Google+
Loading...
INSPIRASI
Penulis: Endang Hoyaranda 09:16 WIB | Senin, 09 Oktober 2017

Berani Hidup, Meski Kepahitan Hidup Terus Menghampiri

”Milikilah keberanian untuk mencintai. Setiap kali, cobalah lagi untuk mencintai” (Maya Angelou).
Foto: istimewa

SATUHARAPAN.COM – Maya Angelou  adalah seorang  Afro-American, yang lahir PADA 1928 di negara bagian Missouri, Amerika Serikat. Orang tuanya bercerai ketika dia berusia balita, sehingga bersama kakak laki-lakinya dibesarkan oleh nenek mereka. Namun, empat tahun kemudian ia  direbut kembali  oleh ayahnya dan diserahkan ke dalam asuhan ibu mereka. 

Seolah masih kurang penderitaannya, ia diperkosa oleh kawan pria ibunya. Akibat dia mengadu kepada kakaknya yang lalu diteruskan kepada keluarganya, kawan pria itu kemudian dihukum. Namun hanya semalam ia dipenjara,  dan empat hari setelah itu pria tersebut ditemukan tewas, kemungkinan karena dibunuh oleh paman Maya.  

Akibat kejadian  itu, Maya membisu total selama 5 tahun karena merasa bahwa pembunuhan itu terjadi karena ia menyebut nama pria tersebut kepada kakaknya. Dialah pembunuh pria itu, demikian yang diyakininya. Ketakutan yang  berkembang menjadi ketidakberanian mengucapkan kata apa pun karena khawatir bahwa semua kata-katanya akan membunuh orang lain. Beruntung seorang  guru dan teman keluarga membantunya untuk mampu berbicara lagi setelah 5 tahun membisu.

Masa mudanya diwarnai oleh kehidupan panggung, menjadi wanita panggilan, mengelola bordil, dan kehidupan perkawinan yang kacau.  Akan tetapi, setelah melampaui berbagai persimpangan dalam kehidupannya, ia bertemu Marthin Luther King Jr. dan ikut menjadi pejuang hak azasi manusia bersama Luther King Jr.  Terbunuhnya Luther, sahabatnya, kembali mengguncang kehidupannya. Namun, sekali lagi, ada kawan yang mengangkatnya dari jurang depresi.

Ia kemudian bukan hanya menjadi pejuang hak azasi melainkan juga seorang penulis puisi, penulis buku (ia juga menulis otobiografi), penyanyi, dan aktris bahkan produser film.  Pada pelantikan Presiden Bill Clinton, ia diundang untuk membacakan puisinya berjudul ”On the Pulse of Morning”.

Atas otobiografinya, seorang  komentator menulis:  ”Mengenal riwayat kehidupan Maya adalah menyadari betapa beruntungnya kita dan bahwa setiap orang patut bersyukur tidak pernah mengalami separuh saja dari apa yang Maya alami.”

Pada akhir hidupnya, Maya  menjadi tokoh terpandang dan diakui sebagai  perempuan penulis otobiografi berkulit hitam paling ternama. Ia pernah berujar: ”Sepanjang usia saya, semua perjuangan saya, segala yang saya kerjakan, adalah demi survival, pertahanan untuk hidup. Bukan bertahan yang asal bertahan, melainkan bertahan dengan iman dan pengandalan akan berkat, untuk mencapai kehidupan yang terhormat.”

Maya merasakan perlakuan buruk dari berbagai orang, tetapi juga memiliki hubungan baik dengan banyak orang. Sejumlah orang menyakitinya, mencelakakannya, namun tak kurang yang menolongnya, mengangkatnya dari jurang kehidupan yang kotor dan kacau hingga mencapai kehidupan yang diberkati untuk menjadi berkat bagi orang lain.

Dari pengalamannya dengan berbagai macam orang, Maya telah ditolong oleh sikapnya yang tetap memandang positif terhadap kehidupan, dan percaya akan ketulusan orang lain.  Mereka yang penuh empati tulus, yang meninggalkan perasaan nyaman, menimbulkan semangat, itulah yang menjadi penyelamat dan pendukungnya mencapai keberhasilan menjadi manusia yang berkehidupan penuh. Ia berkeyakinan bahwa ia tak dapat mengendalikan kejadian dalam hidup, namun ia dapat memilih sikap untuk tidak tergerus olehnya.

Ia juga berprinsip: ”Memiliki cukup keberanian untuk mencintai, setiap kali mencoba lagi, dan tidak pernah berhenti untuk mencoba mencintai, niscaya akan ditemukan mereka yang juga mencintai.”  Dari kehidupannya yang penuh kepahitan, ia menemukan bahwa kebencian menyebabkan banyak masalah di dunia, namun tak pernah menjadi solusi bagi persoalan apa pun.

Pada akhir kehidupannya, ia menjadi seorang yang bermakna bagi banyak orang karena prinsip teguh yang ia pegang untuk berani hidup walau kepahitan terus-menerus menghampirinya.

 

Email: inspirasi@satuharapan.com

Editor : Yoel M Indrasmoro

Back to Home