Google+
Loading...
HAM
Penulis: Wim Goissler 12:19 WIB | Senin, 20 November 2017

Bertemu Paus, PM Vanuatu Bicarakan Pelanggaran HAM di Papua

Bertemu Paus, PM Vanuatu Bicarakan Pelanggaran HAM di Papua
PM Vanuatu, Charlot Salwai (Foto: Ist)
Bertemu Paus, PM Vanuatu Bicarakan Pelanggaran HAM di Papua

VATIKAN, SATUHARAPAN.COM - Sejumlah media cetak dan online Vanuatu memberitakan pertemuan pemimpin negara-negara Pasifik yang tergabung dalam Pacific Islands Forum (PIF) dengan Paus Fransiskus di Ruang Clementine, Istana Apostolika, Vatikan. Dalam pertemuan pada hari Sabtu pekan lalu (11/11) tersebut, PM Vanuatu, Charlos Salwai, dilaporkan telah  mengangkat isu pelanggaran Hak Asasi Manusia (HAM) di Papua ketika berbicara di hadapan Paus, selain mendiskusikan isu utama, yaitu tentang perubahan iklim.

"Bapa Suci, pada intinya, 'Laudato Si' mendesak pengakuan atas kaum rentan di semua lapisan masyarakat. Isu Papua  terus terabaikan dari mekanisme peninjauan internasional yang formal karena sensitivitas politik seputar masalah ini dan saya harus menegaskan kembali perlu politik global yang lebih kuat dan lebih menentukan untuk menangani isu-isu paling penting yang mempengaruhi masyarakat dan rakyat kami," kata PM Vanuatu, sebagaimana dilansir dari sejumlah media Vanuatu, seperti vanuatuindependent.com, dailypost.vu dan vilatimes.com

Laudato Si (terjemahan Bahasa Inggris = On Care for Our Common Home) adalah ensiklik kedua Paus Fransiskus yang mendesak gereja mengakui urgensi tantangan lingkungan global dan menyerukan dialog inklusif untuk mencari solusi.

Menurut Salwai, yang berbicara mewakili 11 negara Pasifik dalam PIF yaitu Australia, Cook Islands, The Federated States of Micronesia, French Polynesia, Kiribati, Nauru, Selandia Baru, Papua Nugini, Republik Marshall Islands, Samoa dan Vanuatu, Laudato Si secara tegas menyebutkan bahwa perubahan iklim sebagai isu hak asasi manusia menyerukan transformasi radikal dan mendesak politik global dan gaya hidup individu untuk memeranginya. 

"Negara-negara kepulauan (Pasifik) telah memulai pembicaraan atas opsi-opsi relokasi dan pemukiman kembali. Kami tetap sadar akan fakta bahwa relokasi dan pemukiman kembali akan memunculkan isu-isu multidimensi yang perlu ditangani. Kami menggemakan seruan Laudato Si untuk percepatan konvensi internasional yang mengakui pengungsi iklim untuk memastikan elemen dasar seperti perlindungan hukum di negara-negara baru," kata PM Salwai.

Charlot Salwai, mengatakan bahwa migrasi iklim sekarang menjadi kenyataan bagi negara-negara Pasifik yang sangat terpengaruh oleh perubahan iklim"Secara global, kenaikan jumlah migran yang berusaha untuk menghindari 

peningkatan ketidaksetaraan dan kemiskinan yang disebabkan oleh degradasi lingkungan memang tragis. Di wilayah Pasifik khususnya, isu migrasi iklim sekarang menjadi kenyataan," kata Salwai.

"Politik global dan internasional yang lebih kuat dan lebih menentukan sangat penting untuk mengatasi isu-isu yang semakin beragam yang berkaitan dengan HAM. Terkait masalah ini, izinkan saya mengambil kesempatan ini untuk mengungkapkan sebuah isu yang dekat dengan hati saya - dugaan pelanggaran HAM di Papua," kata dia.

"Kita tidak dapat terus mempertahankan sikap menutup telinga terhadap tuduhan pelanggaran HAM yang telah berlangsung lama di Papua," kata Salwai.

Sementara itu, Paus Fransiskus dalam sambutannya kepada para pemimpin Pasifik itu, memberi penekanan pada permasalahan perubahan iklim dan masalah lingkungan yang ekstrem di kawasan Pasifik.

"Saya berbagi keprihatinan dengan rakyat di wilayah Anda, khususnya mereka yang menghadapai kejadian-kejadian lingkungan ekstrem dan perubahan iklim yang semakin sering dan intens," kata Paus Fransiskus, yang dalam sambutannya, mengutip dokumen Laudato Si berkali-kali.

Editor : Eben E. Siadari

Back to Home