Loading...
INSPIRASI
Penulis: Endang Setyomurti 15:14 WIB | Kamis, 30 Juli 2015

Ciptakan Budaya Ramah Anak!

Anak berhak mendapatkan makanan bergizi.
Anak berhak dikasihi (foto: istimewa)

SATUHARAPAN.COM – Pangan adalah kebutuhan primer yang harus dipenuhi bagi keberlangsungan hidup seorang anak. Namun, sering kali karena berbagai faktor yang menyekitari, maka seorang anak dalam sebuah keluarga tidak mendapatkan makanan sesuai dengan kebutuhannya.

Ketika pemerintah dalam peringatan Hari Anak Nasional Nasional 2015 mengangkat tema ”Wujudkan Lingkungan dan Keluarga Ramah Anak”, ternyata kita dihadapkan pada kenyataan yang sangat memprihatinkan yaitu tentang budaya patriarkat yang masih banyak kita jumpai di berbagai tempat di Indonesia yang menimbulkan diskriminasi dalam pembagian makanan yang membawa akibat  gizi buruk bagi  anak-anak dan juga ibu dalam keluarga.

”Keluarga biasanya memberikan porsi besar kepada para suami. Anak-anak mendapatkan sisa makanan dari bapak-bapak. Artinya, porsi yang seharusnya diberikan kepada anak-anak kadang-kadang kurang diperhatikan, yang lebih diutamakan adalah orang tuanya,” kata Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Timor Tengah Utara, Dery Fernandez. Ditambahkannya, pada tahun ini 106 balita di Kabupaten Timor Tengah Utara menderita gizi buruk dan sebagian besar dari mereka telah pulih setelah diberi makanan tambahan selama tempo 90 hari.

Itulah data yang  disampaikan pihak pemerintah  di NTT ketika menyampaikan kondisi kekurangan pangan di daerahnya akibat kekeringan karena kemarau, dan juga masih adanya budaya  yang menjadi penyebab  dari kondisi gizi buruk pada anak-anak di daerah itu. Budaya patriarki rupanya masih memengaruhi bagaimana seorang anak  memperoleh makanan dalam sebuah keluarga.

Apabila kondisi ekonomi keluarga cukup baik, jatah makanan yang diterima ibu dan anak tidak menjadi persoalan. Namun, jika sebuah keluarga miskin, sepotong ikan yang seharusnya diberikan kepada anak malah diberikan kepada Sang Bapak.

Peringatan Hari Anak Nasional menegaskan akan hak anak yang harus dipenuhi, terlebih akan kebutuhan dasar yaitu pangan dengan gizi yang baik. Selayaknyalah ada upaya terus-menerus untuk saling  menyadarkan sehingga pengaruh budaya diskriminatif—yang masih berakar di masyarakat—tidak berpengaruh buruk bagi perkembangan anak-anak yang menjadi masa depan Indonesia.

Mari ciptakan budaya ramah bagi anak!

 

Editor: ymindrasmoro

Email: inspirasi@satuharapan.com


BPK Penabur
Gaia Cosmo Hotel
Kampus Maranatha
Back to Home