Google+
Loading...
BUDAYA
Penulis: Moh. Jauhar al-Hakimi 05:36 WIB | Kamis, 29 Maret 2018

Cara Melayu, Ketika Mahasiswa Malaysia Belajar Berlari di Yogyakarta

Cara Melayu, Ketika Mahasiswa Malaysia Belajar Berlari di Yogyakarta
Keramik karya mahasiswa residensi UiTM Syah Alam-Malaysia berjudul "Gendongan" dalam pameran "Cara Melayu" di Limas art house Jalan Kesejahteraan Sosial Yogyakarta, 27 Maret - 2 April 2018. (Foto-foto: Moh. Jauhar al-Hakimi)
Cara Melayu, Ketika Mahasiswa Malaysia Belajar Berlari di Yogyakarta
Mahasiswa residensi menjelaskan karya kepada pengajar Seni Rupa ISI Joseph Wiyono (berkacamata) dan perupa Alie Gopal di Limas art house, Selasa (27/3) malam.
Cara Melayu, Ketika Mahasiswa Malaysia Belajar Berlari di Yogyakarta
Karya lukisan dan sketsa mahasiswa residensi UiTM pada pameran "Ikhlas untuk Jogja" di Sangkring art project.
Cara Melayu, Ketika Mahasiswa Malaysia Belajar Berlari di Yogyakarta
Mahasiswa residensi menjelaskan karya kepada Wakil Rektor bagian Akademik dan Kemahasiswaan ISI Yogyakarta Anusapati, Rabu (28/3) malam di Sangkring art project.

YOGYAKARTA, SATUHARAPAN.COM - Tiga belas mahasiswa jurusan Seni Halus (fine art) Fakultas Seni dan Desain, Universitas Teknologi MARA (UiTM) Shah Alam-Malaysia yang sedang menjalani program residensi sebagai bagian dari praktek kerja lapangan (practical) memamerkan karya seni yang dibuat selama menjalani program residensi. Berbagai karya seni rupa dalam dua-tiga matra dan berbagai medium dipamerkan di tiga tempat.

Jika sebelumnya program practical dilakukan di tempat seniman Malaysia, sejak tahun 2013 program practical dilakukan mahasiswa UiTM di beberapa kota di Indonesia salah satunya di Yogyakarta. Program parctical residensi tahun ini terbagi pada tiga tempat yakni empat mahasiswa di Studio BODO milik perupa Yaksa Agus, empat mahasiswa di Sangkring art project, dan lima mahasiswa di Saung Banon milik perupa Alex Lutfi. Di tiga tempat itulah mereka berproses karya seni. Sebagai salah satu tempat residensi, Yaksa Agus pertama kali menerima mahasiswa practical pada tahun 2011 dan berlanjut sampai tahun ini.

Selama menjalani program residensi tiga bulan untuk mempelajari proses dalam membuat karya dengan mengeksplorasi beberapa tempat di Yogyakarta, akhir Maret karya proses tersebut dipamerkan. Empat mahasiswa yang dibimbing Yaksa Agus memamerkan karyanya di Limas art house 27 Maret-2 April, empat mahasiswa dalam bimbingan perupa Putu Sutawijaya memamerkan karyanya di Sangkring art project 28 Maret, sementara lima mahasiswa memamerkan karyanya di Saung Banon milik Alex Luthfi, 2 April 2018.

Pengajar Seni Rupa ISI Yogyakarta Joseph Wiyono dalam sambutan rangkaian pameran di Limas art house bertajuk "Cara Melayu", Selasa (27/3) malam menjelaskan bagaimana Yogyakarta dengan atmosfir seni rupanya yang telah menjadi salah satu barometer di Asia dalam konteks belajar bersama adalah pilihan yang tepat untuk bisa saling mengisi. Yogyakarta adalah tempat yang tepat bagi upaya akselerasi bersama.

"Semoga ini menjadi pemacu bagi mahasiswa yang sedang pratical untuk tahap selanjutnya." jelas Joseph Wiyono.

Dalam perbincangannya dengan satuharapan.com, Selasa (27/3) malam Yaksa menjelaskan bahwa ada kondisi yang berbeda antara dunia seni rupa di Malaysia dengan Indonesia khususnya di Yogyakarta.

"Di Yogyakarta, semua pameran (bisa) dilakukan oleh seniman atau kelompok seni (sendiri). Ini berbeda dengan di Malaysia dimana pameran diselenggarakan oleh sebuah panitia event seni atau galeri seni pemerintah/komersial yang membuat sebuah pameran dengan membuka pendaftaran bagi seniman (open application) yang ingin terlibat dalam pameran seperti Festival Kesenian Yogyakarta atau Art|Jog di sini." jelas Yaksa.

Lebih lanjut Yaksa menjelaskan bahwa fungsi galeri seni (art gallery) di Malaysia lebih untuk kebutuhan pasar bahkan  Galeri  Segaris yang dimiliki pemerintah Malaysia. Hal ini berbeda jika dibandingkan dengan Gallery R.J. Katamsi atau Galeri Fadjar Sidik ISI Yogyakarta misalnya yang diperuntukkan bagi ruang apresiasi-edukasi bagi mahasiswa, alumni, maupun seniman-perupa.

Berbeda dengan dunia seni rupa di Indonesia, Malaysia mengganggap seniman adalah sebuah profesi sehingga bagi mahasiswa yang belum lulus akademik dengan membuat karya seni belum diperkenankan untuk membuat pameran. Sejauh ini mahasiswa hanya berkarya seni di dalam kampus. Seni menjadi sangat berjarak dengan masyarakat, berkembang secara mekanis, kehilangan daya kritis dan kepekaan, dan bisa jadi hanya berorientasi pasar. Tidak berlebihan ketika tawaran pameran "Cara Melayu" sebagai plesetan ajakan untuk berlari mendapat sambutan mahasiwa UiTM dan menjadi momentum indah sesaat bagi mereka.

"Kejadian di Malaysia hari ini sudah tidak ada kelompok-kelompok seni rupa. Kalaupun ada kelompok-kelompok kecil seni rupa, ada gerak-gerik namun tidak ada gerakan." kata Yaksa yang sejak tahun 1999 sering berkunjung ke Malaysia menjalin kerjasama dengan seniman-perupa setempat.

Senada dengan Joseph Wiyono, pemilik Sangkring art space Putu Sutawijaya menjelaskan bahwa program residensi yang dijalani empat mahasiswa UiTM di tempatnya sebagai sebuah transformasi dua arah didalam belajar bersama dalam banyak hal.

"Saya mencoba menjadi partner dan menyesuaikan frekuensinya. Saya ikut melukis dengan mereka. Ikut terlibat diskusinya. Dan tidak pernah menggurui, bahwa kita ini sama-sama (belajar). Dan semoga nanti mereka pulang ke Malaysia ada bekal dalam artian 'apakah kamu tambah rusak atau tambah baik', saya akan melihatnya di tahun-tahun mendatang." papar Sutawijaya dalam pembukaan pameran residensi bertajuk "Ikhlas untuk Jogja" di Sangkring art project, Rabu (28/3) malam.

Melihat bagaimana wajah ceria mahasiswa UiTM bisa memamerkan karyanya di ruang seni yang belum tentu itu bisa dilakukan di negaranya seolah melihat anak kecil yang sedang menemukan lapangan bermain tanpa batas. Ekspresi seni, berkumpul, berserikat, mengemukakan pendapat di Indonesia sejauh ini dijamin oleh Undang-undang dan relatif tidak seketat di negara lain semisal Afghanistan yang untuk sekedar membuat karya seni lukis seorang seniman harus sembunyi-sembunyi dari aparat bahkan memerlukan untuk eksodus ke luar negeri.

Desa mawa cara, negara mawa tata. Di Indonesia hal demikian relatif masih longgar meskipun dalam hal-hal isu sensitif terlebih ketika seni digunakan sebagai media kritik-kontrol sosial, perlawanan, dan juga kritik kekuasaan kerap pula negara turut campur tangan melalui tangan-tangan tak terlihatnya. Realitasnya, hari ini pun masih banyak pameran seni rupa yang dilarang bahkan dibubarkan penyelenggaraannya oleh pihak lain.

 

UKRIDA
Zuri Hotel
Back to Home