Google+
Loading...
BUDAYA
Penulis: Moh. Jauhar al-Hakimi 10:20 WIB | Jumat, 19 Mei 2017

Budi Ubrux Gelar Pameran "Raja Kaya"

Budi Ubrux Gelar Pameran "Raja Kaya"
Salah satu patung instalasi karya perupa Budi Ubrux dipamerkan dalam pameran "Raja Kaya" di Taman Budaya Yogyakarta yang berlangsung 18-31 Mei 2017.. (Foto-foto: Moh. Jauhar al-Hakimi)
Budi Ubrux Gelar Pameran "Raja Kaya"
Agung Tobing dan Budi Ubrux (batik merah) mendampingi Menteri Perhubungan RI Budi Karya Sumadi (paling kanan) saat pembukaan pameran "Raja Kaya", Kamis (18/5) malam di Taman Budaya Yogyakarta..

YOGYAKARTA, SATUHARAPAN.COM - Perupa Yogyakarta dengan ciri khas karya lukisan koran Budi Ubrux selama dua minggu akan menggelar pameran tunggal. Pameran bertajuk "Raja Kaya" digelar di ruang pamer Taman Budaya Yogyakarta 18-31 Mei 2017.

Sejumlah karya lukisan berukuran besar, instalasi, dan lukisan mobil dipamerkan di pelataran dan ruang pamer TBY dengan penataan tempat pamer menyerupai kandang sapi beralas tumpukan jerami kering. Ruang pamer TBY diubah menjadi kandang sapi berpagar kayu dialasi dengan tumpukan jerami kering dengan instalasi patung sapi dengan lukisan di badannya. Lukisan berukuran besar hingga berukuran 2 meter x 6 meter dipasang pada dinding di sekelilingnya.

Lima lukisan mobil ditempatkan pada masing-masing kandang. Di lobby TBY dipajang lukisan pada badan sebuah mobil VW Safari.

Pameran "Raja Kaya" yang dipromotori oleh kolektor seni Agung Tobing dibuka oleh Menteri Perhubungan Budi Karya Sumadi, Kamis (18/5) malam di lobby TBY dan akan berlangsung sampai 31 Mei 2017.

Raja Kaya, sebuah  mimpi petani masa kini

Binatang peliharaan semisal sapi, kerbau, kambing, ayam, dalam istilah bahasa Jawa sering disebut juga dengan sato-iwen bagi masyarakat petani dan pedesaan adalah 'harta hidup' yang selalu diupayakan untuk dimiliki. Dikatakan sebagai 'harta hidup' karena dapat beranak-pinak sekaligus membantu aktivitas mereka dalam bertani. Masyarakat desa menyebut peliharaan tersebut dengan istilah rojo koyo sebagai tabungan yang hidup dan menghidupi.

"Raja Kaya, sebuah ungkapan untuk menjelaskan istilah sehari-hari milik masyarakat lapisan bawah yang terkait langsung dengan kecukupan pangan, yang artinya ada kecukupan sandang, dan kecukupan papan," papar kurator pameran Suwarno Wisetrotomo saat memberikan sambutan Kamis (18/5) malam.

Lebih lanjut Suwarno menjelaskan bahwa itu hanya mungkin terjadi terkait dengan kepemilikan lahan, karena petani (masyarakat desa) akan menjadi sempurna menjadi si raja kaya (karena kepemilikan binatang peliharaan) jika dilengkapi dengan penghasilan dari panen non-padi (palawija). Kemudian akan lebih sempurna apabila petani memiliki panen padi, artinya petani memiliki lahan sawah, setidaknya menanam untuk dirinya sendiri. Dalam posisi inilah binatang peliharaan itu menjadi kelengkapan yang sempurna.

Tema "Raja Kaya" merujuk pada perihal stabilitas dan kecukupan pangan. Ketika perut terisi, setidaknya urusan kehidupan lainnya akan menjadi lebih mudah.

Permasalahan klasik pertanian yang dihadapi petani di berbagai desa di Indonesia adalah kepemilikan lahan yang semakin menyusut dan berdampak pada hasil panen yang tidak mencukupi. Masyarakat modern memandang dengan kepemilikan lahan yang tidak seberapa, mata pencaharian sebagai petani sebagai sebuah aktivitas yang tidak efisien, meskipun ukuran kecukupan bagi setiap orang berbeda.

Pembangunan sarana-prasarana infrastruktur pun seolah menjadi pisau bermata dua bagi dunia pertanian. Di satu sisi mendorong kelancaran distribusi sarana produksi dan hasil pertanian, pada sisi lain secara perlahan mengubah desa menjadi kota dengan segala kehidupannya seturut dengan konversi lahan produktif untuk pertanian bagi peruntukan lainnya semisal hunian, perkantoran, hingga pusat aktivitas ekonomi lainnya.

Mengambil contoh tingginya nilai jual tanah terutama di kota dan bagian utara Yogyakarta menjadi salah satu faktor yang mempercepat beralih fungsinya lahan di Yogyakarta. Meskipun pemanggku kebijakan telah menerapkan tata ruang wilayah yang melindungi areal persawahan sebagai salah satu daerah resapan air diikuti dengan kebijakan penetapan peraturan zonasi, perizinan, pemberian insentif dan disinsentif, serta pengenaan sanksi, namun ketika harus berhadapan dengan hukum ekonomi pasar dalam realitasnya kebijakan yang ada sering seolah tunduk pada mekanisme pasar yang ada.

Ini bisa dilihat dari betapa berjenjangnya proses perizinan pengeringan lahan persawahan untuk penggunaan lainnya, namun dari hari ke hari bisa kita jumpai di berbagai wilayah di Yogyakarta terjadi pengeringan areal persawahan yang akan dikonversi bagi peruntukkan lainnya. Realitasnya, moratorium bagi konversi lahan pertanian tidak cukup kuat menahannya.

Alih fungsi lahan dari ruang terbuka hijau untuk pertanian dan resapan air seolah tidak terhindarkan meskipun pemerintah setempat telah melakukan moratorium bagi konversi lahan. Ketika pemusatan modal dan kapital berbicara, kecukupan pangan, ketahanan pangan, hingga kedaulatan pangan hanya akan menjadi indah dibaca di koran serta media massa lainnya.

Konflik agraria masih sering terjadi di Indonesia mulai dari ketidakjelasan status akibat kekacauan administrasi, distribusi lahan karena berbagai faktor semisal rekayasa kepemilikan berbagai pihak, penguasaan dan pemusatan kapital bagi industri, konversi lahan pertanian bagi peruntukan lainnya menjadi masih menjadi gambaran karut-marut program pembangunan pertanian yang selalu membawa jargon bagi ketahanan dan kedaulatan pangan. Belum lagi masalah klasik dalam perdagangan hasil pertanian, dimana sebagai pemiliki komoditas petani bukan penentu harga jual.

Ketika lahan pertanian pun tidak dimiliki oleh petani, kemana "Raja Kaya" akan diupayakan? Pada titik ini Budi Ubrux seolah menyampaikan pesan yang cukup jelas. Permasalahan klasik petani yang sudah berubah menjadi mata pencaharian sub-sisten bagi petani, menjadi penyewa lahan di tanah miliknya sendiri, menjadi buruh tani di desanya bahkan di tanah yang pernah dimilikinya, hingga mimpi mewujudkan ketahanan dan kedaulatan pangan di tengah ketidakadilan distribusi lahan pertanian dan permasalahan pertanian lainnya.

Budi Ubrux perupa yang tidak banyak bicara mencoba menjawabnya dengan singkat: semua ada di koran.

Editor : Yan Chrisna Dwi Atmaja

Back to Home