Google+
Loading...
ANALISIS
Penulis: Sahala Tua Saragih 00:00 WIB | Kamis, 20 April 2017

Berguru kepada Komunikator Akbar

Menjadi komunikator yang handal bukan pekerjaan sederhana. Apa saja yang dibutuhkan?

SATUHARAPAN.COM - Dalam psikologi komunikasi dikenal psikologi komunikator, psikologi pesan, dan psikologi komunikan. Dalam tulisan ini saya khusus membahas salah satu di antaranya, yakni psikologi komunikator. Sejak zaman Yunani purba, tatkala komunikasi masih berkisar pada komunikasi lisan (waktu itu disebut retorika) ditekankan kepada para komunikator (ketika itu disebut orator atau rhetor), agar melengkapi diri dengan ethos, pathos, dan logos (Casmir, 1974 dalam Effendy, 1993: 351)

Ethos berarti sumber kepercayaan yang ditunjukkan oleh seorang orator (komunikator) bahwa ia memang pakar di bidangnya, sehingga ia benar-benar tepercaya. Pathos berarti imbauan emosional yang ditunjukkan seorang komunikator dengan menampilkan gaya dan bahasanya yang membangkitkan kegairahan komunikan dengan semangat yang berkobar-kobar. Logos mengandung arti imbauan logis yang ditunjukkan oleh seorang komunikator bahwa uraiannya masuk akal sehingga patut diikuti dan dilaksanakan oleh khalayak atau komunikan (Effendy, 1993: 352).

Dalam bukunya, Argumentation and Debate, Austin J. Freeley mengemukakan, ethos memiliki tiga komponen yaitu competence (kemampuan/kewenangan), integrity (integritas/kejujuran), dan good will (tenggang rasa). Ethos juga didukung oleh tujuh faktor yakni persiapan, kesungguhan, ketulusan, kepercayaan, ketenangan, keramahan, dan kesederhanaan (Effendy, 1993: 352-356).      

Aristoteles, filsuf Yunani yang sangat terkenal sebagai Bapak Retorika, lebih dari 2000 tahun silam menulis tentang ethos komunikator sebagai berikut. Persuasi tercapai karena karakteristik personal pembicara, yang ketika ia menyampaikan pembicaraannya kita menganggapnya dapat dipercayai. Kita lebih penuh dan lebih cepat percaya pada orang-orang baik daripada orang lain. Ini berlaku umumnya pada masalah apa saja dan secara mutlak berlaku ketika tidak mungkin ada kepastian dan pendapat terbagi. Tidak benar anggapan sementara penulis retorika  bahwa kebaikan personal yang diungkapkan pembicara tidak berpengaruh apa-apa pada kekuatan persuasinya; sebaliknya, karakternya hampir bisa disebut sebagai alat peruasi yang paling efektif yang dimilikinya (Aristoteles, 1954, dalam Rakhmat, 1986: 261-262).  

Ketika komunikator berkomunikasi, yang berpengaruh bukan hanya apa yang dia katakan melainkan juga keadaan dia sendiri. Ia tidak dapat menyuruh pendengar hanya memperhatikan apa yang ia katakan. Pendengar juga pasti memperhatikan siapa yang mengatakan. Kadang-kadang aspek siapa lebih penting daripada apa. Aristoteles menyebut karakter komunikator ini sebagai ethos. Ethos terdiri dari pikiran baik (good sense), akhlak baik (good moral character), dan maksud baik (good will). Kemudian Carl Hovland dan Walter Weiss (1951) menyebut ethos sebagai credibility yang terdiri dari dua unsur yaitu expertise (keahlian) dan trust worthiness (dapat dipercayai). Ethos atau faktor-faktor  yang memengaruhi keefektifan komunikator terdiri dari kredibilitas, atraksi, dan kekuasaan. Ketiga dimensi ini berhubungan dengan jenis pengaruh sosial yang ditimbulkannya (Rakhmat, 1986: 263).     

 

Komunikator Akbar 

Dalam kepercayaan umat Kristen (pengikut Kristus), Yesus Kristus merupakan komunikator akbar (terbesar) karena kehebatannya dalam berkomunikasi. Dia memiliki tidak hanya ethos besar, tetapi juga pathos dan logos yang hebat. Inilah salah satu kesan pendengar Yesus Kristus pada masa pelayanan-Nya di bumi, “Dan setelah Yesus mengakhiri perkataan ini, takjublah orang banyak itu mendengar pengajaran-Nya, sebab Ia mengajar mereka sebagai orang yang berkuasa, tidak seperti ahli-ahli Taurat mereka.” (Matius 7:28-29).

Para ahli komunikasi modern merumuskan The Five Inevitable Laws of Effective Communication (Lima Hukum Mutlak dalam Komunikasi yang Efektif). Kelima hukum tersebut lazim disingkat REACH. Ini singkatan Respect, Empathy, Audible, Clarity, dan Humble. Lebih dari 2000 tahun yang silam Yesus Kristus telah menerapkan dengan bagus kelima hukum ini. Pertama, Respect. Yesus memiliki respek (rasa hormat) dan selalu menghargai lawan bicara (komunikan)-Nya. Perempuan berdosa (pelacur) yang dianggap sampah masyarakat pun dihargai dan dihormati-Nya.    

Kedua, Empathy. Yesus Kristus selalu berempati kepada lawan bicara-Nya. Hatinya mudah tergerak oleh belas kasihan. Oleh karena itu, Yesus selalu menolong setiap orang yang datang kepada-Nya. Ketiga, Audible. Kemampuan Yesus Kristus dalam berbicara sudah tak teragukan lagi. Khotbah–Nya di bukit telah menjadi inspirasi bagi miliaran orang di sepanjang sejarah.          

Keempat, Clarity. Yesus Kristus selalu berbicara dengan jelas, tegas, apa adanya, jujur, dan terbuka. Komunikasi yang baik tidak selalu harus mengikuti selera lawan bicara (komunikan), tetapi kadang-kadang harus tegas dalam bersikap. Kelima, Humble. Yesus Kristus selalu rendah hati. Ini terbukti ketika Dia menerima anak-anak kecil yang datang kepada-Nya. Juga ketika Dia bersedia pergi dan menginap di rumah Zakheus, pemungut cukai yang dibenci masyarakat pada masa itu (Spirit Motivator, 1 April 2013).  

Yesus Kristus dahulu kala telah menerapkan lima kunci sukses dalam komunikasi pemasaran modern, yaitu membawa damai, kesejajaran, meminta dan memberi, kreatif, dan positif. Pertama, membawa damai. Yesus Kristus  berbicara dengan membawa damai. Dia tidak berbicara dengan memaksakan kehendak sendiri, tapi harus nyaman dulu buat lawan bicara (komunikan)-Nya.

Kedua, kesejajaran. Yesus Kristus  sering makan bersama dengan banyak orang. Makan bersama ini memunculkan keakraban dan posisi sejajar, bukan berjarak. Dari sini muncullah kepercayaan. Ketiga, meminta dan memberi.  Ketika Yesus Kristus bertemu perempuan Samaria, Dia mengawali percakapan dengan meminta air, kemudian Dia memberikan Air Hidup. Tidak ada ruginya belajar dari semua orang, bahkan meski kelas kita berada di atas kelas mereka. Komunikasi bersifat timbal balik, bukan menggurui.

Keempat, kreatif.  Yesus Kristus berbicara dengan berbagai cara, termasuk  lewat perumpamaan yang menyentuh langsung ke hati pendengar (komunikan)-Nya. Kelima, positif. Dalam setiap berkomunikasi Yesus Kristus selalu membawa kabar positif yakni pengaharpan akan Kerajaan Allah (Spirit Motivator, 3 April 2013). 

Dalam bukunya, Everyone Communicates, Few Connect, John Maxwell menulis, sebuah komunikasi yang baik memang membutuhkan energi. Kita tak bisa berharap komunikasi bisa lancar bila kita malas mempersiapkan dan melatihnya. John juga memberikan lima kiat berkomunikasi yang efektif.

Pertama, inisiatif, yaitu kemauan untuk memulai komunikasi. Kedua, kejelasan. Di sinilah persiapan diperlukan. Ketiga, kesabaran. Berbicara terlalu cepat, tidak mau mendengarkan lawan bicara, dan tak mau menunggu ketika lawan bicara mencoba memahami pesan sang komunikator, niscaya tidak akan membuat pesan komunikasi tersampaikan.        Keempat, tidak egois. Komunikasi membutuhkan kesediaan kita untuk berbagi dan mau memberi waktu, perhatian, dan tenaga kepada lawan bicara. “…dan janganlah tiap-tiap orang hanya memperhatikan kepentingannya sendiri, tetapi kepentingan orang lain juga.” (Filipi 2:4). Kelima, stamina. Jangan mudah menyerah dan putus asa saat orang lain (komunikan) susah memahami isi pesan Anda! (Spirit Motivator, 5 April 2013). Lebih dari 2000 tahun lalu, sebelum John Maxwell menulis bukunya, Yesus kristus sudah menerapkan kelima kiat berkomunikasi ini dengan jitu. 

Faktor waktu juga sangat diperhatikan dengan cermat oleh Yesus Kristus. Dia berkomunikasi dengan lawan bicara-Nya pada waktu yang tepat. Dia menerapkan dengan baik amsal raja Salomo (Sulaiman) yang berkata, “Perkataan yang diucapkan tepat pada waktunya adalah seperti buah apel emas di pinggan perak.” (Amsal 25:11). Salomo juga pernah beramsal, “Seseorang bersukacita karena jawaban yang diberikannya, dan alangkah baiknya perkataan yang tepat pada waktunya.” (Amsal 15: 23).

Yesus Kristus memang komunikator akbar, komunikator teladan, meskipun Dia tak pernah kuliah psikologi komunikasi di Fikom.  Semua pemimpin dan calon pemimpin di negara tercinta ini semestinya berguru dengan sungguh-sungguh kepada Komunikator Akbar. ***

 

Penulis adalah dosen Prodi Jurnalistik Fikom Unpad

Editor : Trisno S Sutanto

Back to Home