Google+
Loading...
INSPIRASI
Penulis: Julianus Mojau 04:38 WIB | Senin, 17 April 2017

Cawan Kepahitan Allah Daun Pepaya

Cawan kehidupan memang pahit!
Daun Pepaya (foto: istimewa)

SATUHARAPAN.COM – Iman Kristen berpusat kepada Allah dalam Yesus Kristus. Iman itu konkret, bukan hasil penalaran spekulatif kaum perenialis.  Penghayatan iman seperti inilah yang membuat Pascal berkata, ”Allah sebagaimana penghayatan iman Kristen adalah Allah Abraham, Ishak, dan Yakub”.

Sebagai bukan hasil penalaran spekulatif, Luther tiba pada penghayatan bahwa Allah dalam Yesus Kristus bukanlah Allah yang Mahakuasa sebagaimana kategori teologi kemuliaan (theologia gloriae) abad pertengahan. Teologi yang mengajarkan Allah yang Mahakuasa sebagai pembenaran terhadap kekuasaan hegemonis, sebagai hasil konsensional kekuasaan hegemonis Empirium Romawi dan kekuasaan hegemonis agama Kristen, untuk menundukkan manusia hanya sebagai komoditas modal sosial kekuasaan yang menindas dan memperbudak! Modal sosial untuk melanggengkan kekuasaan yang koruptif!

Pada awal abad ke-21 ini kecenderungan iman seperti abad pertengahan itu seakan-akan berulang kembali. Di tengah-tengah globalisasi ekonomi dan politik masa kini kita kembali disuguhkan oleh media, baik cetak maupun elektronik, bentuk lain dari theologia gloriae itu seperti nyata dalam semangat teologi sukses—teologi yang menjadikan Allah dan kemahakuasaan Allah sebagai komoditas politik dan bisnis.

Sejatinya, hal ini tidak lain dari penyangkalan terhadap Allah yang historis, Allah yang berpeluh dengan kepahitan hidup manusia sehari-hari. Kepahitan karena ketidakadilan ekonomi dan politik. Kepahitan karena rasa takut akibat teror. Sesungguhnya, mereka yang melakukan ketidakadilan dan teror itu telah kehilangan penghayatan iman kepada Allah kepahitan kehidupan sehari-hari. Mereka telah kehilangan pengalaman bersama Allah sebagai Allah Daun Pepaya! Yaitu: Allah dari dan bersama kepahitan hidup umat manusia, citra-Nya sendiri!

Menghayati Allah seperti ini akan memampukan iman kita menjadi iman emansipatoris: mengubah sikap hati dan pikiran koruptif yang merugikan orang lain menjadi sikap hati dan pikiran yang kreatif dan inovatif! Karena Allah Daun Pepaya  bukanlah Allah yang mengidolasasi  penderitaan sebagai akibat dari  kemiskinan dan ketidakadilan serta teror. Ia juga bukan Allah dolorisme: Allah yang menikmati penderitaan manusia! Baik karena penderitaan yang disebabkan oleh ketidakadilan dan teror maupun penderitaan yang disebabkan oleh kemiskinan karena ketidakkreatifan dan ketidakinovatifan!

Allah Daun Pepaya itulah yang nyata melalui peristiwa Salib Kristus. Salib Kristus adalah manifestasi dari kehadiran Allah Daun Pepaya itu. Ia hadir sebagai Allah yang mendatangkan kepahitan hidup karena dosa individual dan struktural. Ia mengalami kepahitan dalam diri-Nya sendiri. Oleh keyakinan inilah, Kitamori tiba pada pembacaan emansipatoris peristiwa tragis dan memulihkan yang pernah dialami bangsa Jepang pada saat perang dunia kedua. Dan penghayatan seperti itu jugalah yang memampukan Koyama boleh berefleksi kemahakuasaan Allah sebagai ketidakmahakuasaan dari dan bersama para petani Thailand.

Kiranya,  dalam konteks ke-Indonesia-an kita hari-hari ini, penghayatan iman Kristiani akan peristiwa penyaliban Kristus Yesus memampukan kita mengalami Allah Daun Pelaya! Allah penuh kepahitan  yang mengemansipasi kesadaran kebangsaan ke-Indonesia-an kita sebagai kesadaran kebangsaan yang mengemansipasi hati dan pikiran kita menjadi kewarganaan Indonesia yang kreatif dan inovatif dengan menjunjung tetap tinggi perbedaan-perbedaandi antara  kita sebagai sesama citra Allah!

Kecakapan kita menghargai perbedaan-perbedaan kita adalah ujud dari iman kita yang secara setia menghayati dan mengalami kehadiran paradoksal Allah Daun Pepaya sebagai Allah yang merangkul perbedaan: menyakitkan tetapi menyelamatkan! Itulah makna cawan kehidupan yang sedang kita rayakan tahun ini!

Cawan kehidupan ini memang pahit! Tetapi, oleh kasih Allah dalam Kristus Yesus, kepahitan cawan kehidupan ini menjadi cawan kehidupan yang menyembuhkan luka-luka hati, pikiran, dan batin kita!

 

Email: inspirasi@satuharapan.com

Editor : Yoel M Indrasmoro

Back to Home