Loading...
INSPIRASI
Penulis: Yoel M Indrasmoro 05:00 WIB | Sabtu, 29 November 2014

Berjaga-jagalah!

Panggilan untuk ”berjaga-jaga” juga dialamatkan kepada kita, yang mengaku diri sebagai hamba Allah.
Foto: istimewa

SATUHARAPAN.COM – ”Karena itu berjaga-jagalah, sebab kamu tidak tahu bilamanakah tuan rumah itu pulang…” (Mrk. 13:35). Demikian pesan Yesus kepada para murid-Nya. Pesan-Nya itu—menembus batas waktu dan ruang—berkumandang kembali di Minggu Adven Pertama.

Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) lema ”berjaga-jaga” memiliki dua arti. Arti pertama: ”tidak tidur semalam suntuk”. Masih menurut KBBI, pada zaman dahulu apabila raja mengawinkan anaknya, orang berjaga-jaga empat puluh malam lamanya. Arti berjaga-jaga di sini adalah lek-lekan. Sedangkan arti kedua: ”bersiap-siap”; ”bersiap sedia”; ”berawas-awas”; ”berhati-hati”.

Sekilas pandang, pesan yang mengikuti perumpamaan Yesus (Mrk. 13:34) mengandung arti kedua tadi. Sang Guru menasihati murid-murid-Nya untuk berjaga-jaga karena mereka tidak mengetahui saat kedatangan-Nya yang kedua.

Kedatangan Yesus yang kedua sama seperti ”seorang yang bepergian, yang meninggalkan rumahnya dan menyerahkan tanggung jawab kepada hamba-hambanya, masing-masing dengan tugasnya, dan memerintahkan penunggu pintu supaya berjaga-jaga” (Mrk. 13:34).

Tersurat memang, penjaga pintu yang diminta berjaga-jaga. Tetapi, para hamba lainnya diberikan tanggung jawab seturut tugasnya. Ada tanggung jawab yang melekat dalam sebuah tugas. Tak heran, kalau sang tuan menuntut pertanggungjawaban.

Dengan kata lain, setiap hamba harus memberi jawaban dan menanggung segala akibat (jika ada kesalahan). Itu merupakan hal logis. Di akhir tugas, setiap orang harus mempertanggungjawabkan semua pekerjaannya.

Dalam perumpamaan itu memang tak ada kepastian waktu kedatangan. Itu berarti tanggung jawab dapat dituntut kapan saja. Oleh karena itu, para hamba itu harus selalu siap mempertanggungjawabkan semua tugas yang dipercayakan. Dalam segala keadaan mereka harus bersikap dan bertindak laiknya seorang hamba.

Itu merupakan tindakan wajar karena para hamba itu tidak pernah tahu kapan tuannya datang. Ketidaktahuan itulah yang seharusnya menjadi alasan para hamba itu untuk siap sedia. Bagaimanapun, tuan tersebut pasti datang!

Kalau sudah begini, tentunya ”berjaga-jaga” tak sekadar ”tidak tidur semalaman”. Arti kedua dalam KBBI mendapatkan tempatnya juga dalam perumpamaan itu. Berjaga-jaga berarti senantiasa siap menjalankan tugas kehambaan itu sebaik mungkin.

Panggilan untuk ”berjaga-jaga” juga dialamatkan kepada kita, yang mengaku diri sebagai hamba Allah. Sebutan ”hamba Allah”, ”abdi Allah”, atau ”Abdullah” memang biasa terdengar dan enak didengar di kalangan Kristen.

Namun, sebutan itu bukan tanpa konsekuensi. Sebutan itu mensyaratkan adanya keinginan dari penyandang sebutan itu untuk bertindak sebagai hamba tanpa syarat. Seorang hamba siap menanggungjawabi segala yang dimandatkan kepadanya kapan saja.

Nabi Yesaya mempunyai istilah yang menarik disimak. Dia menggambarkan Allah sebagai Pribadi yang bertindak bagi orang yang menanti-nantikan Dia (Yes. 64:4).

Ya, menanti-nantikan Allah! Tentunya, orang yang menanti-nantikan Allah siap berhadapan dengan Allah kapan saja. Mereka siap memberi jawab seandainya Allah menanyakan sesuatu kepadanya.

 

Editor: ymindrasmoro

Email: inspirasi@satuharapan.com


BPK Penabur
Gaia Cosmo Hotel
Kampus Maranatha
Back to Home