Google+
Loading...
INDONESIA
Penulis: Reporter Satuharapan 11:50 WIB | Selasa, 11 Juni 2019

Dampak Luas Pascabanjir di Sulawesi Tenggara

Ilustrasi. Banjir di Sulawesi Tenggara. (Foto: Antara/Jojon)

JAKARTA, SATUHARAPAN.COM – Curah hujan dengan intensitas tinggi memicu banjir di beberapa wilayah Sulawesi pada awal Juni 2019. Puluhan ribu warga terdampak karena banjir di wilayah tersebut hingga hari Senin (10/6) ini.

Siaran pers yang disampaikan Sutopo Purwo Nugroho, Kepala Pusat Data, Informasi dan Humas Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), menyebutkan sejumlah kabupaten terdampak banjir di Provinsi Sulawesi Selatan, Sulawesi Tenggara, dan Sulawesi Tengah. Bencana di beberapa provinsi tersebut menyebabkan puluhan ribu warga mengungsi dan kerusakan pada sektor permukiman, pertanian, perikanan, serta fasilitas umum.  

Perkembangan situasi per 9 Juni 2019, banjir di Kabupaten Konawe Utara, Provinsi Sulawesi Tenggara mengakibatkan 1.091 kekuarga atau 4.198 jiwa mengungsi. Enam kecamatan terimbas banjir adalah Andowia, Asera, Oheo, Landawe, Langgikima, dan Wiwirano.

Kecamatan Asera merupakan kecamatan dengan jumlah desa terdampak paling tinggi, yaitu 13 desa. Banjir ini juga mengakibatkan 72 rumah hanyut dan ribuan lain terendam.

Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Konawe Utara masih mendata di lapangan. Kerusakan sektor pertanian mencakup lahan sawah 970,3 ha, lahan jagung 83,5 ha, dan lainnya 11 ha, sedangkan sektor perikanan pada tambak seluas 420 ha.

Di samping itu, kerusakan fasilitas umum teridentfikasi berupa jembatan, jalan, rumah ibadah, dan fasilitas kesehatan. BPBD setempat melaporkan jembatan penghubung Desa Laronanga ke Desa Puwonua hanyut. Jembatan lain di Desa Padalerutama tidak dapat dilalui karena terendam banjir, jembatan putus yang menghubungkan Desa Tanggulari ke Desa Tapuwatu dan jembatan antarprovinsi di Asera. Kerusakan bangunan lain berupa masjid 3 unit, puskesmas 2 unit, dan puskesmas pembantu 2 unit.

Merespons kondisi di wilayahnya, Bupati Konawe Utara telah menetapkan status tanggap darurat terhitung 2 Juni 2019 hingga 16 Juni 2019. Upaya penanganan darurat yang telah dilakukan antara lain pengoperasian pos komando penanganan darurat banjir yang berada di rumah jabatan bupati, evakuasi dan penyelamatan, penanganan warga terdampak, pendataan serta pengaktifan jaringan komunikasi untuk penanganan darurat.

Menurut BPBD, arus aliran air masih deras sehingga penggunaan sampan mesin tidak dapat menjangkau wilayah terisolasi. Selain itu, minim peralatan untuk membantu evakuasi dan penyelamatan di lapangan. 

Sementara itu, masih di Provinsi Sulawesi Tenggara, beberapa wilayah terdampak di Kabupaten Konawe. Banjir yang juga dipicu oleh curah hujan tinggi mengakibatkan 36 jiwa mengungsi dan 240 terdampak. Bupati setempat telah menetapkan status tanggap darurat terhitung 5 Juni hingga 11 Juni 2019.

BPBD Kabupaten Konawe telah melakukan upaya penanganan darurat dan pendataan lapangan. BPBD melaporkan 1 orang meninggal, yaitu bayi berusia 4 hari, pada kejadian itu. Namun demikian, BNPB masih membutuhkan klarifikasi lebih lanjut penyebab kematian bayi tersebut.

Untuk mempercepat pengiriman bantuan logistik BNPN mengirimkan bantuan logistik menggggunakan pesawat cargo. BNPB mengirim bantuan langsung ke Kendari logistik seberat 1.086 kg senilai Rp 218 juta. BNPB juga mengaktivasi klaster logistik sehingga mengirimkan bantuan dari Kemensos dan PMI berupa family fit 200 kg, hygiene kit 200 kg, baby kit 200 kg, selimut 400 lembar jas hujan 100 lembar, rompi 100 unit dan matras 100 lembar.

Untuk distributsi ke titik pengungsi dilakukan dengan bantuan helikopter BNPB.

Sulawesi Selatan

Sedangkan banjir di Sulawesi Selatan, korban jiwa berdampak pada 1.452 keluarga, Kelurahan Tanru Tedong 1.002 keluarga dan Desa Salobukkang 450 keluarga. Sejumlah 200 unit rumah terendam. Total lahan sawah rusak di 15 desa mencapai 3.676 ha. Kerusakan infrastruktur mencakup bangunan sekolah, tanggul, jalan, dan jembatan.

Bencana banjir lainnya di Sulawesi Tengah, BPBD Kabuapten Morowali telah melakukan upaya penanganan darurat. Banjir menyebabkan 561 keluarga di Desa Lele (263 keluarga) dan Dampala (298 keluarga) mengungsi. Pascabanjir, kerusakan materiil teridentifikasi rumah rusak berat 7 unit, rumah terendam 45 unit, dan jembatan putus 1 unit.

Kepala BNPB, Doni Monardo, mengatakan kepada seluruh jajaran penanggulangan bencana, “Meski dalam suasana lebaran kita langsung turun ke lapangan membantu masyarakat yang terkena bencana. Kita semua paham bagaimana menderitanya mereka. Di saat saudara kita bersuka cita merayakan lebaran, ada sebagian yang menderita karena ada anggota keluarga yang meninggal dunia, luka-luka, rumahnya hanyut, rusak berat dan lainnya.”

“Dengan semangat gotong-royong dan kemanusiaan kita turun ke lapangan membantu mereka. Kita adalah pejuang kemanusiaan yang sangat mulia. Kita selalu tunjukkan negara selalu hadir di tengh masyarakat. Saya juga telah memerintakan kepada semua jajaran BNPB dan BPBD untuk selalu turun ke lapangan menangani bencana,” ia menegaskan.

Potensi Curah Hujan Tinggi 11 - 15 Juni 

Intensitas hujan tinggi yang menyebakan banjir ini telah diprediksikan karena fenomena aktivitas gelombang atmosfer Madden Julian Oscillation (MJO) yang memasuki wilayah Samudera Hindia. BMKG memprakirakan 1 – 5 Juni 2019 potensi hujan lebat di beberapa wilayah, antara lain di wilayah Sulawesi.

BMKG juga telah menginformasikan terkait potensi curah hujan tinggi hingga 5 hari ke depan, 11 – 15 Juni 2019. Wilayah-wilayah dengan potensi hujan lebat pada periode tersebut antara lain Sumatera Barat, Bengkulu, Bangka Belitung, Kalimantan Utara, Kalimantan Timur, Kalimantan Tengah, Sulawesi Selatan, Sulawesi Utara, Gorontalo, Sulawesi Barat, Sulawesi Tengah, Sulawesi Tenggara, Maluku Utara, Maluku, Papua Barat, dan Papua.

Merespons bencana yang terjadi di beberapa wilayah tersebut, Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) terus melakukan pemantauan dan pengiriman tim reaksi cepat ke lapangan. Bantuan dana siap pakai juga telah diberikan kepada pemerintah daerah. BNPB mengimbau BPBD untuk selalu siaga dalam menghadapi fenomena cuaca tersebut.

 

TOA
Bank Central Asia
Zuri Hotel
Back to Home