Google+
Loading...
INSPIRASI
Penulis: Darwin Darmawan 05:38 WIB | Jumat, 18 Januari 2019

Bukan Damai, Tetapi Pedang

Para pemeluk agama sering menganggap enteng ketika tidak menaati-Nya, demi memenuhi ego, kenyamanan pribadi, kelompok atau keluarga.
Memilih (foto: istimewa)

SATUHARAPAN.COM – Kristus pernah menyampaikan hal yang keras dan sulit dimengerti: ”Jangan kamu menyangka, bahwa Aku datang untuk membawa damai di atas bumi; Aku datang bukan untuk membawa damai, melainkan pedang” (Mat. 10:34). Apa arti perkataan Kristus ini?

Kristus menjelaskan pedang yang Ia maksud, yaitu: sesuatu yang memisahkan orang dari kekuarganya. Anak dengan orang tua, menantu dengan mertua. Pertanyaan penting untuk direnungkan, mengapa Kristus datang untuk memisahkan seseorang dari anggota keluarganya?

Karena Ia menghendaki, manusia mengasihi-Nya dengan sempurna. Ia mengatakan bahwa seseorang yang mengasihi keluarganya lebih dari kasih kepada-Nya, tidak layak di hadapan-Nya. Mengapa Kristus menyatakan hal ini? Mengapa Ia terkesan menaruh kasih kepada keluarga setelah kasih kepada-Nya?

Sebetulnya, Kristus tidak menganggap kasih kepada manusia lebih rendah dari pada kasih kepada Allah. Bagi Dia sesungguhnya kasih kepada sesama sejajar dengan kasih kepada Allah (Mat. 22:39). Lalu mengapa orang yang mengasihi keluarganya lebih daripada kasih kepada Yesus, tidak layak bagi-Nya? Kristus hendak mengatakan, kasih kepada sesama perlu sama dengan kasih kepada-Nya. Jangan sampai terjadi, demi mengasihi keluarga, orang lalu korupsi. Tidak boleh terjadi, demi mengutamakan kenyamanan keluarga dan diri sendiri, seseorang lantas mengorbankan prinsip-prinsip kebenaran, keadilan, kebaikan.

Persoalan yang banyak terjadi di negeri yang menganggap agama penting dalam hidup, terletak di situ. Para pemeluk agama sering menganggap enteng ketika tidak menaati-Nya, demi memenuhi ego, kenyamanan pribadi, kelompok atau keluarga. Berkali-kali terjadi, Departemen Agama malah menjadi departemen dengan tingkat korupsi tinggi, partai bernuansa agama menjadi partai yang kadernya tersandung kasus korupsi.

Kecenderungan yang sama saya jumpai juga dalam sikap politik beberapa orang yang aktif dalam kehidupan gereja.  Dasar memilih capres-cawapres bukan kebenaran, kebangsaan, keadilan sosial, tetapi mudah tidaknya mendapat uang dan mengemplang pajak. Salah seorang aktivis gereja pernah berkata kepada saya, ” Saya tidak mau pilih capres X, karena orangnya lurus, sehingga kalau dia jadi Presiden, pajak tinggi dan susah korupsi.”

Orang-orang seperti dirinya perlu secara serius mendengarkan perkataan Kristus ini: ”Jangan kamu sangka Aku datang bukan untuk membawa damai, tetapi pedang.” Kalau dia benar-benar mengikuti Kristus, mestinya dia siap keluar dari kenyamanan pribadi dan keluarga, demi mengikuti kebenaran, keadilan dan kebaikan, yang menjadi kehendak-Nya.

Editor : Yoel M Indrasmoro

Zuri Hotel
Back to Home