Google+
Loading...
INSPIRASI
Penulis: Yoel M Indrasmoro 03:20 WIB | Sabtu, 15 Juni 2019

Bukankah Hikmat Berseru-seru?

Hikmat bekerja dalam diri manusia agar manusia mampu memenuhi panggilannya selaku ciptaan Allah yang mulia (Mzm. 8:6).
Pencerahan (foto: istimewa)

SATUHARAPAN.COM – ”Bukankah hikmat berseru-seru, dan kepandaian memperdengarkan suaranya?” (Ams. 8:1).  Amsal yang bernada retorik ini sejatinya merupakan pengakuan iman Israel. Dengan pengakuan iman macam begini, manusia tidak bisa berdalih.

Amsal juga menyatakan bahwa hikmat Allah telah ada sejak permulaan zaman (Ams. 8:22-31). Dia tak sekadar kuasa, melainkan pribadi nyata. Hikmat juga berperan dalam penciptaan dan membimbing manusia untuk mengenal Allah.

Dengan kata lain, hikmat bekerja dalam diri manusia agar manusia mampu memenuhi panggilannya selaku ciptaan Allah yang mulia (Mzm. 8:6). Hikmat Allah itu pulalah yang memampukan manusia untuk memandang kehidupannya sendiri melalui sudut pandang Allah—Sang Pencipta. Itulah yang yang membuat Allah berkenan kepada manusia. Hikmat yang datang dari atas itu hanya mungkin terjadi ketika manusia sungguh-sungguh bersekutu dengan Allah dan tunduk pada kehendak Allah.

Banyak orang, mungkin kita termasuk pula di dalamnya, bertanya-tanya: ”Bagaimana memahami kehendak Allah?” Sejatinya, jawaban dari pertanyaan itu harus dijawab pula dengan pertanyaan: ”Bagaimanakah hubungan kita dengan Allah?”

Kedekatan dengan Allah akan menolong kita untuk peka akan suara Allah. Kedekatan dengan Allah akan memampukan kita untuk membedakan suara Allah dengan suara diri kita sendiri. Dan akhirnya kita mampu memahami kehendak Allah.

Persekutuan dengan Allah menjadi hal yang mutlak penting karena membuat kita cenderung mendengarkan suara Allah. Itulah inti amsal tadi: apakah kita mau mendengarkan hikmat Allah itu? Mau mendengarkan hikmat Allah akan membuat kita memahami seluruh kebenaran.

itu jugalah yang ditekankan penulis Injil Yohanes. Roh Kudus, yaitu Roh Kebenaran, akan memimpin manusia dalam seluruh kebenaran. Persoalannya ialah apakah manusia terbuka akan karya Roh Kudus? Tanpa keterbukaan terhadap karya Roh Kudus mustahil manusia dapat memahami seluruh kebenaran!

Dan puncak kebenaran itu adalah ”Karena Allah begitu mengasihi manusia di dunia ini, sehingga Ia memberikan Anak-Nya yang tunggal, supaya setiap orang yang percaya kepada-Nya tidak binasa, melainkan mendapat hidup sejati dan kekal.” (Yoh. 3:16, BIMK).

Editor : Yoel M Indrasmoro

UKRIDA
Zuri Hotel
Back to Home