Loading...
BUDAYA
Penulis: Moh. Jauhar al-Hakimi 02:30 WIB | Kamis, 08 Juni 2017

CinemadaMare Gelar Workshop International Film Dokumenter di Yogyakarta

Dekan Fakultas Film dan Televisi Institut Kesenian Jakarta RB Armantono memberikan sambutan dalam jumpa pers International Documentary Film Workshop 2017 di Pendopo Dinas Kebudayaan Pemda DI Yogyakarta, Rabu (7/6). (Foto: Moh. Jauhar al-Hakimi)

YOGYAKARTA, SATUHARAPAN.COM - Bekerjasama dengan Fakultas Film dan Televisi (FFTV) Institut Kesenian Jakarta, CinemadaMare, sebuah organisasi yang memiliki program reguler mempertemukan filmmaker dari berbagai negara dalam  setiap tahunnya, membuat kegiatan International Documentary Film Workshop (IDFW) dengan tema Java: Tradition and Creativity di Indonesia. Dengan tema tersebut, FFTV IKJ memilih Jakarta dan Yogyakarta sebagai tempat workshop yang berlangsung 5-16 Juni 2017.

CinemadaMare 2017 menghadirkan 10 filmmaker dari delapan negara yakni Kolombia, Rusia, Bulgaria, Spanyol, Portugal, Italia, Singapura, dan Hongkong. Program IFDW terbagi menjadi dua yaitu masterclass yang dihelat selama 5-6 Juni 2017 di FFTV-IKJ dimana peserta workshop diberikan pengetahuan tentang teori pendekatan dokumenter di Indonesia. Masterclass menghadirkan narasumber Nan Triveni Achnas (sutradara), Sardono W Kusumo (koreografer), Yudi Datau (sinematografis), Gerzon R Ayawaila (dosen-pembuat film dokumenter), IGP Wiranegara (filmmaker dokumenter).

Program kedua adalah workshop pembuatan film di wilayah Yogyakarta selama 7-15 Juni 2017. Selama workshop di Yogyakarta melibatkan mahasiswa dari FFTV IKJ dan mahasiswa dari Fakultas Seni Media ISI Yogyakarta untuk berkolaborasi membuat film dengan tema tersebut. Selama di Yogyakarta peserta workshop akan dipandu oleh beberapa pelaku seni diantaranya seniman-perupa Ong Hari Wahyu dan budayawan pemilik Tembi Rumab Budaya Ons Untoro untuk menggali dan mempertajam tema dalam karya mereka.

Manajer program IFDW Naswan Iskandar kepada satuharapan.com Rabu (7/2), menjelaskan bahwa peserta workshop diberikan kebebasan merespon tema dalam perspektif dan sudut pengambilan. Pada titik ini Naswan melihat bahwa hasil karya workshop pembuatan film menjadi penting bagi promosi dan diplomasi budaya sehingga selama workshop mereka akan didampingi dan dipandu oleh mentor-narasumber lokal agar peserta workshop bisa mendapat materi yang pas dengan tema tanpa harus membelenggu kreativitas dalam berkaryanya.

"Film adalah alat diplomasi bagi politik kebudayaan Indonesia dan kerjasama-kerjasama bilateral (yang dijalin) itu tidak harus government to government. Kerjasama yang kami pikirkan antara sesama kreator (pembuat film) adalah people to people. Pembuat film dengan pembuat film saling bertemu, dan mereka sebagai alat diplomasi bagi kita yang cukup ampuh. Selain itu juga memberikan peluang bagi mereka untuk terus berhubungan hingga mereka sama-sama tumbuh dan besar di negara masing-masing dan mereka terus bekerjasama kemudian mengembangkan diri masing-masing." kata Naswan.

Wakil Dekan bidang Kerjasama FTTV-IKJ yang sekaligus bertindak sebagai penanggung jawab IDFW Suryana Paramita kepada satuharapan.com saat ditemui pada acara jumpa pers di Pendopo Dinas Kebudayaan Pemda DI Yogyakarta Rabu (7/2) sore, menjelaskan bahwa CinemadaMare adalah tempat berkumpulnya para pembuat film dari berbagai negara dengan latar belakang pendidikan yang beragam melengkapi pengetahuan mereka dalam membuat film.

Kegiatan CinemadaMare beragam mulai dari workshop hingga sharing dari filmmaker profesional yang memberikan materi dengan mengajak peserta jalan-jalan (orientasi kondisi lapangangan) di tempat penyelenggaraan CinemadaMare dan selanjutnya peserta diwajibkan membuat karya film.

"Setelah banyak karya film selesai dibuat, dipilih yang terbaik dan film terpilih mendapat reward untuk digunakan membuat film lagi secara bersama-sama. Tahun ini dipilih Indonesia sebagai tuan rumah CinemadaMare." jelas Suryana.

Lebih lanjut Suryana menjelaskan bahwa keterlibatan filmmaker dari Indonesia pada CinemadaMare dimulai sejak tahun 2005 melalui korespondensi secara individu mahasiswa FFTV-IKJ pembuat film dari Indonesia yang kemudian diminta untuk mengirimkan karya filmnya ke panitia CinemadaMare. Sejak itu Indonesia mulai dikenal dan menjadi salah satu negara yang cukup aktif membuat karya film dalam CinemadaMare. CinemadaMare sendiri dimulai pada tahun 2003 di negara asalnya Italia dan hingga tahun 2017 telah menghelat CinemadaMare sebanyak lima belas kali penyelenggaraan berpindah-pindah tempat penyelenggaraan.

"Dari yang dilakukan mahasiswa FFTV-IKJ (yang berkoresponden dan mengirim karya film) akhirnya Indonesia dimasukkan dalam list CinemadaMare untuk diajak kerjasama. Di beberapa negara CinemadaMare sudah membuat kerjasama dengan sekolah-sekolah film. Program IFDW kali ini, rencananya akan dibuat lima karya film." kata Suryana Paramita.

 


BPK Penabur
Gaia Cosmo Hotel
Kampus Maranatha
Back to Home