Google+
Loading...
INSPIRASI
Penulis: Tjhia Yen Nie 04:13 WIB | Selasa, 19 Juni 2018

Biji Mata Tuhan

Menjadi biji mata Tuhan ternyata tidak luput dari penyakit dan air mata.
Foto: Istimewa

SATUHARAPAN.COM – ”Saya capek…,” bisiknya dengan tatapan mata memancarkan keletihan.  Selama empat tahun dia berjuang—jatuh bangun—melawan penyakit yang menderanya. 

”Rasanya, saya mau menyerah….”  Melihat kondisinya, saya merasa hidup memang kadang tidak adil.  Seseorang yang masih berkeinginan mendampingi kekasihnya, masih berkehendak melakukan banyak hal, harus menanggung sakit yang entah berasal dari mana. 

”Apakah Tuhan marah?” tanyanya kembali. ”Apakah saya bisa bangkit?” Saya dan dua teman, yang mendengarnya berkata demikian, larut dalam kesedihan pula.

”Kamu pasti bisa bangkit, Tuhan tidak marah denganmu, Tuhan justru sangat sayang padamu… Kamu adalah biji mata-Nya,” teman saya mengatakannya dengan tegas.

Saya hanya diam.  Dalam benak saya terngiang kalimat yang diungkapkan teman saya.  Menjadi biji mata Tuhan ternyata tidak semudah yang dibayangkan. Menjadi biji mata Tuhan ternyata tidak luput dari penyakit dan air mata.  Menjadi biji mata Tuhan ternyata tidak lepas dari penderitaan.

”Jadi, saya harus melawan perasaan mau menyerah ini?” katanya.

”Ya, Kamu harus melawannya…. Kamu harus makan, dengan makan Kamu akan kuat dan bertenaga, Kamu bisa beraktivitas seperti semula!”

Sang Ibu, yang mendampinginya, menyusutkan air matanya.  ”Lihat Mamak ini, Nak… selama dirimu sakit, tak pernah Mamak menangis.  Tetapi, melihat dirimu mau menyerah, Mamak tak bisa menahan air mata... Kamu harus kuat, Nak… Kamu pasti menang di dalam Tuhan.  Ingat Tuhan kita!”

Dengan memeluk anaknya, Sang Ibu bersenandung: ”Hidup ini adalah kesempatan. Hidup ini untuk melayani Tuhan… jangan sia-siakan waktu yang Tuhan b’ri. Hidup ini harus jadi berkat.”

Kehangatan kasih di ruang tamu yang sederhana itu terpatri dalam ingatan saya.  Inilah biji mata Tuhan, dikasihi dan mengasihi walau dalam keadaan apa pun, tanpa syarat.  Manusia yang lemah kadang lelah, tetapi Tuhan tidak pernah berhenti mengelilinginya dengan kasih yang tak berkesudahan. Sebab Dia sesungguhnya adalah Kasih.

 

Email: inspirasi@satuharapan.com

Editor: Yoel M. Indrasmoro

Rubrik ini didukung oleh PT Petrafon (www.petrafon.com)

Back to Home