Google+
Loading...
DUNIA
Penulis: Saut Martua Amperamen 07:45 WIB | Rabu, 11 Oktober 2017

Catalonia Tunda Deklarasi Kemerdekaan

Presiden Wilayah Regional Catalonia, Charles Puigdemont (Foto: voaindonesia.com)

BARCELONA, SATUHARAPAN.COM - Presiden wilayah Catalonia, Spanyol, Carles Puigdemont, memutuskan untuk meminta parlemen menunda deklarasi kemerdekaan ketika menyampaikan pidatonya yang ditunggu-tunggu di gedung parlemen Catalonia, pada hari Selasa (10/10) malam waktu setempat atau Rabu dini hari di Indonesia.

Penundaan ini merupakan antiklimaks bagi mereka yang pro-kemerdekaan namun menjadi angin segar bagi pemerintah Spanyol, yang sejak awal sudah mendesak Puidgemont membatalkan rencananya.

Dalam pidato yang terlambat sekitar satu jam dari waktu yang dijadwalkan, Puigdemont mengatakan, dia menerima 'mandat rakyat' yang menginginkan Catalonia menjadi sebuah republik sendiri yang terpisah dari Spanyol. Tetapi dia mengusulkan agar Parlemen menunda deklarasi kemerdekaan dan berdialog dengan pemerintah Spanyol dengan mediasi internasional.

Dikutip dari The Guardian, yang melaporkan menit-menit peristiwa yang banyak ditunggu oleh seluruh dunia tentang apa yang akan dilakukan oleh Puigdemont membayar janjinya untuk deklarasi kemerdekaan yang kontroversial, Puigdemont mengatakan dirinya meyakini konflik dengan Spanyol dapat diatasi dengan cara negosiasi.

"Saya ingin mengikuti kehendak rakyat untuk sebuah negara merdeka Catalonia," kata dia, yang disambut tepuk tangan riuh di gedung parlemen.

Namun, ia melanjutkan, "Kita mengajukan untuk menunda deklarasi kemerdekaan untuk mewujudkan hasil referendum. Sekarang kita  menunjukkan tanggung jawab dengan memilih dialog."

Kepada pemerintah Spanyol, Puigdemont mengatakan bahwa dirinya tidak sedang melakukan perlawanan. 

"Kami bukan pelaku kriminal. kami tidak gila. Kami rakyat biasa dan kami hanya ingin memilih. Kami bersedia bicara dan berdialog. Kami tidak melawan Spanyol. Kami ingin memiliki pengertian yang lebih baik dengan Spanyol. Hubungan kurang berlangsung dengan baik selama beberapa tahun ini dan saat ini hal itu tidak berkelanjutan," tutur dia.

Media Spanyol melaporkan Puigdemont meminta penundaan deklarasi kemerdekaan karena CUP, partai radikal pro-kemerdekaan tidak senang dengan kalimat-kalimat yang akan dibacakannya dalam deklarasi kemerdekaan.

Banyak orang yang pro-kemerdekaan kecewa dengan penundaan ini. Tetapi Puigdemont dinilai berhasil membawa dirinya menjadi tokoh sentral di Spanyol saat ini. Dengan menyerukan keterlibatan dunia internasional dalam negosiasi --khususnya Uni Eropa -- Puigdemont telah melangkahi garis batas yang ditetapkan oleh Perdana Menteri Mariano Rajoy.

Puigdemont belum menjelaskan negara Eropa mana yang mendukung dialog yanag diinginkannya. Sementara pemerintah Spanyol sendiri tampaknya tidak menunjukkan minat untuk melakukan dialog.

Deputi Perdana Menteri Spanyol, Soraya Saenz de Santamaria, mengatakan, pidato Puidgemont jelas-jelas menunjukkan bahwa Catalonia sedang kebingungan tentang arahyang hendak dituju. Di sisi lain, ia menuduh Puidgemont telah membawa wilayah itu ke dalam ketidakpastian.

Pidato Puidgemont, menurut dia, adalah pidato dari "seseorang yang tidak tahu sedang berada di mana, mau kemana dan apa yang diinginkan."

Bagi pemerintah Spanyol bila menampik tawaran dialog Catalonia, ada dua opsi. Pertama, Spanyol akan meminta Senat untuk mengizinkan Perdana Menteri mengambil alih kekuasaan ata daerah otonomi Catalonia.

Kedua, membiarkan pemerintahan separatis Catalonia tetap memerintah dalam kebingungan, di tengah guncangan ekonomi akibat semakin banyaknya perusahaan yang meninggalkan wilayah tersebut.

Namun, seorang jurubicara pemerintah Catalonia mengatakan upaya dialog sedang berjalan, tanpa mengungkapkan rinciannya.
Sementara itu, para pendukung pro-kemerdekaan yang telah memberikan suara dalam referendum pekan lalu, tidak tinggal diam. Mereka bertekad akan terus mewujudkan kemerdekaan.

Editor : Eben E. Siadari

Back to Home