Google+
Loading...
BUDAYA
Penulis: Moh. Jauhar al-Hakimi 23:15 WIB | Rabu, 14 Maret 2018

Bentara Tampilkan Karya Muhlis Lugis, "Kemana Harga Diri"

Bentara Tampilkan Karya Muhlis Lugis, "Kemana Harga Diri"
Karya grafis cukil kayu berjudul (dari kiri ke kanan) "Kehilangan Tanggung Jawab", "Addiction", "Goyang Erotis" dalam pameran karya grafis Muhlis Lugis bertajuk "Kemana Harga Diri"di Bentara Budaya Yogyakarta, Jalan Suroto No. 2 Yogyakarta, 13-21 Maret 2018 (Foto-foto: Moh. Jauhar al-Hakimi)
Bentara Tampilkan Karya Muhlis Lugis, "Kemana Harga Diri"
Ditenggelamkan - cukil kayu di atas kertas - 150 cm x 110 cm - 2013
Bentara Tampilkan Karya Muhlis Lugis, "Kemana Harga Diri"
Grandmother- cukil kayu di atas kertas - 60 cm x 40 cm - 2014

YOGYAKARTA, SATUHARAPAN.COM - Dua belas karya grafis ukuran kecil serta delapan belas berukuran sedang-besar dengan teknik cetak tinggi (woodcut - relief printmaking) karya pegrafis Muhlis Lugis dipamerkan di Bentara Budaya Yogyakarta. Pameran tunggal bertajuk "Kemana Harga Diri " dibuka pada Selasa (13/3) malam oleh guru besar seni rupa Institut Seni Indonesia Yogyakarta, Dwi Marianto.

Pada Trienal Grafis V 2015 diikuti seniman grafis dari 20 negara yaitu Amerika Serikat, Argentina, Australia, Belgia, Brasil, Bulgaria, Kanada, Italia, India, Jepang, Jerman, Malaysia, Mesir, Polandia, Puerto Rico, Spanyol, Swedia, Thailand, Turki. Karya Muhlis Lugis berjudul "Addiction" terpilih sebagai Pemenang III oleh para juri yang terdiri dari Aminudin TH Siregar, Tisna Sanjaya, Bambang Bujono, Devy Ferdianto, dan Syahrizal Pahlevi.

Cetak tinggi (refief printmaking) adalah proses mencetak dalam seni grafis dengan memanfaatkan bentuk yang paling tinggi yang berasal dari plat klise untuk menghasilkan bentuk karya gambar. Plat klise tersebut bisa berupa bahan-bahan lunak dan keras semisal kayu/potongan kayu ataupun logam. Karena menggunakan acuan panel ukiran/pahatan atau panel relief yang lebih tinggi, teknik cetak ini biasa disebut cetak relief atau flexography.

Di antara teknik cetak grafis, cukil kayu (woodcut) merupakan teknik paling kuno sebelum ditemukan mesin cetak seni grafis. Diperkirakan telah ada sejak abad kelima, meskipun baru dikembangkan di Eropa sekitar abad ke-14. Teknik cukil kayu masuk dalam teknik cetak tinggi, dimana permukaan yang lebih tinggi akan terkena tinta warna dan dipindahkan ke dalam media cetak. Penggunaan cetak tinggi dalam kehidupan sehari-hari diantaranya adalah stempel/cap baik yang berbantalan maupun yang tidak berbantalan.

Cukil kayu (woodcut) menjadi pilihan banyak seniman grafis dengan mempertimbangkan mudahnya mencari alat dan bahan, teknik pembuatannya yang relatif sederhana, namun tetap menghasilkan karya seni grafis yang impresif. Detail desain menjadi kekuatan sebuah karya seni cukil kayu.

Detail dan rona monochrome yang impresif, begitulah kesan pertama menyaksikan karya pegrafis asal Makassar, Muhlis Lugis. Pilihan ini semakin menguatkan karya grafis Muhlis Lugis yang banyak bercerita tentang realita-metafora kehidupan, ekspresi serta masalah-masalah seputar manusia dan kemanusiaan.

Dalam karya berjudul "Addiction", Muhlis berhasil mengangkat fenomena perkembangan teknologi informasi dengan media sosial yang kerap "menjebak" penggunanya dalam kenyataan kecanduan (­addicted) tak berujung dengan berbagai dampak yang diakibatkannya: konsumtif pada hal-hal yang tidak diperlukan, hilangnya berbagai batas-jarak, bergesernya norma-nilai, serta cara pandang hubungan manusia. Dalam bahasa sederhana hubungan antar manusia cukup diselesaikan dengan jari tangan bahkan jika perlu kepala dan anggota tubuh lainnya pun menjadi jari-jari tangan. Sebuah metafora dimana harga diri tidak ditentukan lagi oleh buah pikiran rasa-rasio namun seberapa cepat jari tangan menjawabnya tanpa pengendapan pikiran. Akhir-akhir ini dunia maya dengan media sosialnya seolah menjadi gambaran pragmatisnya masyarakat menyikapi hidupnya.

Metafora lain terekam dalam karya Muhlis diantaranya "Diterkam", "Dipasung", "Goyang Erotis", "Anti Teror", "Terikat", "Penoda Keadilan", "Ditenggelamkan", "Mencari Target". Dalam rona monocrhome impresi drama-drama kehidupan tersebut

Sementara pada seri "Grandmother" dan "Grandfather", "Klimaks", "Ekspresi Menuju Puncak" dengan ekspresi detail wajah yang dihasilkan dari cukilan kayu Muhlis menjadi salah satu penanda karya grafisnya melengkapi karya yang diangkat dari kehidupan sehari-hari berjudul "Dibonceng", dan "Adu Kerbau". Keseluruhan karya dibuat Muhlis Lugis dengan teknik cukil kayu di atas kertas.

Pameran tunggal "Dimana Harga Diri" akan berlangsung sampai tanggal 21 Maret 2018 di Bentara Budaya Yogyakarta, Jalan Suroto No. 2 Yogyakarta.

 
UKRIDA
Gaia Cosmo Hotel
BPK Penabur
Zuri Hotel
Back to Home