami kedutan," katanya.

Meski demikian, secara teoretis, jika seseorang di sungai dikelilingi oleh ikan-ikan ini, maka masalahnya akan jauh lebih serius.

Menurut Santana, ketika seekor ikan melepaskan listrik, ikan lainnya akan ikut melakukan hal yang sama. Dalam hal itu, manusia yang berada dekat dengan mereka akan mengalami serangan jantung atau tenggelam.

"Tapi saya belum pernah mendengar hal itu terjadi," katanya.

Tidak seperti yang diyakini sebelumnya, spesies ini tidak soliter dan bisa hidup secara berkelompok, hingga 10 ekor.

Electrophorus voltai dinamai sesuai nama fisikawan Alessandro Volta, penemu baterai listrik.

Spesies lain yang ditemukan diberi nama Electrophorus varii, sebagai tribut kepada ahli hewan Richard P. Vari, peneliti Smithsonian yang meninggal tahun 2016.

Kedua spesies baru itu ditemukan di Sungai Xingu dan Tapajos, dan untuk sementara tidak tergolong spesies yang terancam. Namun, krisis lingkungan di Amazon yang tengah terjadi bisa jadi mengubah status itu.

"Sungai Xingu dirusak oleh bendungan PLTA Belo Monte, yang akan memengaruhi populasi ikan," kata Santana.

"Dan seluruh keanekaragaman hayati Amazon berada di bawah ancaman. Sungguh memalukan apa yang terjadi, dengan banyaknya spesies yang belum ditemukan."

 

 

UKRIDA
Zuri Hotel
Back to Home