Google+
Loading...
FLORA & FAUNA
Penulis: Dewasasri M Wardani 17:51 WIB | Selasa, 25 April 2017

Brokoli, Superfood Antikanker

Brokoli (Brassica oleracea, L. var. Botrytis L). (Foto: amgrowcorporate.net.au)

SATUHARAPAN.COM – Brokoli termasuk sayuran kubis. Bentuknya mirip dengan bunga kol, tapi brokoli berwarna hijau gelap, sedangkan bunga kol berwarna putih. Bagian brokoli yang dimakan adalah kepala bunga berwarna hijau yang tersusun rapat seperti cabang pohon dengan batang tebal. Sebagian besar kepala bunga tersebut dikelilingi dedaunan.

Tidak seperti kembang kol yang sering berbau agak khas, brokoli ini lebih manis dan segar.

Brokoli biasanya direbus atau dikukus. Tapi ada juga melalapnya mentah.  Menurut Wikipedia, cara terbaik dalam mengolah brokoli adalah dengan cara mengukus. Hal ini bertujuan agar segala vitamin dan nutrisi penting di dalamnya tidak hilang selama proses pemasakan.

Brokoli mengandung vitamin C dan serat makanan dalam jumlah banyak. Brokoli juga mengandung senyawa glukorafanin, yang merupakan bentuk alami senyawa antikanker sulforafana (sulforaphane). Selain itu, brokoli mengandung senyawaan isotiosianat, yang sebagaimana sulforafana, ditengarai memiliki aktivitas antikanker.

Brokoli mungkin bukan sayuran yang paling populer. Tapi, brokoli adalah salah satu yang paling bergizi. Itu sebabnya, brokoli disebut sebagai superfood. Konten nutrisi brokoli mengandung banyak vitamin, mineral, dan serat. Kuntum hijau juga diyakini mampu mencegah berbagai penyakit termasuk kanker dan tekanan darah tinggi .

Seperti yang dikutip dari  ccrc.farmasi.ugm.ac.id, brokoli berkhasiat mempercepat penyembuhan penyakit serta mencegah dan menghambat perkembangan sel-sel kanker di dalam tubuh. Terutama penyakit kanker yang berkaitan dengan hormon, seperti kanker payudara pada wanita, dan kanker prostat yang mengancam pria.

Persepsi ini diperkuat oleh Dr Setiawan Dalimartha, dalam bukunya yang berjudul  Atlas Tumbuhan Obat Indonesia Jilid II, Jakarta 2002, penerbit Trubus Agriwidya. Brokoli berkhasiat mempercepat penyembuhan dan mencegah penyakit dan menghambat perkembangan sel-sel kanker berkaitan dengan hormon seperti kanker payudara pada wanita , dan kanker prostat yang mengancam pria.

Hal ini juga dikemukakan Keri Glassman RD CDN, penulis buku The O2 Diet dari New York City, yang dikutip dari nationalgeographic.co.id. Brokoli, menurut Glassman, benar-benar dapat mendetoksifikasi tubuh dan dikenal memiliki sifat mencegah kanker, dan telah terbukti mengurangi risiko kanker payudara, kandung kemih, usus besar dan kanker ovarium, karena mengandung dua jenis phytochemical, indoles dan isothiocyanate.

Pemerian Botani Brokoli

Brokoli, merupakan tanaman sayuran subtropik yang banyak dibudidayakan di Eropa dan Asia. Tanaman brokoli termasuk cool season crop, sehingga cocok ditanam pada daerah pegunungan (dataran tinggi), yang beriklim sejuk.

Brokoli, dikutip dari repository.usu.ac.id, memiliki tangkai daun agak panjang dan helai daun berlekuk-lekuk panjang. Tangkai bunga brokoli lebih panjang dan lebih besar dibandingkan dengan kubis bunga. Massa bunga brokoli tersusun secara kompak membentuk bulatan berwarna hijau tua, atau hijau kebiru-biruan.

Pada kondisi lingkungan yang sesuai, massa bunga brokoli dapat tumbuh memanjang menjadi tangkai bunga yang penuh dengan kuntum bunga, tiap bunga terdiri atas 4 helai kelopak bunga (calyx), empat helai daun mahkota bunga (corolla), enam benang sari yang komposisinya empat memanjang dan dua pendek.

Bakal buah terdiri atas dua ruang, dan setiap ruang berisi bakal biji. Biji brokoli memiliki bentuk dan warna yang hampir sama, yaitu bulat kecil berwarna cokelat sampai kehitaman. Biji tersebut dihasilkan oleh penyerbukan sendiri ataupun silang dengan bantuan sendiri ataupun serangga. Buah yang terbentuk, seperti polong-polongan, tetapi ukurannya kecil, ramping. 

Sistem perakaran relatif dangkal, dapat menembus kedalaman 60-70 cm. Bunga brokoli berwarna hijau dan masa tumbuhnya lebih lama dari kubis bunga. Brokoli tersusun dari bunga-bunga kecil yang berwarna hijau, tetapi tidak sekompak kubis. Dibandingkan dengan kubis bunga, bunga brokoli akan terasa lebih lunak setelah direbus. Panen bunga brokoli dilakukan setelah umurnya mencapai 60-90 hari sejak ditanam, sebelum bunganya mekar, dan sewaktu kropnya masih berwarna hijau. Jika bunganya mekar, tangkai bunga akan memanjang dan keluarlah kuntum-kuntum bunga berwarna kuning. 

Di Indonesia, tanaman brokoli sebagai sayuran dibudidayakan secara luas di daerah tinggi seperti Bukit Tinggi (Sumatera Barat), Karo (Sumatera Utara), Pangalengan (Jawa Barat), dan Sumber Brantas (Jawa Timur).

Di Indonesia sayuran brokoli telah dikenal sejak abad ke-15, yaitu mulai penjajahan Belanda, sehingga lebih dikenal sebagai sayuran Eropa. Beberapa negara di kawasan Asia berhasil menciptakan varietas-varietas unggul baru yang toleran terhadap temperatur tinggi (panas), sehingga brokoli dapat ditanam di dataran menengah sampai tinggi.

Brokoli menurut Wikipedia memiliki nama ilmiah Brassica oleracea, L. var. Botrytis, L. Brokoli juga dikenal dengan berbagai nama seperti broccoli (Inggris), yang hua ye chai (Tiongkok), asparkapsa (Estonia), parsakaali (Finlandia), chou broccoli (Prancis), brokkoli (Jerman), cavolo broccoli (Italia), burokkori (Jepang), brócolos (Portugis), broculos (Brasil), brokkoli, kapusta sparzhevaia (Rusia), brocoli, broculi, brecol (Spanyol), brokuł (Polandia), brokolica (Slovenia), brokolice (Republik Cek dan Slovakia).

Khasiat Herbal Brokoli

Brokoli seperti dikutip dari unud.ac.id, merupakan tanaman yang dikenal memiliki khasiat yang menyehatkan. Brokoli mentah mengandung vitamin A, B1, B2, B3, C, E dan K. Brokoli menurut Departemen Pertanian Amerika Serikat atau United States Department of Agriculture (USDA) tahun 2011, juga mengandung asam folat, fosfor, magnesium, besi, potasium, serat, beta karoten, dan kalsium yang tinggi. Vitamin yang paling menonjol yang terkandung dalam brokoli adalah vitamin C, vitamin A, dan vitamin K.

Menurut Dalmadi dalam bukunya, Syarat Tumbuh Brokoli, Jakarta 2010, Penerbit Direktorat Jenderal Hortikultura, brokoli dapat mengurangi risiko hiperglikemia dan hiperlepidemia, serta menjaga keseimbangan gula darah sehingga menjadi pilihan sayuran yang baik bagi penderita diabetes.

Kandungan vitamin A pada brokoli, karoten yang dikenal sebagai prekursor vitamin A (beta karoten), saat ini telah dikembangkan sebagai efek protektif melawan sel kanker, penyakit jantung, mengurangi penyakit mata, antioksidan, dan regulator dalam sistem imun tubuh manusia.  Vitamin A merupakan salah satu jenis vitamin yang larut dalam lemak. Pada vitamin A terdapat senyawa seperti retinol, retinil palmitat, dan retinil asetat, yang memiliki peran penting dalam tubuh khususnya terhadap pembentukan indra penglihatan.

Menurut H Nugraha dalam skripsinya yang berjudul “Analisis Efisiensi Produksi Usaha Tani Brokoli di Desa Cibodas Kecamatan Lembang Kab Bandung Barat” pada FEM IPB Bogor (2010), bahwa dalam 100 gram brokoli terdapat vitamin A sekitar 1542 IU, sehingga dengan mengkonsumsi brokoli akan dapat membantu terhindar dari penyakit yang disebabkan oleh kekurangan vitamin A. 

Sedangkan tim peneliti dari Departemen Farmasi Universitas Seoul Korea, meneliti efek protektif brokoli dan komponen aktifnya terhadap kerusakan oksidatif akibat radikal. Hasilnya menunjukkan bahwa brokoli memiliki potensi antioksidan yang sangat baik, dan sebagai komponen aktif dan memiliki efek antioksidan.

Brokoli juga memiliki  sifat antioksidan dan antitumor brokoli. Hal ini dibuktikan dengan penelitian yang dilakukan  oleh tim peneliti Institut Teknik Genetika dan Bioteknologi, Sarajevo, Bosnia dan Herzegovina. Mereka menyimpulkan bahwa brokoli mengandung sejumlah besar senyawa bioaktif, yang merupakan pemulung radikal bebas yang baik dan dengan demikian memiliki sifat antitumor yang kuat.

Brokoli seperti dikutip dari sukatani-banguntani.blogspot.co.id, dalam 100 gramnya terdapat sekitar 3 gram serat dan jumlah ini berbeda-beda untuk tiap kultivar. Serat dapat mengganggu penyerapan kolesterol di usus halus, sehingga gerakan usus meningkat dan sari makanan yang mengandung lemak dan kolesterol cepat terbuang melalui tinja akibat asam empedu yang mengandung kolesterol. Serat dapat merangsang peningkatan ekskresi asam empedu ke dalam usus. Semakin tinggi konsumsi serat larut, semakin banyak asam empedu dan lemak yang dikeluarkan oleh tubuh.

Menurut Ali Khomsan dalam bukunya, Study Implementasi Program Gizi: Pemanfaatan, Cakupan Keefektifan dan Dampak Terhadap Status Gizi,  yang diterbitkan Departemen Gizi Masyarakat Institut Pertanian Bogor 2007, peningkatan konsumsi serat akan menurunkan kadar kolesterol dalam darah terutama bila dilakukan secara kontinu.  Serat mampu mencegah bakteri penyebab terjadinya infeksi pada bagian appendix, mencegah terjadinya konstipasi, hemorrhoid, dan serat juga mampu menurunkan risiko kanker kolon.

Penelitian baru dari University of East Anglia (UEA) di Inggris dan diterbitkan dalam jurnal Arthritis & Rheumatism mengidentifikasi, bahwa brokoli sarat akan senyawa sulforaphane. Dalan percobaan laboratorium, senyawa ini ternyata ampuh memerlambat osteoarthritis. Sulforaphane menampilkan perilaku anti-inflamasi dan bertanggung jawab untuk memperlambat dekomposisi tulang rawan sendi.

Sedangkan menurut Rovenia Brock, PhD, penulis dan konsultan gizi, bahwa brokoli kaya akan kalium, yang membantu menstabilkan tekanan darah dan juga membantu menjaga sistem saraf dan fungsi otak agar tetap terjaga. 

Jeanette Bronee, konselor kesehatan holistik bersertifikat Path for Life di New York City mengatakan bahwa  brokoli memperbaiki pencernaan. Karena kandungan serat yang tinggi dalam brokoli dapat membantu kesehatan pencernaan dan mencegah sembelit.

 

 

Editor : Sotyati

UKRIDA
Zuri Hotel
Back to Home