Loading...
BUDAYA
Penulis: Moh. Jauhar al-Hakimi 01:58 WIB | Sabtu, 11 Agustus 2018

Bunda Kata, Buatlah Sendiri Bukumu

Bunda Kata, Buatlah Sendiri Bukumu
Lokakarya "Bunda Kata" pada FKY 30|2018 di Planet Pyramid, Sewon-Bantul, 7-9 Agustus 2018. (Foto: Moh. Jauhar al-Hakimi)
Bunda Kata, Buatlah Sendiri Bukumu
Menyusun naskah tercetak dan menjilid menjadi buku pada lokakarya FKY 30|2018 "Bunda Kata".

YOGYAKARTA, SATUHARAPAN.COM - Naskah dalam bentuk puisi, cerpen, ilustrasi, komik strip dari tiga puluh tujuh orang diperbanyak dengan menggunakan kertas buram dengan mesin cetak stensil masing-masing dipajang terpisah pada dinding lokakarya "Bunda Kata" yang ada di sekitar pasar seni FKY 30|2018.

Bunda Kata adalah sebuah ruang diskusi yang diinisiasi oleh beberapa seniman-perupa dan pegiat sastra diantaranya AC Andre Tanama dan Rain Rosidi, untuk kembali mengangkat budaya literasi yang sudah mulai hilang di kalangan generasi muda. Bunda Kata pada lokakarya di FKY 30 merupakan perjumpaan kelima sejak diluncurkan pada tahun 2016. Dalam open call naskah yang dibuka hingga 27 Juli 2018 terhimpun tiga puluh tujuh naskah dari 34 kuota yang disediakan panitia. Selama FKY 30, lokakarya pembuatan buku oleh pengunjung dalam "Bunda Kata" berlangsung 7-9 Agustus 2018 di Planet Pyramid Jalan Parangtritis km 5,5 Sewon-Bantul.

"Antusias pengirim naskah cukup bagus. Tidak ada kurasi, dengan tema "Dunia Bersama" semua naskah kita tampung dan dicetak untuk disusun menjadi buku oleh pengunjung sesuai selera masing-masing. Silakan memilih naskah yang sudah dicetak, jilid sendiri, dan buku itu menjadi karya bersama," jelas koordinator lokakarya FKY Awaluddin G Mualif saat ditemui satuharapan.com pada lokakarya pembuatan batik jumputan (tie-dye) FKY 30 di Pondok Pesantren Sunan Pandanaran Yogyakarta, Minggu (5/8) siang.

Dalam lokakarya "Bunda Kata" seluruh naskah dicetak dan dipajang naskah per naskah. Pengunjung dipersilakan memilih cerita, puisi, gambar-ilustrasi, sesuai keinginan untuk dijadikan buku. Berikutnya naskah tersebut dijilid sendiri secara sederhana menggunakan stapler dan lakban kertas. Dengan mengalami langsung proses pembuatan buku bacaan yang dibuat sendiri, diharapkan pembaca mengetahui bagaimana sebuah buku diterbitkan. Ada banyak proses yang dilalui hingga buku-buku bisa sampai di hadapan pembaca. 

Perkembangan teknologi informasi seolah menjadi pisau bermata ganda bagi budaya literasi di masyarakat. Perubahan platform buku dan bahan bacaan yang bisa diakses dengan gawai pintar dalam jaringan di satu sisi memudahkan masyarakat saat ini, namun di sisi lain sedikit banyak telah menggerus budaya literasi di kalangan generasi muda. Berbagai informasi dengan mudah diakses dari berbagai sumber. Mudahnya mengakses berbagai informasi dalam pencarian di dunia dalam jaringan (online) menjadi salah satu penyebab menurunnya kebiasaan membaca secara keseluruhan ataupun menuliskan gagasan.

Menjadi bumerang ketika pencarian sumber bacaan hanya diambil sepotong sepotong dan hanya pada bagian tertentu yang dibutuhkan sehingga kehilangan narasi besarnya. Inilah yang kerap terjadi saat ini sehingga dalam dunia berjejaring di dunia maya bertebaran berita hoax karena hilangnya detail secara keseluruhan. Hiruk-pikuk dunia maya menjadi salah satu penanda menurunnya budaya literasi pada masyarakat. Bahkan orang pintar-terdidik pun dapat ikut mempercayai dan menyebar hoax jika tidak hati-hati dan kurang teliti. 

Lokakarya "Bunda Kata" memberikan tawaran menarik bagi pengunjung, apapun platform yang dipilih janganlah berhenti membaca secara keseluruhan ataupun menuliskan ide-gagasan sesuai keinginan.

 


BPK Penabur
Gaia Cosmo Hotel
Kampus Maranatha
Back to Home