Google+
Loading...
RELIGI
Penulis: Dewasasri M Wardani 10:18 WIB | Senin, 01 Juli 2019

Bertemu Paus, Semakin Yakinkan Perbedaan Iman Bukan Sekat untuk Bersaudara

Dewi Praswida bertemu dan bersalaman dengan Paus Fransiskus di Basilika Santo Petrus, Vatikan,hari Rabu (26/6) lalu. Ia meminta Paus mendoakan Indonesia. (Foto: Voaindonesia.com)

JAKARTA, SATUHARAPAN.COM – Dewi Praswida, mahasiswa sebuah universitas di Semarang yang sedang menyelesaikan program beasiswa di Vatikan, tidak menyangka jika pertemuannya dengan Paus Fransiskus akan mendunia. Diwawancarai VOA sehari setelah tiba di Tanah Air, Dewi mengatakan apa yang dipelajarinya membuat ia semakin yakin bahwa perbedaan iman bukan sekat untuk saling bersaudara.

Dewi Praswida, kelahiran Semarang tahun 1996, sudah pernah bertemu Paus Fransiskus tahun lalu dalam sebuah pertemuan orang muda sedunia di Vatikan. Tetapi, pertemuan kali ini begitu berkesan. Selain karena ia baru saja menyelesaikan program beasiswa dari Nostra Aetate Foundation, yang semakin membuka matanya tentang pentingnya dialog lintas agama saat ini, Dewi baru mendapat semacam tiket untuk bisa datang ke pertemuan dengan Paus beberapa jam sebelum acara itu.

 “Saya presentasi terakhir di Dewan Kepausan untuk Dialog Lintas Agama hari Selasa (25/6), ini bagian tugas akhir masa studi saya. Hingga setelah makan siang, tiket untuk bertemu Paus belum juga dikirim ke kantor Dewan Kepausan. Karena selepas makan siang dan kantor tutup jam 5 maka harapan bertemu Paus sangat sedikit. Jadi setelah makan siang, saya putuskan pulang naik bus, eh ternyata di tengah perjalanan Romo Markus WA saya, tiketnya datang. Saya bersyukur sekali,” kata Dewi, seperti dilansir Voaindonesia.com pada Senin (1/7).

Sejak malam Dewi sudah berlatih menghapal apa yang akan disampaikannya kepada Paus dalam bahasa Italia.

“Sebenarnya hapalan dalam bahasa Italia yang sudah saya siapkan itu isinya adalah mengucapkan terima kasih karena mendapatkan beasiswa dari Pemerintah Vatikan, dan saya ingin mengatakan agar Paus tetap semangat membangun dialog lintas agama. Tetapi entah mengapa begitu bertemu, saya terkesima dan semua itu tidak keluar. hehehehe.. Yang keluar justru bahasa Inggris..."

 “Saya Dewi, Muslim dari Indonesia, tolong doakan saya dan perdamaian di Indonesia.” Dan Paus menjawab pelan-pelan dalam bahasa Inggris, “Ya, tentu saya doakan,” kata Dewi., menirukan Paus

Foto Dewi Bersalaman dengan Paus Mendunia

Foto Dewi, yang dengan dua tangan menggenggam erat tangan Paus dalam pertemuan hari Rabu (26/6) lalu, mendunia. Ia dinilai benar-benar mewakili dialog lintas agama yang ditekuninya sejak bergabung bersama jaringan Gusdurian dan kelompok persaudaraan lintas agama beberapa tahun terakhir ini.

‘’Saya mengikuti jaringan Gusdurian dan persaudaraan lintas agama, karena saya melihat Indonesia yang tadinya beragam, akhir-akhir ini sedikit berubah. Ada pihak yang selalu merasa dirinya paling benar. Nah, saya jadi tertarik ingin membangun jembatan. Mungkin niat saya terlalu ketinggian, ya, tapi saya ingin sekali mengurangi kecurigaan-kecurigaan yang akhirnya membuat orang mudah menghakimi dan berujung pada kebencian,” katanya.

Selepas menyelesaikan pendidikan strata satu di Universitas Negeri Semarang, Dewi melanjutkan pendidikan strata dua di Unika Soegijapranata di kota yang sama. Meskipun fokus studinya pada isu lingkungan dan perkotaan, Dewi tertarik mempelajari lebih jauh tentang dialog lintas agama. Berbekal rekomendasi dari Keuskupan Agung Semarang dan Konferensi Waligereja Indonesia KWI, ia mengajukan permohonan beasiswa ke Nostra Aetate Foundation di Vatikan.

Kondisi di Indonesia Beberapa Tahun Terakhir, Picu Ketertarikan Studi Lintas Agama

Selama kurang lebih enam bulan, sejak Februari lalu, Dewi belajar tentang berbagai hal terkait studi lintas agama.

“Beasiswa itu fokus untuk dialog lintas agama, tetapi kita diberi keleluasaan untuk mengambil mata kuliah tersendiri. Saya memilih mata kuliah seperti Sejarah Agama-agama Besar Dunia, Theology in Contrast, yang mempelajari perbedaan pandangan melihat satu peristiwa dari agama berbeda, misalnya soal turunnya wahyu yang dikaji dari sudut pandang Islam dan Kristen."

"Itu menarik bagi saya dan banyak hal baru yang saya pelajari. Karena difasilitasi oleh pemberi beasiswa dan di sana itu pusat Katolik dunia, maka saya juga tertarik ambil mata kuliah yang berkaitan dengan kekatolikan. Saya ingin sekali mengetahui persis pandangan mereka, sehingga dapat menepis kecurigaan yang sering ada dari masing-masing kalangan.”

Dewi mengisahkan bagaimana ia kerap belajar satu kelas dengan sejumlah pastur dan suster Katolik, yang akhirnya justru menjadi teman baiknya.

“Nah, ada satu kelas di Theology in Contrast di mana semuanya pastur dan hanya ada tiga perempuan, di mana dua orang di antaranya adalah suster dan satunya ya saya! Bahkan pernah pada suatu hari kedua teman suster saya tidak hadir dan saya sendirian di kelas, di antara teman-teman pastur yang semuanya berjubah hitam. Tetapi mereka semua sangat baik pada saya. Jadi saya menilai mereka sebagai teman kuliah, yang hanya saja mengenakan seragam berbeda. Itu saja.”

Tak Sedikit yang Mengkritisi Studi dan Pertemuan dengan Paus

Dewi menyadari bahwa tidak semua orang dapat memahami pilihan studi yang ditekuninya. Apalagi setelah kemudian foto pertemuannya dengan Paus Fransiskus mendunia. Ia menyampaikan hal itu dengan lirih pada VOA.

“Memang ada orang-orang yang curiga, lalu menuduh dan menilai saya sudah dikristenisasi. Ada juga yang mengkritisi karena saya salaman dengan yang bukan muhrim. Saya sebenarnya ingin meluruskan mereka, menjawab hal itu dengan apa yang saya tahu dan pelajari. Tapi saya tidak ingin bertengkar dengan teman karena bisa jadi perselisihan panjang, mereka lebih ngeyel. Saya tidak ingin begitu, jadi saya biarkan saja.” [Dalam konteks itu, bagaimana kita bisa menjadi jembatan dan membangun dialog ketika tahu persis pandangan kita bakal memicu perdebatan panjang?]

“Saya tunjukkan saja bahwa pertemanan saya dengan orang Kristen atau agama apa pun, tidak akan menggoyahkan keimanan saya pada Islam. Menurut saya dengan menunjukkan hal itu jauh lebih efektif dibanding saya berusaha menjelaskan panjang lebar, dan akhirnya berujung jadi perselisihan. Dengan demikian kita bisa menunjukkan bahwa perbedaan iman bukan sekat untuk bersaudara,” katanya. 

 

 

UKRIDA
Zuri Hotel
Back to Home