Google+
Loading...
FLORA & FAUNA
Penulis: Reporter Satuharapan 07:00 WIB | Rabu, 27 September 2017

Burung Tokhtor Sumatra yang Terancam Punah Tertangkap Kamera

Keberadaan seekor burung tokhtor sumatera (carpococcyx viridis) tertangkap kamera perangkap di Taman Nasional Batang Gadis, Sumatera Utara, pada 19 November 2016. (Conservation International)

JAKARTA, SATUHARAPAN.COM - Burung tokhtor sumatra (Carpococcyx viridis) yang terancam punah tertangkap kamera untuk pertama kalinya di kawasan Taman Nasional Batang Gadis (TNBG) Sumatra Utara (Sumut) melalui jaringan 120 kamera perangkap di kawasan taman nasional.

Diketahui hanya dari delapan spesimen, spesies ini pernah dianggap punah dan baru ditemukan kembali pada tahun 1997. Dengan perkiraan populasi hanya 50-249 individu dewasa, penampakan ini menggarisbawahi pentingnya keanekaragaman hayati dan konservasi di kawasan Taman Nasional Batang Gadis.

"Sangat menggembirakan mengetahui kita belum terlambat mencegah spesies yang terancam ini dari kepunahan. Namun, tindakan mendesak perlu dilakukan - oleh pemerintah, dan masyarakat. Kami membutuhkan mereka untuk memahami bahwa satwa liar menjaga hutan. Sementara hutan menyediakan makanan, air bersih dan mata pencaharian bagi kesehatan mereka," kata penasihat senior kebijakan terestrial Conservation International Indonesia Imam Santoso melalui siaran pers yang diterima di Jakarta, Selasa (26/9).

Dia menambahkan pendidikan lingkungan bagi masyarakat lokal telah dipastikan membantu usaha konservasi, namun perlu disampaikan pesan bahwa ada banyak hal yang tidak diketahui, bahwa mungkin akan kehilangan, jika tidak melindungi hutan.

 

Penasihat senior bagian teknik terestrial CI Indonesia, Simon Badock mengatakan kamera perangkap merupakan komponen penting dari pekerjaan kami di Batang Gadis.

 

"Misalnya, sebelum penampakan burung tokhtor sumatra ini, tidak ada indikasi bahwa spesies yang terancam punah ini ada di dalam kawasan taman nasional. Melalui kerja sama dengan jaringan Tropical Ecology Assessment and Monitoring (TEAM), ditambah dengan jaringan kamera perangkap mereka yang luas, kami dapat menentukan strategi yang efektif untuk mengelola kawasan taman nasional dan merekomendasikan tindakan perlindungan yang tepat. "

Kepala Balai TNBG Etti Nurwanti menjelaskan bahwa data yang ditangkap oleh kamera dapat mengindikasikan apakah kawasan tersebut dikelola dengan baik atau tidak.

"Bila habitat terancam, akan berdampak pada daerah sekitarnya. Berdasarkan data yang diperoleh, kami berharap bisa mengidentifikasi populasi satwa liar, termasuk macan, tapir, dan spesies langka lainnya."

Penelitian dilakukan oleh Balai TNBG, yang merupakan bagian dari jaringan TEAM telah mengidentifikasi dan mencatat setidaknya 37 spesies yang tinggal di kawasan tersebut dan menangkap 6 spesies yang terancam punah di kamera: trenggiling sunda, macan tutul sumatra, harimau sumatra, burung tokhtor sumatra, tapir dan anjing liar asiatic.

Spesies endemik kuau kerdil sumatra dan sempidan sumatra juga terekam.

Kawasan TNBG, yang diresmikan pada tahun 2004 terletak di jajaran pegunungan Bukit Barisan sebelah utara, sebagai bentang perwakilan tipe ekosistem Sumatra, dikenal sebagai habitat tapir terpadat di Asia Tenggara dan salah satu rumah harimau sumatera yang langka.

TNBG memiliki luas lebih dari 70 ribu hektare dan terletak pada kisaran ketinggian 300 sampai 2.145 mdpl dengan titik tertingginya di puncak gunung Sorik Merapi. Secara administratif merupakan taman nasional ke 42 dari 52 taman nasional di Indonesia.

Kawasan ini berlokasi di Kabupaten Mandailing Natal, Provinsi Sumatra Utara di wilayah 10 kecamatan dan 32 desa, dinamai menurut sungai utama yang mengalir melalui Madina Daerah Aliran Sungai (DAS) Batang Gadis. DAS ini merupakan sumber irigasi untuk sekitar 40.000 hektar sawah dan menyediakan air bersih bagi lebih dari 400.000 penduduk.

Kawasan ini dikelilingi hutan lindung, hutan produksi terbatas, dan hutan produksi tetap, sesuai dengan Surat Keputusan Menteri Kehutanan Nomor 3973/Menhut-VII/ KUH/2014. (antaranews.com)

Editor : Yan Chrisna Dwi Atmaja

Back to Home